Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Kepung lawan


__ADS_3

Ferry mengendarai mobil miliknya dengan kecepatan penuh, setelah mendapat perintah untuk datang ke suatu tempat yang di perintahkan oleh Reiner. Laki-laki kepercayaan Reiner itu mengajak beberapa orang handal di Deadly Scorpion.


"Kak, memang Tuan Muda menyuruh kita kemana?" tanya Dean penasaran.


Saat mengajak beberapa orang yang dia percayai untuk menyusul tuan mudanya, Ferry sama sekali tidak mengatakan tujuan mereka. Hanya menyuruh mereka untuk mengikuti kemanapun dia pergi.


Ferry menoleh sejenak lalu kembali fokus pada jalan di hadapannya. "Jalan Mandala nomor 10," jelas Ferry.


Dean hanya mengangguk mengerti tanpa bertanya apapun lagi, lagipula dia tidak pernah merasa takut dengan siapapun kecuali mereka yang benar-benar di hormati olehnya.


Ferry semakin mempercepat laju mobilnya, di belakang dua mobil mengikuti mobil yang di kendarai oleh Ferry, dengan jarak yang beriringan.


10 menit kemudian rombongan mobil Ferry sudah sampai di sebuah jalan yang di tunjuk oleh ketuanya. Dari kejauhan pun Ferry sudah dapat memastikan bahwa tuan mudanya sedang di kepung oleh beberapa orang.


"Cepat amankan Tuan Reiner!" perintah Ferry setelah mereka turun dari mobil.

__ADS_1


Tanpa menjawab perintah dari Ferry, Dean berlari mendekat pada salah satu sudut mobil yang mengepung pemimpin Deadly Scorpion. Beberapa anggota mengikuti apa yang di lakukan oleh Dean, mereka menjaga setiap sudut agar saat musuh berniat jahat setidaknya mereka bisa mengantisipasinya lebih dulu.


Ketika semua orang yang dibawanya sudah menyebar, Ferry berjalan dengan langkah berwibawa mendekati Reiner yang tengah mengepalkan tangannya. Ferry sudah lebih paham bahwa tuan mudanya tengah dalam emosi yang tinggi.


"Tuan." Ferry menyentuh bahu tegap Reiner hingga laki-laki itu menoleh sesaat lalu kembali menatap laki-laki tua di hadapannya.


Melihat Ferry datang, Laki-laki bertopeng itu menatap sekitar. Setiap sudut mobil yang mereka gunakan untuk menutup jalan sudah terkepung oleh beberapa orang yang berdiri dengan gagah di samping pintu mobil. Sambil menodongkan sebuah pistol pada setiap orang suruhannya.


"Kau membawa sekutumu, Anak ingusan!" makinya dengan sinis.


Reiner hanya tertawa lepas saat mendengar makin dari laki-laki bertopeng itu. Dia bukan anak kecil yang mudah untuk di ancam. Lagipula dia memang sedang tidak ingin bertarung dengan siapapun.


"Kau mengancamku?" ucap laki-laki itu tanpa rasa takut.


Reiner menurunkan tangannya lalu berbalik, kembali berjalan ke arah mobil yang dia tinggalkan beberapa langkah tadi. Pria tampan itu membuka pintu mobil bagian penumpang, lalu dengan gagah duduk berpangku kaki menghadap keluar.

__ADS_1


"Aku tidak pernah mengancam, Pak tua."


Tangan Reiner kini membentuk sebuah tembakan lalu mengarahkannya ke arah keningnya. Memberi isyarat seperti orang yang tengah menembak m*ti seseorang. Setelah itu meniup tangan yang masih berbentuk pistol itu dengan tatapan meremehkan.


Kini laki-laki bertopeng itu kembali melihat semua anak buahnya, masing-masing mereka sudah di todong senjata di bagian kening mereka masing-masing. Persis apa yang di lakukan oleh Reiner barusan.


"Aku ingatkan kau untuk tidak ikut campur dengan apapun urusan keluarga Gunawan." Laki-laki itu berbalik untuk meninggalkan tempat itu.


"Kau bicara apa tadi? Aku, tidak boleh ikut campur dengan urusan keluarga Gunawan? Kau sudah gila, Pak tua. Aku adalah anggota keluarga Gunawan!" ujar Reiner dengan tegas.


Laki-laki itu menghentikan langkah, mengepalkan kedua tangannya. Berbalik dan menatap tajam Reiner. Pria muda itu terlalu congkak dalam menghadapinya.


"Kau tahu, Rei? Bahkan istrimu ada dalam genggamanku!"


Bersambung...

__ADS_1


Hai, Kak. Kuy mampir ke karya temanku yah.



__ADS_2