
Setelah berhasil menenangkan sang istri Ali memutuskan untuk menemui Reiner di perusahaan kakak iparnya tersebut. Dia ingin meminta pendapat serta saran untuk menghadapi mood kehamilan sang istri.
"Kalau menurutku Li, kau sebagai suami yang istrinya tengah hamil, kau lebih fokuslah pada keadaan Ara. Dia tidak sendiri saat ini, ada dua janin yang juga perlu di perhatikan. Kalau tentang kau ingin belajar beladiri, itu bisa kau undur setelah Ara melahirkan. Aku yang akan menjamin keamanan kalian, percayalah. Aku menyayangi adik serta calon keponakanku," tutur Reiner memberi saran.
"Tapi, kalau Ara kembali membandingkan aku dengan Dean bagaimana?" tanya Ali menahan malu.
Si kakak ipar tersenyum tipis dengan gelengan kepala pelan. "Kau tahu, Li. Bagaimana perjuangan Ara untuk mendapatkan kamu. Tidak perlu merasa cemburu pada Dean. Ara bahkan sudah menganggap bocah remaja itu sebagai adiknya sendiri," ujar Reiner bijaksana.
Ingatan Ali kembali pada saat awal-awal hubungannya dengan Ara. Sebagai seorang pria, dia bahkan sering kali menyakiti hati Ara. Namun, perempuan itu tetap setia padanya.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Kasihan Ara di rumah sendirian," pamitnya kepada si kakak ipar.
"Nanti sore suruhanku akan datang. Biarkan mereka membantu dan menjaga Ara," balas Reiner tanpa bisa di bantah.
__ADS_1
Ali akhirnya kembali ke rumah minimalisnya bersama Ara. Dia tidak mau terlalu lama meninggalkan Ara yang masih terlelap. Akibat terlalu lelah dan lama menangis, perempuan itu sampai tertidur pulas di dekapan sang suami.
Setelah kepergian Ali, Reiner menghubungi beberapa anak buahnya untuk langsung menuju rumah Ara. Dia tidak ingin sang adik sendirian ketika ditinggal kerja oleh suaminya.
"Kalian aku pindah tugaskan untuk menjaga Ace. Aku tidak mau ada seekor semut pun yang mengganggunya," titahnya kepada anak buahnya.
Ali kini telah sampai di rumahnya, pria itu langsung masuk ke dalam kamar untuk memeriksa sang istri yang ternyata masih terlelap. Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat wajah cantik istrinya.
"Aku adalah pria paling beruntung karena bisa mendapatkan kamu, Moon. Maaf karena pernah menjadi suami yang buruk," sesalnya saat mengingat masa lalunya.
"Aku masak apa, yah?" gumamnya seraya memilah bahan masakan.
Berbeda dengan Ali yang sibuk di dapur, Ara baru saja terbangun dari tidurnya. Perempuan itu meraba kasur di sebelahnya. Saat menyadari tidak ada orang disana, kedua matanya terbuka. "Ali dimana?"
__ADS_1
Perempuan itu menurunkan kedua kakinya lalu melangkah keluar dari kamar. Dia turun ke lantai bawah untuk mencari sang suami. Ketika mendengar suara-suara yang berasal dari dapur, dia segera menuju ke tempat itu.
"Ternyata sedang masak. Beruntungnya aku memilikinya," gumam Ara penuh syukur.
Langkah demi langkah secara perlahan Ara semakin dekat dengan suaminya. Pria itu sama sekali tidak menyadari akan kedatangan sang istri. Fokusnya mengolah bahan makanan terganggu saat ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Moon, kamu sudah bangun?" tanya Ali masih melanjutkan kegiatannya.
"Iya, aku bangun karena tidak menemukan kamu dimanapun." Bibirnya mengerucut.
"Kalau aku ikut tidur, kita makan apa nanti?" tanyanya bergurau.
"Makan batu!"
__ADS_1
Suara dari belakang membuat kedua orang itu menoleh seketika. Seseorang berdiri disana dengan bersedekap dada.