
Malam kian larut, akan tetapi tidak ada tanda-tanda kepulangan seorang pria yang sejak sore dia tunggu dengan sabar. Kali ini kesabarannya sudah sampai di ujung batas. Wanita yang masih setia mondar-mandir di depan sebuah mansion besar yang di jaga ketat oleh puluhan pengawal itu, merogoh saku piama yang di gunakan.
Dari sana dia mengeluarkan sebuah benda pipih yang berguna untuk menghubungi siapapun yang di kehendaki. Tangan mungilnya dengan cekatan memencet sebuah nomor yang dia beri nama 'Papa Ahel', begitu sudah menemukan nomor sang suami, dia buru-buru memencet gagang telfon untuk menyambungkan kedua ponsel pintar itu.
Hingga nada sambung berakhir, akan tetapi telfon tak kunjung tersambung. Beberapa kali wanita cantik itu mencoba menghubungi kembali nomor suami tercintanya itu dengan menggerutu kesal. Tidak biasanya sang suami mengabaikan telfon darinya, atau memang saat ini Reiner masih saja kesal padanya? Hingga laki-laki itu enggan untuk pulang ataupun hanya sekedar memberi kabar.
"Argh!" kesal, Imel menarik guci besar yang ada di sampingnya hingga terjatuh dan hancur.
Ketika melihat istri dari pimpinannya sekarang tengah mengamuk, beberapa penjaga hanya bisa memandangi wanita itu menghancurkan beberapa barang yang ada di sekelilingnya tanpa berani mendekat.
Sedangkan dua orang yang saat ini sedang berjalan turun dari tangga seketika berlari keluar dari mansion besar miliknya. Mereka mengira ada penyerangan di mansion utama, tetapi nyatanya saat mereka sampai di luar. Mereka hanya melihat sang menantu tengah mengamuk.
Wanita paruh baya yang menggunakan piyama berwarna peach itu berlari mendekat lalu menarik wanita yang sedang mengamuk itu ke dalam dekapannya. Bukannya marah karena dia menghancurkan barang-barang mahal yang ada di sana, melainkan mereka mengkhawatirkan sang menantu yang terlihat tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Mami Jane dengan lembut.
Tangan kanan wanita paruh baya itu dengan perlahan mengusap puncak kepala sang menantu. Sedangkan tangan kirinya mengelus punggung bergetar menantu yang sudah memberinya satu Princes itu.
Imel yang awalnya tengah menangis di bahu mertuanya itu kini mendongak, menatap netra yang begitu menenangkan itu. Detik berikutnya, Imel kembali masuk ke dekapan hangat sang mertua.
"Rei, Mam."
"Reiner kenapa?" tanya Papi Adit menyela.
"Papi," cegah Mami Jane agar suaminya itu tidak lagi melanjutkan ucapannya.
"Rei tidak membalas pesanku sejak sore tadi, Mam. Aku telfon juga tidak di angkat, tidak biasanya papanya Ahel seperti itu." Imel melepas pelukan dan menyeka air mata yang sejak tadi berderai di pipinya.
__ADS_1
Mendengar pengakuan dari sang menantu, Papi Adit hanya mendengus kesal. Imel salah kalau menghawatirkan Manusia monster seperti Reiner. Untuk menghilangkan rasa kesalnya, pria paruh baya itu mendekati sang menantu lalu menepuk pundak bergetar itu dua kali sebelum akhirnya melangkah masuk.
"Kamu tenang, Sayang. Rei pasti baik-baik saja," ucap Mami Jane menenangkan.
"Lebih baik, kamu tidur. Temani putri kecil kesayangan kalian!" perintah Mami Jane yang tidak suka jika menantunya itu mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan, hal itu dapat mempengaruhi kinerja otaknya sendiri.
"T-tapi, Mam. A-apakah Reiner akan menceraikan Imel?" tanya Imel dengan gugup.
Mami Jane hanya mengerutkan kedua alisnya, karena bingung dengan apa yang di bicarakan oleh sang menantunya itu.
"Rei punya alasan apa untuk menggugat kamu?"
Bersambung...
__ADS_1
Hai, Kak. Kuy mampir ke karya temanku juga.