
Semalam sudah menginap di kediaman sang ayah angkat, pagi harinya Reiner berniat untuk kembali ke mansion pribadinya. Laki-laki itu sudah sangat merindukan istri dan anaknya. Apalagi sang putri sudah sejak semalam menghubunginya dan bertanya kapankah dia akan kembali.
Saat keluar dari kamar yang memang berada persis di samping kamar sang adik. Reiner tiba-tiba memiliki ide untuk menjaili adiknya yang hingga pukul 8 belum juga keluar dari kamar. Laki-laki berparas tampan itu mengetuk pintu kamar sang adik, berharap wanita yang ia sayangi itu keluar dari kamar karena merasa terganggu dengan ketukan brutal yang ia lakukan.
Namun beberapa menit melakukan kegiatannya, sang adik sama sekali tidak keluar ataupun berteriak agar keisengannya berhenti. Reiner akhirnya menyerah, laki-laki itu membalikkan badannya untuk segera pergi dari tempat itu. Saat membalikkan tubuhnya, dia sedikit terkejut karena ada seorang laki-laki yang menatap ke arahnya dengan sebuah nampan di tangannya.
"Sejak kapan lo di sini?" tanya Reiner bingung.
"Cih! mafia macam apa kau ini?" ujarnya mengejek.
Reiner mendelik tajam kepada adik iparnya itu. "Kau berani menghinaku, Li!"
Sayangnya kali ini adik ipar yang tengah beralih profesi sebagai pelayan ratunya itu sama sekali tidak ingin melayani kakak ipar yang ia tahu pasti sedang berniat mengganggu istrinya.
"Kau tidak ingin pulang ke rumahmu, Rei, kasihan kakak iparku itu kau tinggal-tinggal pergi." Ali bertanya tetapi ia menyingkirkan tubuh Reiner yang menghalangi jalannya.
Setelah membuka pintu, laki-laki yang dengan entengnya memegang nampan berisi makanan itu melenggang masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu tanpa mengindahkan keberadaan ataupun menunggu jawaban sang kakak ipar.
Reiner yang kesal karena ulah Ali yang menurutnya tidak ada sopan santun. Dia membuka pintu kamar Ara yang memang tidak terkunci lalu masuk ke dalamnya tanpa meminta izin dari pemilik kamar tersebut.
Ketika Reiner masuk bertepatan dengan Ali yang tengah menaruh nampan yang ia bawa di atas meja. Melihat sang kakak ikut masuk ke dalam kamar, Ali hanya memutar bola matanya malas. Reiner sangat grusak-grusuk sekali walaupun mereka memang berada di tempat orang tuanya.
"Adik gue mana?" tanya Reiner ketika pandangannya berkeliling tetapi tidak menemukan sang adik disana.
__ADS_1
Ali hanya diam tanpa niat menjawab pertanyaan dari sang kakak. Dia juga sedang kesal kepada Reiner, selain itu dia juga agak takut jika apa yang tadi di bicarakan oleh istrinya menjadi kenyataan. Jika memang terjadi, sudah di pastikan Ara akan merajuk padanya.
Tak mendapat respon dari adik iparnya itu, Reiner berbalik. Kakak dari Aracelia itu berniat keluar dari kamar sang adik. Percuma saja ia masuk jika Ara tak ada di sana. Akan tetapi, ketika ia sudah hampir membuka pintu. Laki-laki itu mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dia segera membalikkan tubuhnya kembali untuk memeriksa siapa yang berada disana.
Ara yang sudah hampir keluar justru kembali masuk ke dalam kamar mandi. Beruntung ia melihat Reiner sebelum kakaknya itu membalikkan tubuh dan melihat dirinya.
Kali ini laki-laku itu peka dengan apa yang di lakukan oleh sang adik. Dia segera berlari mendekati kamar mandi ketika tahu yang berada di dalam sana adalah Ara.
"Ra, gue mau pulang, malah Lo tinggal kabur-kaburan, sih!" decaknya kesal.
"Gue lagi sakit perut, Rei. Lo kalau mau pulang, pulang aja. Kasihan Rachel pasti kangen sama lo," jawab Ara dari dalam kamar mandi.
Suami Ara itu sama sekali tidak berniat ikut campur dengan obrolan kakak adik yang seperti karakter kucing dan tikus di televisi itu. Sebentar akur, dan sebentar saling jail, sebentar lagi saling musuhan. Walaupun ia sangat tahu kedua manusia itu saling menyayangi.
"Lo mau gue anter periksa, Ace!" bukannya menuruti ucapan sang adik yang menyuruhnya untuk pulang, Reiner justru merasa khawatir pada wanita itu.
Ara yang sebenarnya dalam keadaan baik-baik saja, hanya berniat menghindari sang kakak agar tidak mengetahui tentang apa yang terjadi padanya dan mengejek dia habis-habisan, merasa bersalah. Akan tetapi saat memandang cermin di depannya, wanita itu mengurungkan niatnya untuk keluar dari tempat persembunyian.
"Entar gue periksa, di anter suami gue!" Wanita itu sedikit meninggikan suara agar sang kakak secepatnya pergi dari kamarnya.
Mendapati penolakan dari Ara, Reiner semakin murka. Laki-laki itu menatap tajam Ali hingga matanya memerah karena menahan amarah. Jika bukan laki-laki itu yang di cintai Ara, sudah pasti dia buat babak belur sampai tidak berani menyepelekan dirinya.
"Ya udah, gue pulang. Tapi entar sore gue kesini lagi," ujar Reiner akhirnya mengalah.
__ADS_1
Laki-laki itu melenggang keluar dari kamar sang adik. Niatnya untuk mengerjai Ara justru berantakan karena keadaan sang adik yang sedang sakit. Reiner menuruni anak tangga untuk segera pulang ke mansionnya. Dia akan membawa istri dan anaknya, sekalian mengajak orang tuanya juga untuk menjenguk Daddy Haris yang belum sembuh total.
Saat hampir keluar dari mansion besar itu, seseorang memanggil Reiner dari belakang. Ketika dia menoleh, di sana Daddy Haris tengah berdiri dengan tangan memegang sebuah kotak.
"Daddy, kenapa keluar? keadaan Daddy belum benar-benar pulih. Jangan memaksa diri untuk bergerak berlebihan," ujar Reiner khawatir.
Laki-laki berwibawa itu berlari mendekati ayah angkatnya. Tangannya langsung membantu Daddy Haris untuk berjalan bersama hingga ke sebuah sofa. Reiner pelan-pelan membantu sang ayah untuk duduk disana. Setelah itu dia juga mendudukkan dirinya di samping Daddy Haris.
"Rei, coba tebak. Di dalam kotak ini, tersimpan apa?" ujarnya seraya mengangkat kotak itu ke depan Reiner.
Reiner diam memperhatikan kotak kayu kecil berwarna coklat tua dengan ukiran sang sangat indah. Walau terlihat barang itu adalah barang lama, tetapi dia yakin barang itu di simpan bahkan di jaga oleh Daddy Haris dengan baik. Terbukti kotak itu masih sangat menarik setiap orang yang melihatnya.
Tidak menemukan jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan Daddy Haris, Reiner hanya menggeleng lemah. Untuk menebak apa yang di bawa oleh sang ayah, dia tidak punya keberanian itu. Takut jika jawabannya salah dan malah melukai hati ayah angkatnya itu.
Hanya gelengan kepala Reiner yang ia dapatkan. Daddy Haris perlahan membuka kotak kayu itu hingga menampakkan apa yang ada di dalamnya. Saat melihat benda itu, Reiner menajamkan sorot matanya untuk mengingat barang apakah yang di tunjukkan oleh Daddy Haris.
"Dad, bukankah itu ...."
Bersambung...
Kak, mampir kuy ke karya temanku. Ceritanya keren banget lho!
__ADS_1