Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Keterpurukan Aldev


__ADS_3

Ara mencubit pinggang Syifana karene gemas dengan pertanyaan absurt gadis remaja di sampingnya.


Bagaimana bisa, anak remaja sudah bicara tentang hal segila itu. Hal yang bahkan Arapun belum terpikirkan.


"Aaw, Kak Ara, kenapa malah mencubit?" pekik Syifana, dia mengaduh kesakitan dengan cubitan maut sang kakak ipar. "sakit, tau, kak. Kalau dagingku tercuil gimana?" Gadis itu melanjutkan guyonannya.


"Makanya, jangan bicara sembarangan. Syifa masih kecil, belum saatnya mengerti tentang itu," Ara menasehati adik iparnya sembari menuang air hangat dari termos air.


"Ya maaf, Syifa 'kan, hanya ingin cepat dapat keponakan, Kakak tahu sendiri. Syifa anak bungsu," Gadis itu memanyunkan bibirnya tanda merajuk.


Ara meraup bibir Syifana yang maju lima centi, kemudian pura pura membuangnya ke tempat sampah.


"Kamu tidak cocok, merajuk seperti itu !" Ara menertawakan adik iparnya itu, membuat Syifa semakin merajuk.


"Kakak, tidak asik ! Syifana ngambek ya," Seloroh gadis remaja itu.


"Ha-Ha, Syifana, Sayang !" Ara memeluk adik iparnya dengan sayang. "jangan ngambek dong, kakak ajakin shoping, mau?" bujuk Ara seraga bergelanjut manja di pundak Syifana.


"Traktir, ya?" Gadis itu balik merayu kakak iparnya.


Ara melepas pelukannya dan beralih mengaduk teh yang di buatnya.


"Iya dong, semua yang Syifa mau, pasti kak Ara belikan. Kak Ara juga mau beli mukenah," Ara menyampaikan tujuannya shoping.


"Kak Ara, memang terbaik," Gadis itu memeluk kembali kakak iparnya.


"Kak Ara, sayang banget, sama syifa !" Ara balas memeluk Syifa seraya mengelus rambut gadis itu.


"Udah, yuk, ke depan. Tehnya keburu dingin, kalau kita ngobrol terus," Ara membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat di ikuti Syifa berjalan di belakangnya.


Ara meletakkan teh hangat yang di bawanya, di depan kedua mertuanya. Ara merasa heran, kenapa mereka diam saat Ara dan Syifa datang. Padahal sebelumnya, mereka terlihat berbincang dengan santai.


"Kenapa diam semua?" Ara mengajukan pertanyaan pada keempat orang yang sedang duduk di sofa.


"Tidak apa-apa, Moon," jawab Ali singkat, dia sangat tidak nyaman dengan pembahasan mereka tentang keturunan.

__ADS_1


Ara mendudukkan dirinya di samping sang suami, di ikuti Syifana yang meringsek Ara, membuat Ara semakin berdekatan dengan Ali.


"Kak, pengantin baru itu, harus lebih mesra. Kenapa berjauhan?" tanya gadis remaja itu.


"Ya ampun syif, Kakak tidak perlu mengumbar kemesraan di depan umum. Apalagi ada anak di bawah umur, seperti kamu ini," Ali menyentuh hidung Syifa, tangannya yang melewati wajah Ara, tanpa sengaja menyenggol pipi Ara, saat dia menarik tangannya.


Ara terkejut, karena ini pertama kalinya mereka bersentuhan secara sadar, walau tidak di sengaja.


Ali merasa canggung, tidak enak dengan Ara karena menyentuhnya tanpa izin. Hal itu membuat Ali salah tingkah, dan kejadian itu tidak luput dari perhatian gadis remaja di samping Ara.


"Cie, Abang, pengen sentuh bini aja. Pake acara lewat Syifa dulu," Gadis remaja itu memang memiliki hobi menggoda kakaknya. "perlu, Abang tahu ya, Syifa sudah bukan anak di bawah umur, tahu !" Gadis itu membantah ucapan sang kakak, yang mengatakan dirinya masih di bawah umur.


"Iya, iya, yang udah gede. Abang minta maaf deh, tapi jangan godain kak Ara. Kasian tuh, pipinya jadi merah," Ali melempar candaan kepada Ara, membuat gadis yang sudah sah menjadi istri itu merasa lebih malu lagi.


Melihat Ara justru menunduk, Syifana menyenggol kakaknya itu. Hobinya sekarang bertambah, dari menggoda Abang Ali, sekarang suka menggoda Kak Ara.


"Kak Ara, kenapa menunduk? Malu ya?" Syifana menarik tangan Ara untuk di genggam. "Kak Ara, gosah malu-malu. Nanti, Bang Ali makin cinta," Gadis remaja itu, semakin gencar menggoda Ara.


"Syifa, jangan seperti itu ! Kasian Kak Ara, kamu jahil banget, sih," Lerai Ibu Salma pada anak bungsunya.


"He-he, iya Ayah, Ibu, maaf, Kak Ara tidak marah 'kan?" Gadis itu menatap Ara dengan tatapan memohon.


"Tidak, Syif, Kak Ara tidak marah kok. Syifa jadi ikut Kak Ara belanja 'kan?" tanya Ara memastikan.


"Jadi, yang antar Bang Ali 'kan?" Gadis itu beralih menatap sang kakak.


"Iya, Abang yang antar, tapi, Syifa tidak boleh nakal !" Ali mengancam sang adik agar tidak membuat onar.


"Oke, Syifa akan diam." Pura-pura mengunci mulutnya dan membuangnya menjauh.


"Syifa, kalau ikut Kak Ara, Jangan aneh-aneh ya?" suara Ibu Salma memberi peringatan pada putri bungsunya. Gadis itu biasanya memang suka pecicilan dan tidak boleh lepas dari pengawasan.


"Tenang Bu, Ali akan mengikat Syifa agar tidak kabur-kaburan,"


*****

__ADS_1


Di tempat lain, Seorang pria masih meringkuk di ranjang Big Size miliknya. Pria itu begitu depresi karena gagal mendapatkan gadis pujaannya.


"Kenapa malah menikah dengan orang lain, Ara? Apa cintaku masih kurang !" Pria itu menjerit, dia tetap menginginkan Ara menjadi miliknya.


"Tuan, kendalikan diri anda ! Jangan larut dalam kegagalan. Tuan harus melakukan sesuatu untuk mewujudkannya," ujar Andri.


Suara langkah kaki mendekat, dari suaranya. Bisa di pastikan orang itu berjalan dengan tergesa-gesa.


"Aldev, kamu kenapa, Sayang?" Suara seseorang dari belakang, membuat Andri menoleh, di lihatnya Nyonya besar bersama Jonathan datang dengan tatapan penuh dendam.


"Nyonya Seren," Sapa Andri menundukkan kepalanya.


"Aldev kenapa? Andri !" Nyonya Seren bertanya dengan membentak Andri.


"Tuan Muda, di tolak oleh Nona Ara. Nyonya," Andri memberi tahu alasan Aldev jadi seperti itu. Aldev yang mempunyai toleransi terhadap Alkohol, kali ini justru hilang kendali.


"Wanita itu lagi?" Nyonya Seren membalikkan badannya dan pergi dari sana. Percuma juga meladeni Aldev yang dalam keadaan seperti itu.


"Kenapa kau membawanya? Bod*h !" Andri menatap tidak suka dengan ulah Jonathan kali ini.


"Dia datang sendiri, aku mana mau membawa wanita itu !" Jonathan menjawab dan berlalu meninggalkan Andri bersama dengan Aldev yang masih Asik meracau tidak jelas.


"Tuan, Ayolah. Tuan Aldev bukan laki-laki lemah ! Kenapa malah seperti ini hanya karena wanita?" Andri tetap berbicara meskipun dia tau. Percuma menasehati orang yang hilang kesadaran.


Tiba-tiba dari arah belakang, Andri di kejutkan dengan kedatangan seorang pria paruh baya yang dengan keras melayangkan bogeman pada tubuh Tuan Mudanya. Namun, saat melihat siapa pelakunya. Andri hanya bisa diam tanpa berani melawan.


"Kau lemah sekali, Aldev ! Selemah inikah penerus Wild Wolf, Kau membuatku kecewa. Aldev !" Pria paruh baya itu kembali melayangkan pukulannya di rahang Aldev.


BERSAMBUNG...


Aku mau ucapin terima kasih untuk kalian ya g udah dukung karyaku. Sehingga dengan mudah bisa langsung terkontrak dalam waktu cepat. Jangan tinggalkan aku ya gays. Temani aku berhalu,, Oke kan? Mau kan?


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_

__ADS_1


__ADS_2