
Tidak mendapat jawaban jelas lewat sambungan telfon, Ali akhirnya memutuskan untuk menemui kakak iparnya itu di kantor. Dia tahu bahwa pria itu berada di kantor karena sudah bertanya pada sang istri.
Ali berjalan dengan langkah tegas, pria itu terlihat semakin keren karena semua pakaiannya sudah di ganti oleh sang istri. Ara bilang bahwa jabatan sang suami sekarang tidak main-main, jadi harus menjaga penampilannya juga agar para kolega akan yakin untuk bekerja sama dengan perusahaan miliknya.
Pria itu menghampiri meja resepsionis untuk bertanya tempat sang pemimpin di kantor RAS Entertain itu. Namun, ketika dia berdiri di hadapan dua wanita yang berprofesi sebagai resepsionis kantor, mereka yang tidak pernah melihat Ali menginjakkan kaki disanapun kebingungan.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya salah satu petugas yang berjaga.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Reiner, CEO perusahaan ini," ucap Ali tanpa basa basi.
"Maaf, tapi apakah anda sudah membuat janji temu dengan Tuan Reiner?" tanya resepsionis itu.
"Belum, tapi aku adalah adik iparnya. Kalau kalian tidak percaya, periksa saja kartu namaku! Aku adalah Direktur utama perusahaan Gunawan Sentosa." Ali langsung mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya.
Salah satu perempuan itu mengambil kartu nama yang di berikan oleh pria tampan di depannya. Mereka saling pandang begitu lama, mereka juga tahu bahwa sang bos memiliki adik perempuan. Namun, mereka tidak ingin salah langkah dan langsung mengizinkan pria itu untuk masuk.
"Sebentar, Tuan, biar kami konfirmasi dulu kepada Tuan Reiner!" seru perempuan itu dengan tegas.
Telfon tersambung ke ruangan CEO perusahaan itu, Reiner langsung menerima telfon yang berasa dari bawahannya tersebut.
"Ada apa?" tanyanya datar.
Pria itu sudah cukup lelah bekerja hari ini, apa lagi pikirannya juga tertuju pada wanitanya yang saat ini dalam bahaya.
"Ada yang ingin bertemu dengan anda, Tuan. Dia mengaku adalah adik ipar anda," jelas resepsionis yang menghubungi Reiner.
"Namanya siapa? Aku hanya memiliki satu adik ipar, dia suami dari Aracelia," tukas Reiner.
"Namanya Ali Danish Mahendra, dia Direktur utama di perusahaan Gunawan Sentosa," jawabnya secara detail.
"Hm, suruh masuk!"
Reiner langsung mengakhiri panggilan itu. Dia masih punya banyak sekali berkas yang perlu dia urus dan tanda tangani.
Sementara resepsionis itu segera memberikan izin untuk pria yang mulai terlihat kesal itu untuk masuk. Salah satu dari mereka bahkan mengantarkan pria itu menuju ruangan CEO.
Mereka berjalan memasuki lift khusus, karena tamu mereka adalah salah satu keluarga dari pemilik perusahaan itu, jadi mereka di perbolehkan untuk menggunakan lift khusus petinggi perusahaan.
__ADS_1
"Kalian ini detail sekali, yah! Tidak percaya kalau aku adik ipar bos kalian," gerutu Ali dengan kesal.
"Maaf, Tuan, tetapi kita sudah pernah kecolongan. Ada seseorang yang menyusup di kantor ini, maka dari itu kami memperketat penjagaan." perempuan itu sedikit membungkukkan badan untuk meminta maaf.
Pintu lift terbuka ketika mereka sampai di lantai teratas gedung tersebut. Mereka keluar secara bersamaan, berjalan hingga sampai tepat di depan ruangan yang bertuliskan CEO.
Perempuan yang mengantarkan Ali mengetuk pintu ruangan itu, mereka masuk setelah mendapat izin untuk masuk oleh pria di dalam sana.
"Tuan, maaf, ini adik ipar anda."
Reiner langsung mengalihkan pandangan yang semula fokus pada berkas kini menatap sang adik ipar yang masih berdiri di depan pintu.
"Ah, kalian salah bawa orang!" seru Reiner membuat perempuan itu terkejut.
Lagi, apakah dia melakukan kesalahan seperti dulu lagi. Ketika seorang pria datang mengamuk di kantor itu. Pria yang dulu menyusup bahkan menjadikannya sandera untuk memuluskan aksinya.
"Maaf, Tuan." Perempuan itu menunduk.
"Sudahlah, kau pergi saja. Biar dia aku yang urus," ujar Reiner mengusir perempuan itu.
Ketika perempuan yang berprofesi sebagai resepsionis itu keluar dari ruangan CEO, Ali langsung mendengus kesal. Kakak iparnya itu sangat menyebalkan karena tidak mengakuinya di depan bawahannya sendiri.
"Aku tadi sudah bilang, 'kan? Aku mau jadi mafia sepertimu," jelasnya seraya berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang berada di depan Reiner.
Sebelah mata Reiner memicing, dia benar-benar tidak paham dengan ucapan Ali yang tiba-tiba ingin menjadi mafia. Tidak tanggung-tanggung, dia bahkan meminta agar bisa seperti dirinya yang sudah berkecimpung di dunia itu sejak kecil. Mana mungkin bisa jika Ali baru memulainya sekarang.
"Untuk apa menjadi mafia, bukankah kau sudah menjadi suami dari mafia? Kau pikir jadi mafia itu enak?"
"Aku ingin bisa melindungi istriku, kau kan tahu, Kak. Istriku sedang hamil," ucap Ali.
Reiner mengangguk, alasan yang di berikan oleh sang adik ipar cukup masuk akal. Dia juga sangat senang jika adik iparnya itu akan lebih bermanfaat untuknya membantu menjaga keluarga.
"Jadi maksudmu kau ingin belajar beladiri? Bukan menjadi mafia sepertiku, 'kan?" tanyanya memastikan.
"Iya," jawab Ali singkat.
Dia tidak mau terlalu lama berceloteh yang hanya akan membuat pria di depannya ini tidak mau mengajarinya beladiri.
__ADS_1
"Baiklah, tetapi bukan aku yang akan mengajarimu, karena aku masih banyak urusan yang harus aku lakukan."
"Siapapun, yang penting aku bisa beladiri," jawabnya tanpa berpikir.
"Baiklah, kau mau mulai kapan?" tanya pria tampan itu.
"Secepatnya!" serunya dengan semangat.
Reiner mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, pria itu menghubungi seseorang yang akan dia perintahkan untuk mengajari adik iparnya seni beladiri.
"Hallo, Dean ...."
Mendengar nama itu di sebutkan, Ali tanpa permisi merebut ponsel yang berada di telinga Kakak iparnya dan mengakhiri panggilan itu.
"Kau apa-apaan, Ali!" serunya kesal.
"Untuk apa menelpon remaja si*lan itu?"
"Untuk mengajarimu berkelahi," jawab Reiner singkat.
"Tidak, aku tidak mau! Siapapun tapi jangan Dean! Aku tidak suka dengan pria itu, karena dia Ara menghinaku."
Ali tidak sangaja mengatakan masalah yang akhirnya membuat dirinya ingin belajar seni beladiri. Bukan hanya karena ingin bisa berkelahi, akan tetapi juga tidak mau kalah dengan pria remaja yang di bangga-banggakan sang istri.
Reiner tertawa lantang ketika mendengar ucapan adik iparnya itu. Dia akhirnya paham kenapa pria itu tiba-tiba ingin bisa berkelahi. Alasan utamanya karena Ara lebih membanggakan pria remaja yang merupakan tangan kanannya dari pada sang suami.
"Jadi, kau cemburu pada anak kecil itu? Al, kau serius, kau cemburu pada anak remaja yang sudah sejak kecil hidup bersama kami?" tanyanya meremehkan.
Ali berdecak kesal ketika malah mendapatkan ejekan dari pria yang menjadi kakak iparnya itu. Bukannya membelanya, pria itu justru semakin meremehkan dirinya.
"Aku bukan cemburu!" seru Ali benar-benar kesal.
"Lalu apa?" tanya Reiner mode serius.
"Aku hanya tidak suka istriku memuji pria lain," ujarnya dengan santai.
"Itu cemburu, sial*n! Sudahlah, keluar dari kantorku. Aku masih banyak kerjaan!"
__ADS_1
Bersambung...