
Seorang wanita baru saja selesai melakukan ibadah Sunnah malamnya. Wanita dengan tubuh mungil itu sudah bisa melakukan sholat tanpa bimbingan sang suami. Ara memang cerdas sejak kecil, wanita itu mudah menyerap apa yang di ajarkan padanya.
Setelah selesai berdoa, Ara kini melipat mukenah dan sajadah miliknya. Hatinya terasa tenang setelah mendoakan sosok ibunya yang sudah tiada sejak lama. Dulu, dia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Hidup bersama dengan orang yang berbeda keyakinan dengannya membuat dia tidak pernah belajar tentang apa saja yang ada dalam kepercayaannya tersebut.
Bukan niat hati untuk tidak mengajarkan apa yang seharusnya wajib untuk sang anak, Mami Jane dan Papi Adit memang tidak pernah mempelajari hal-hal di luar kebiasaannya. Sedangkan Daddy Haris, pria paruh baya itu terlalu sibuk dengan bisnis yang di rintisnya sejak remaja. Apalagi sejak kepergian sang istri, itu membuat dirinya semakin menyibukkan dirinya dengan urusan bisnis. Tujuan utamanya adalah agar dia tidak semakin larut dalam kesedihannya.
Wanita itu menyimpan mukenah dan sajadah miliknya ke dalam lemari. Lalu berjalan menuju ranjang yang tengah menjadi tempat istirahat sang suami. Laki-laki itu sedang menunggu sang istri selesai dengan kegiatannya. Bagitu Ara mendekat, Ali mengulurkan tangannya dan di terima oleh Ara. Seorang istri yang kini sudah tidak perlu lagi menyembunyikan sesuatu dari suaminya itu naik ke atas ranjang.
Ara menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Menghirup dalam-dalam aroma yang kini begitu menenangkan. Tangannya melingkar di perut sang suami dengan erat. Begitupun Ali, laki-laki itu meletakkan tangannya di pundak sang istri. Mengelusnya dengan perlahan, menyalurkan rasa kasih sayang yang dia miliki untuk istri cantiknya.
"Moon," panggil Ali dengan suara lembut.
__ADS_1
Ara mendongak, menatap wajah tampan suaminya itu. Senyuman manis terbit di bibir wanita cantik tersebut saat tangan sang suami menyentuh hidung mungilnya.
"Kamu bahagia dengan apa yang kita jalani sekarang?" tanya Ali dengan wajah yang tidak seceria tadi.
Sang istri mengangguk, tangan yang tadi melingkar di perut sang suami kini berpindah di pipi mulus suaminya. Mengelus-elus rahang tanpa sedikitpun bulu halus yang mengelilingi.
"Aku bahagia, Sun. Apa kamu tidak bahagia?"
Mendapat pertanyaan yang sama dari sang istri. Ali menggeleng cepat. Hal itu membuat senyuman di wajah wanita itu luntur seketika. Dia mengira bahwa suaminya tidak bahagia dengan apa yang terjadi pada mereka berdua.
Kini Ara bangkit dari posisinya. Wanita itu menjauhi sang suami dan berniat untuk pergi dari tempat itu. Hatinya terasa sakit saat mengetahui bahwa suaminya belum juga mendapatkan kebahagiaan saat bersamanya.
__ADS_1
Ali dengan cepat meraih tangan Ara, menghentikan kegiatan wanita yang akan beranjak dari ranjang king size milik mereka. Tempat mereka memadu kasih hingga beristirahat bersama.
"Kamu mau kemana?"
"Aku ingin keluar sebentar." Ara tetap berdiri dari duduknya.
Ali menarik tangan sang istri sekuat tenaga. Dia sadar bahwa istrinya itu bukan wanita sembarangan. Untuk menghadapinya dia benar-benar harus mengerahkan segala kemampuan dan tenaganya agar seimbang. Tetapi sekuat apapun kini Ali menarik, Ara tak bergeming. Wanita itu masih anteng di posisinya, bahkan tidak bergerak sama sekali.
"Dengarkan dulu, jangan salah paham!" seru Ali menyuruh sang istri untuk duduk kembali.
"Dengarkan apa, Sun? Mendengarkan bahwa kamu tidak bahagia bersamaku?"
__ADS_1
Bersambung...