
Wanita itu berhenti karena mendengar ucapan Ali, menatap tidak percaya pada kekasihnya yang biasanya selalu menyambutnya dengan bahagia, saat ini justru menjauhinya.
"Kenapa, Beb? Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya wanita itu, dia meneruskan langkahnya mendekat pada ketiga orang yang sedang berdiri di depannya.
"Aku bilang, berhenti ! Jangan mendekat, Cla ! Aku sudah menikah," Ali menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya. Kemudian juga mengangkat tangan Ara untuk menunjukan jika mereka sudah resmi menikah.
"Aku tahu, Beb, bahkan aku yang menyuruhmu untuk menikahi gadis culun itu!" Clarissa menunjuk Ara dengan jarinya dan menatap benci pada gadis berkacamata itu.
Mendengar ucapan wanita yang memanggil suaminya dengan mesra saja sudah membuat Ara tersakiti, dan sekarang, dia harus mendengar jika suaminya menikahi dirinya karena perempuan lain. Entah sehancur apa hati Ara saat ini, Namun, Ara masih bisa menahan rasa perih di hatinya. Dia masih diam mendengarkan obrolan kedua orang itu,
Syifana berpindah tempat, yang awalnya dia ada di samping Ali. Sekarang berada di samping Ara, gadis remaja itu, cukup mengerti dengan kondisi yang terjadi saat ini. Dengan sayang Syifana mengelus dan mendekap Ara ke dalam pelukan.
"Kau bilang apa? Aku menikahi istriku karena wanita rendahan seperti kamu? Jangan Mimpi, Nona Clarissa !" Ali menampik tuduhan yang di layangkan oleh Clarissa. Walaupun awalnya dia menerima Ara karena bujukan Clarissa, tapi pada akhirnya. Ali menikahi Ara karena permintaan keluarganya.
"sebelum bicara, sebaiknya kamu berkaca !" lanjutnya dan segera menggandeng tangan Ara untuk menjauhi wanita g*la seperti Clarissa.
"Beb, Ali ! Jangan berani tinggalin aku. Aku gak akan rela kamu berpindah pada gadis culun itu!" Clarissa berteriak dan menghina Ara.
Ara mengikuti kemana Ali menariknya, Ali tidak perduli dengan teriakan Clarissa yang memanggil namanya. Bagi Ali, dia tidak akan memaafkan kesalahan Clarissa. Walaupun Asila yang menyuruhnya bersama dengan Clarissa.
Hingga sampai di sebuah toko pakaian wanita muslimah. Ali menarik Ara masuk ke dalamnya, mengedarkan pandangan. Mencari barang yang di butuhkan. Seorang pelayan mendekat, dan menanyakan apa yang di cari oleh pelanggannya.
"Tuan, Nona, ada yang bisa saya bantu?" sapa pelayan itu dengan ramah.
"Kami mencari mukena mbak, ada 'kan?" Ali yang mengeluarkan suaranya. Ini pertama kalinya dia menemani wanita belanja, dan bisa se exited itu. Padahal, dulu, saat bersama Clarissa. Ali bisa boring menunggu dan berakhir bertengkar dengan Clarissa.
"Ada, Tuan. Sebentar saya ambilkan," Pelayan itu menjauh, mengambil barang yang di inginkan oleh sang pembeli.
"Bang, tumben !" Suara Syifa mengalihkan fokus Ali yang masih menatap sekeliling. Mencari apa saja yang kiranya cocok untuk di gunakan oleh istrinya.
"Tumben, tumben kenapa?" tanya Ali dengan mengerutkan dahinya.
"Abang tidak pernah, se-semangat ini kalau temani orang shoping. Dan, apa itu? gak bisa lepas dulu gandengannya? Abang mau nyebrang?" Syifana mengajukan pertanyaan beruntun pada sang kakak.
__ADS_1
Sadar dengan ke khilafannya, Ali segera melepaskan tangan Ara dari genggamannya.
"Kenapa nyaman sekali ya, bergandengan dengan Ara?" batin Ali bertanya.
"Nyaman ya bang? Kak Ara 'kan kalem. Tidak seperti si onoh," celoteh Syifana menggoda.
"Apa sih, Dek, kenapa menbahas orang lain?"
"Bang ali, 'kan, dulu ...."
"Sudahlah, Dek, kamu ini jangan membuat Kak Ara berpikir yang aneh-aneh," Ali menasehati Adiknya, dia tahu, adiknya akan membahas wanita tadi.
"Iya, iya..."
"Nona, ini mukenahnya, mau yang mana?" Pelayan datang membawa beberapa model mukena dengan berbagai motif.
Ali yang sibuk memilih, sedangkan Ara masih diam. Dia masih teringat dengan ucapan wanita tadi, jika Ali menikahinya karena permintaan wanita itu.
"E-eh, k-kenapa? ... Sun," Ara bertanya dengan gugup.
"Mau yang mana?" tanya Ali sekali lagi.
"Ini saja," Ara mengambil mukena bermotif sederhana di antara banyaknya motif yang lebih mewah.
"Wah, Kak Ara, tahu sekali selera Abang. Bang Ali kan tidak suka dengan apapun yang bermotif mencolok," ujar Syifana dengan jujur.
"Syifana mau juga?" tawar Ara kepada adik iparnya.
"Tidak, Kak, Syifa mau beli gamis saja. Boleh 'kan Bang?" Syifana beralih pada Ali dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Ali.
"Ayo kak, temani Syifa mencari gamis," Syifana menarik Ara menuju deretan gamis anak remaja incarannya.
Ali berdiri sendirian dan mendekat pada sebuah gaun indah berwarna biru. Kemudian menyentuh dan membayangkan jika gaun itu di pakai oleh seseorang.
__ADS_1
"Mbak, tolong bungkus ini ya," pinta Ali pada pelayan yang ada di sana.
"Baik, Tuan. Silahkan ke kasir,"
Ali membayar gaun indah yang dibelinya, kemudian pergi dari tempat itu. Meninggalkan Istri dan sang adik di toko itu.
"Syifa, nyaman ya pakai baju panjang seperti itu?" tanya Ara ketika Syifana sibuk memilih beberapa lembar gamis yang di inginkan.
"Suka, Syifa nyaman. Kata Ayah, Wanita akan lebih terhormat, jika menutup Aur*tnya. Jadi, Syifa memang lebih nyaman memakai pakaian seperti ini," jawab Syifa menyampaikan nasihat dari Ayah Hendra.
"Jadi, Kak Ara juga harus pakai?" tanya Ara lagi, dia mulai penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh sang adik.
"Boleh kak, tapi jangan memaksa diri. Ayah tidak memaksa Kak Ara untuk menutup Aur*t kak Ara kok. Itu akan jadi tugas Bang Ali untuk membimbing Kak Ara," jelas gadis remaja itu.
"Tugas Danish? Kenapa harus Danish?" tanya Ara sekali lagi.
"Karena Abang, Suami Kakak, dia Imam untuk Kakak dalam menjalani rumah tangga yang baik. Dia yang bertanggung jawab atas semua yang Kak Ara lakukan di dunia ini, kalau Kak Ara sayang sama Abang. Kak Ara harus mulai mendalami tentang ilmu hubungan rumah tangga menurut keyakinan kita," Gadis itu tidak bosan meladeni pertanyaan Ara yang seperti anak kecil.
"Kamu masih kecil, tapi ucapanmu bijaksana sekali Syif. Terima kasih ya, sudah menjelaskan semuanya pada Kakak. Kak Ara akan belajar lebih giat untuk Danish," ucap Ara dengan yakin.
"Lah, ngomong-ngomong tentang Abang, dimana dia? Kok ngilang kak?" Syifana baru menyadari bahwa sang kakak tidak ada di sana.
BERSAMBUNG...
Maaf nih, aku udah update dari kemarin jam 10 malam, tapi lama banget lulus reviewnya. Maaf ya, kak, sambil nunggu boleh mampir ke karyaku yang lain. masih di NT kok,
Aku mau tanya, kalau aku bikin Grup Chat di Noveltoon, apa ada yang mau ikut jadi member?
Sekian dulu ya ,
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
__ADS_1