
Ara mengira Ali marah karena penolakan yang di lakukan oleh dirinya, karena suaminya tiba-tiba melepas pelukan dan langsung naik ke ranjang. Gadis itu menatap sang suami dengan perasaan tidak enak hati.
"Moon, sini !" Ali memanggil Ara ketika melihat istrinya masih terdiam berlutut di lantai. Pria itu menepuk kasur di sampingnya, bertujuan menyuruh sang istri untuk tidur bersama.
Ara menurut, gadis itu naik ke ranjang di sisi sang suami. Ali menarik Ara mendekat ketika sang istri terlihat menjaga jarak dengannya.
"Kita teruskan yang tadi, kalau kamu sudah selesai. Tapi, malam ini, peluk aku seperti kemarin ya?" Ali mengedipkan matanya menggoda sang istri.
Mendengar rayuan suaminya yang membahas bahwa kemarin malam Ara memeluknya hingga pagi, membuat gadis itu menundukan pandangan karena malu.
"Sini, Moon, bantalan lenganku ya. Peluk aku seperti ini," Ali menuntun Ara untuk melakukan kegiatan itu. Ara hanya menurut, karena kalau Ali tidak segera tidur. Dia akan semakin sulit untuk keluar dari mantion.
Setelah membaca beberapa doa khusus untuk tidur, Ali memejamkan matanya sambil menghirup wangi rambut sang istri yang kebetulan menempel pada wajahnya. Ara memeluk Ali dengan erat, namun sama sekali tidak memejamkan matanya. Misi yang di milikinya tidak boleh gagal. Itu tekad Ara saat ini.
Tiga puluh menit kemudian, Ara berusaha melepaskan pelukan sang suami. Dengan perlahan, walaupun sedikit kesusahan, Ara tetap berusaha lepas dari dekapan hangat suaminya. Jika bukan karena misi penting ini, Ara tidak mungkin kabur dari pelukan mesra Ali.
"Maaf, Sun. Aku harus pergi sebentar." Ara beranjak dan segera mengambil pakaian khusus miliknya. Celana ketat, kaos polos dan jaket kulit berwarna hitam. Ciri khas Nona Ace saat beraksi. Setelah mengganti pakaiannya di kamar mandi, Ara mendekat pada suaminya. Sebelum pergi, Ara menyempatkan mengelus kepala dan melepaskan kecupan di kening suaminya.
"Aku melakukan ini, agar tidak ada lagi korban seperti kita. Sun, maaf." Ara melangkah menuju pintu setelah menatap wajah pulas suaminya.
Gadis itu keluar rumah dengan hati-hati, jangan sampai terpergok maminya jika dia keluar dengan penampilan seperti ini. Mami Jane pasti heboh, jika mendapati Ara beraksi lagi.
"Ara, mau kemana, Sayang?" Ara menoleh ke sumber suara. Di lihatnya sang papi berdiri di depan pintu kamar miliknya.
"Papi, Ara mau ke lokasi Oppa beroprasi. Boleh ya, jangan bilang pada Mami," Gadis itu merengek pada papinya agar di beri ijin untuk keluar tanpa di ketahui oleh maminya.
"Baiklah, kamu mana pernah mau di cegah. Pergilah, tapi, jangan jauh-jauh dari Reiner." Perintah papi Adit kepada Ara.
__ADS_1
"Tenang saja Pi, memang Papi kira Ara selemah itu. Ara kan juara semua cabang beladiri, sudah ya, Ara pergi dulu." Ara melangkah ke arah garasi motor sport milik Reiner yang berada di mantion Aditia.
Gadis itu menaiki motor sport jenis Ninja berwarna hitam mengkilat, lalu menggunakan helm dan sarung tangan sebagai keamanan dalam menggunakan sepeda motor.
Motor ninja berwarna hitam milik Reiner itu melaju dengan kecepatan penuh. Ara sudah tidak sabar untuk menangkap pelaku kejahatan yang sudah meresahkan warga.
Ara memang bebas menggunakan apa saja milik Reiner, karena Kakak angkat Ara tersebut tidak pernah melarang adiknya untuk menggunakan barang-barang miliknya.
Ara masih memacu kuda besi yang di tungganginya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hingga tiba di alamat yang diberitahukan oleh Dean. Tempat itu memang sepi sekali, dan gelap. pantas jika di gunakan oleh orang untuk berbuat kejahatan.
"Itu rupanya, cecunguk cecunguk yang sudah membuat resah." Ara semakin mempercepat laju motornya. Hingga sudah hampir dekat, Ara mengerem mendadak motor yang di pakainya hingga berputar-putar di depan segerombolan preman berbadan seperti kingkong.
Begitu motor mendarat dengan sempurna di hadapan kelima preman itu. Ara mensetandartkan motornya. Lalu membuka helmnya.
"Wah, mangsa cantik bro." Teriak preman dengan kumis lebat di area rahangnya.
"Cih, banyak omong !" Ara melempar helmnya ke arah preman yang pertama kali menyapa dirinya. Lalu menendang preman kedua yang masih menatapnya seperti singa kelaparan.
Kedua preman itu terjatuh ke aspal, Hingga salah satu dari mereka terlihat emosi dan mengeluarkan belati dari kantong belakang celananya.
"Dasar wanita si*alan, kau berniat melawan kami rupanya." Preman itu berlari ke arah Ara,
mengarahkan belati itu pada Ara yang sedang berdiri dengan bersandar pada motor sport milik kakaknya. Gadis itu masih terlihat santai tanpa kepanikan sedikitpun. Hingga saat preman itu sudah semakin mendekat, Ara melompat dan melakukan tendangan ke arah dada preman berbadan tegap tinggi yang berniat men*suknya.
"Bagaimana? Masih mau bersenang-senang denganku?" Ara mengajukan pertanyaan pada preman ketiga yang berhasil dia jatuhkan.
"Boleh juga kau wanita si*lan!" preman yang tadi di lempar helm oleh Ara berdiri, dan mengambil ce*urit dari motor miliiknya.
__ADS_1
"Jika kau tidak mau bersenang-senang, kita bisa lakukan saat kau sudah mati !" bentak preman tadi pada Ara.
Ara hanya tersenyum tipis, lalu meludah ke arah preman itu berdiri. Hal itu membuat preman itu semakin murka. Dia melangkah mendekat pada Ara. Saat sudah mengarahkan senjata tajamnya ke tubuh Ara, tiba tiba terdengar suara tembakan. Satu peluru berhasil bersarang di lengan preman itu hingga ce*urit yang di pegangnya lepas dan terjatuh ke jalanan.
"New game started, bagaimana? Masih mau bermain denganku?" Ara menatap remeh pada dua preman yang belum merasakan pelajaran dari gadis mungil bertenaga ekstra di depannya.
"Kalian salah mangsa, Ketua mafia mau kau jadikan korban?" Suara Reiner terdengar lembut namun sangat menakutkan bagi kelima preman itu.
"Beruntung baru lenganmu yang ku tembak, Bagaimana jika aku iseng dan mengarahkan pelatuk ini ke kepala kalian yang tidak berisi itu?" lanjut Reiner dengan memutarkan senjata berjenis glock mayor 22 di tangannya.
Kelima preman itu menatap sekeliling, mereka sudah di kepung oleh orang-orang yang lebih ahli dalam bidang pertarungan dari pada mereka. Kelima preman itu saling pandang hingga akhirnya seorang dari mereka mengucapkan permintaan maaf dan permohonan agar di lepaskan.
"Maaf, Tuan. Tolong lepaskan kami," Ketua preman itu memohon pada Reiner.
"Kau tanya saja pada adikku, apa dia mau memaafkan kalian." Reiner menatap sang adik dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Maaf Nona, Maafkan kami. Kami tidak akan mengulanginya," ucap preman yang tadi hampir menebas Ara dengan Ce*urit miliknya.
"Aku bisa saja memaafkan, tapi aku tidak menjamin kalian akan bertaubat. Bagaimana kalau aku buat kalian kehilangan tangan kalian. Satu-satu perorang, ku kira tidak masalah." Ara mengambil ce*urit yang tadi hampir saja menebas tubuhnya. Lalu melangkah mendekat pada salah satu preman disana.
BERSAMBUNG...
Sory ya gays, kalau ceritanya aneh banget. Aku baru belajar loh bikin novel, tapi aku janji akan berikan yang terbaik untuk kalian.
Betewe aku mau minta doanya kalian, besok papaku mau menjalani operasi mata, semoga di beri kelancaran dan juga kesembuhan. Terima kasih yang udah setia sama novel gajeku.
Thanks For Reading...
__ADS_1
_Nurmahalicious_