Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Air mata Ara


__ADS_3

Sesudah menerima panggilan Reiner untuk menyampaikan bahwa dirinya tidak bisa datang lagi, Ali keluar dari kamar utama rumah tersebut. Pria itu menuruni tangga lalu berjalan menuju dapur untuk mencari keberadaan istrinya.


Namun, di dapur dia tidak menemukan sang istri.


Ali kembali berjalan menuju ruang santai keluarga, akan tetapi istrinya juga tidak ada di tempat itu. Pria yang merasa sangat bersalah kepada istrinya itu mengusap wajahnya kasar. Helaan nafas berat keluar dari mulutnya.


Pria itu kembali melangkah menuju taman yang terletak di samping rumah sederhana yang di tempatnya bersama sang istri. Karena tidak menemukan Ara di tempat yang biasa menjadi tempat aktifitas istrinya itu, Ali kemudian mencarinya di taman.


Namun, di taman itu juga tidak ada siapapun. Ali sudah hampir frustasi karena lagi-lagi harus menjadi alasan kekesalan istrinya. Jika saja tadi dia tidak ngeyel dan memaksa perempuan itu untuk memberinya izin, mungkin istrinya itu tidak akan merajuk seperti ini.


"Maaf, Moon. Aku memang laki-laki egois!" serunya menyalahkan diri sendiri.


Pria yang berstatus suami itu memutuskan untuk kembali ke kamar. Siapa tahu istrinya sudah kembali ke sana. Ali melangkah dengan tergesa menaiki tangga hingga sampai di ujung tangga. Langkah Ali terhenti saat mendengar suara tangis yang berasal dari kamar yang pernah di gunakan oleh sang istri ketika mereka baru saja menikah, saat dia sebagai suami belum bisa membalas cinta tulus perempuan Culun yang dulu dia nikahi dengan terpaksa.


"Apakah Ara ada disana?" Monolog Ali seraya melangkah menuju kamar tersebut.


Pria itu membuka pintu kamar yang tidak di kunci. Pertama kalinya masuk ke kamar itu, tatapan mata Ali tertuju pada deretan piala, piagam, hingga beberapa senjata tajam maupun senjata api yang tertata rapi di sebuah lemari besar di samping ranjang.


Beberapa saat Ali terpaku dengan apa yang di lihatnya. Pria itu tidak menyangka bahwa sang istri memang sehebat itu sampai memiliki banyak sekali piala hasil juara satu. Tatapan Ali beralih ke arah ranjang. Disana seorang perempuan tengah duduk meringkuk, memeluk lututnya sendiri.

__ADS_1


Tangisannya terdengar pilu, entah kenapa perempuan yang biasanya kuat itu justru terlihat lemah dan cengeng. Jika biasanya Ara akan mencari Reiner untuk melampiaskan rasa amarahnya, tidak untuk kali ini. Perempuan itu memilih untuk menyendiri di dalam kamar yang ia gunakan untuk menyimpan barang-barang berharga.


'Sekejam inikah aku, sampai membuat istriku menangis?' tanyanya dalam hati.


Rasa bersalah semakin merasuki jiwa Ali. Pria itu sangat menyesal dengan apa yang terjadi saat ini. Sebagai seorang suami, diapun sadar seharusnya dia menjaga perasaan istrinya. Apa lagi perempuan itu tidak hanya sendiri, ada dua janin calon penerus ARDA Corp yang sedang tumbuh di dalam rahim perempuan tersebut.


"A-a-pa ak-u sal-ah jika memi-nta perhatian dari suami-ku sendiri?" Keluh Ara dengan suara yang tertahan.


Perempuan cantik itu bahkan tidak sadar bahwa sang suami sudah berada di tempat tersebut. Ia masih sibuk menangis tersedu-sedu hingga mengacuhkan segalanya.


Melihat sendiri ratapan sang istri, hati sang suami mencelos. Ini untuk pertama kalinya dia menyaksikan sendiri betapa rapuhnya hati sang istri.


Ali melangkah dengan perlahan sampai berada tepat di samping perempuan yang masih menangis dengan posisi yang tidak berubah. Tangan kanannya terangkat lalu membelai penuh kasih Surai panjang istrinya.


Perempuan itu langsung menyeka air matanya agar sang suami tidak melihatnya saat menangis. Padahal Ali sudah cukup lama berada di tempat itu.


"Mau apa kemari? Bukankah kamu mau keluar?" tanyanya dengan sinis.


Namun, suara sesegukan itu sesekali masih terdengar. Ali sampai kebingungan untuk menghadapi istrinya ini dengan cara apa. Kalau di biarkan, perempuan itu pasti akan semakin terpukul.

__ADS_1


"Siapa bilang aku mau keluar? Aku hanya akan menemani istri serta kedua calon anakku setiap saat," ucap Ali dengan lembut.


"Kamu serius?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.


Ali hanya tersenyum, lalu mengangguk sebagai jawaban. Pria itu ikut naik ke atas ranjang bersama sang istri. Tanpa berkata apapun, Ali menarik Ara ke dalam dekapan hangatnya. Beberapa kali sang suami mengecup kepala istrinya begitu dalam. Sepertinya rasa penyesalan yang di rasakan Ali semakin dalam saat melihat istrinya dengan kondisi tersebut.


"Aku janji tidak akan meninggalkan kamu, Sayang, sekarang tidurlah!" perintah Ali dengan lembut.


Pria itu baru sadar, mungkin istrinya itu merasa lelah dengan perubahan hormon dan kondisi tubuhnya yang kini terjadi. Moodnya yang sering berubah itu membuat Ara kehilangan jati dirinya sebagai wanita tangguh.


"Nyanyikan aku sebuah lagu, Sun," pinta Ara seraya menatap sang suami.


"Baiklah, tapi kamu harus tidur, yah!" tawar Ali.


"Hem," jawab Ara singkat.


Suara alunan lagu yang di senandungkan oleh seorang Ali Danish Mahendra terdengar sangat indah. Pria itu menyanyikan sebuah lagu bertajuk harga diriku di bawakan dengan begitu merdu.


Ara yang memang sesudah menangis, di tambah alunan lagu yang di senandungkan sang suami, kini merasa mengantuk. Perempuan itu sedikit demi sedikit menutup mata bersamaan dengan Ali yang sudah selesai menyanyikan lagunya.

__ADS_1


"Semoga setelah ini tidak ada lagi air mata yang dia keluarkan karena kesedihan, Ya Allah. Jadikanlah hamba suami yang dapat mengutamakan perasaan istri di atas keegoisanku sendiri,"


Bersambung...


__ADS_2