
Mami Jane keluar dari kamar sang putri dengan senyum mengembang di bibirnya. Masih merasa konyol dengan apa yang ia tanyakan pada putrinya tadi. Seharusnya dia sudah lebih dari paham tentang apa yang ada di leher Ara.
"Ekspresi Ara tadi lucu sekali. Dia pasti merasa malu karena pertanyaanku tadi, ah dasar, Jane! kau ini bodoh sekali. Ara sudah bersuami, jadi wajar saja kalau di tubuhnya terdapat bukti-bukti cinta dari suaminya." Mami Jane menepuk keningnya sendiri.
Wanita paruh baya itu menuruni tangga untuk menemui suami, kakak dan putranya itu. Akan tetapi saat dia sampai di bawah, hanya ada suami dan laki-laki yang sudah dia anggap saudaranya sendiri.
"Lah, Rei mana, Pi?" tanya Mami Jane seraya duduk di samping suaminya.
"Pulang, dia rindu Rachel katanya. Bidadari kecil itu terus-terusan menelfon dan bertanya tentang keberadaan ayahnya," jawab Papi Adit.
Mami Jane mengangguk. "Ya sudah, kita pulang juga sekarang. Mami masih ada sesuatu yang harus di urus," ajaknya kepada suaminya.
Setelah berpamitan mereka segera kembali ke mansion pribadi mereka sendiri. Sejak kepergian Reiner, Imel dan Rachel sudah berpindah ke mansion besar Aditia.
__ADS_1
Begitu sampai di mansion besar itu, mereka turun dan langsung masuk ke dalam hunian mewah kediaman mereka sejak pertama pernikahan dulu. Akan tetapi saat masuk, keadaan mansion sangat sepi tanpa seorangpun di dalamnya. Mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.
"Mi, kamu tadi ketemu Ara bicara apa saja? kamu tidak membahas tentang apa yang sedang aku dan Reiner selidiki kan?"
Mami Jane yang tengah sibuk meletakkan barang-barangnya dan akan mengambil baju ganti, menoleh ke arah sang suami. Wanita cantik itu melangkah mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa empuk berwarna merah.
"Kalau aku beritahu Ara, tidak mungkin dia masih tenang berada di rumah Kak Haris. Aku yakin, Ara pasti akan mencari tahu dan membalas keluarga Rico. Dan aku tidak mungkin membiarkan putriku berhadapan dengan keluarga licik itu!" jawab Mami Jane seraya duduk di samping suaminya memangku beberapa pakaian gantinya sendiri.
"Kamu memang ibu terbaik," bisiknya mesra.
Mami Jane yang mendengar pujian dari suaminya justru langsung melepas tangan yang masih merangkul pundaknya. Dia tidak sebaik itu untuk di labeli dengan predikat ibu terbaik. Nyatanya dia pernah kehilangan putri kandungnya yang tewas dengan tragis akibat kecerobohannya dalam menjaga anak.
"Kalau aku ibu terbaik, kita tidak mungkin kehilangan Cat ...."
__ADS_1
Paham dengan arah pembicaraan istrinya, Papi Adit mendekap sang istri ke dalam pelukannya. Sungguh dia tidak ingin kejadian ini kembali di ungkit. Bukankah mereka sudah sepakat untuk mengiklankan Catrine atas takdir Tuhan?
"Mi, bukankah kamu yang meminta aku untuk tidak mencari tahu pelaku yang sudah membuat kita kehilangan Catrine? kalau kamu bahas lagi, aku pastikan akan mencari pelakunya sampai dapat. Aku sendiri yang akan menghancurkan dia bahkan sampai keturunan-keturunannya!" ancam Papi Adit dengan dendam dari sorot matanya.
Mami Jane kembali melepaskan dekapan hangat suaminya. Dia sangat tidak suka jika sang suami berubah menjadi orang jahat lagi hanya karena dendam.
"Kalau Papi jadi orang jahat lagi, Mami akan pulang ke Korea dan tidak akan pulang ke Indonesia lagi."
Bersambung...
Kak, kuy mampir ke karya temanku lagi. Di jamin syuka deh!
__ADS_1