
Mendengar panggilan suaminya, Ara melepaskan pelukan Papi Adit. Gadis itu beranjak lalu berjalan mendekat pada Ali yang berdiri di belakang sofa.
"Kamu udah selesai, Sun?" tanya Ara.
"Sudah, kamu kenapa mukanya sedih gitu?" Ali juga melempar pertanyaan pada istrinya.
Papi Adit mendekat pada kedua pasutri baru itu, dia tidak mau kejadian tadi di ketahui oleh Ali. Walau bagaimanapun, Ali juga pasti tidak akan mengijinkan istrinya bertemu pria lain.
"Ara tadi berpamitan, Li. Tapi Mami malah merajuk, dia masih ingin Ara dan kamu tinggal di sini," jawab Papi Adit menutupi alasan sebenarnya.
Ali menatap Ara yang masih diam dengan pandangan menunduk ke bawah. Apa yang di tatap istrinya pada lantai mantion? sehingga membuat Ara lebih asik memandangi itu dari pada wajah suaminya.
"Harusnya kamu jelaskan pada Mami, Moon. Kita kan bisa menginap di sini lagi lain kali." Mengelus kepala Ara dengan lembut.
Mendengar ucapan Ali, Ara mendongak dan menatap Ali. Dari tadi Ara menunduk karena takut jika Ali tidak percaya dengan alasan yang di berikan oleh Papi Adit.
Pandangan mata keduanya bertemu, Ali menerbitkan senyum indah di bibirnya. Ali ingin sang istri tidak merasa dirinya membatasi kedekatannya dengan orang tua. Baik orang tua kandung maupun orang tua angkat Ara.
"Baiklah, coba aku yakinkan Mami dulu ya, Sun."
Ali menganggukkan kepalanya. Saat ini dia sadar bahwa ketenangan hati istrinya adalah prioritas utama bagi dirinya. Pria yang awalnya menikah karena keterpaksaan itu, kini sudah benar-benar jatuh cinta pada gadis culun yang di nikahi beberapa hari yang lalu.
"Iya, bilang pada Mami kalau aku yang akan menjamin janji kita. Selama sebulan sekali kita akan menginap di sini," perintah Ali pada Ara.
Ara segera berjalan dan menaiki tangga menuju kamar Mami Jane. Mungkin berita bagus ini akan menjadi pengalihan untuk Mami Jane, Ara tidak akan mengungkit masalah Aldev lagi di hadapan sang Mami.
Karena pintu kamar Mami Jane terkunci, Ara mengetuk pintu itu pelan. Berharap sang Mami mau membukakan pintu kamarnya. Ara tahu Mami benar-benar marah pada dirinya.
"Mi, bukain dong. Ara pen masuk, Ara ada kabar gembira loh buat Mami!" teriak Ara dengan suara keras.
Padahal teriakan Ara percuma saja, Mami Jane tidak akan mendengar karena pintu tertutup dan semua kamar di mantion Aditia kedap suara. Namun Ara tidak perduli dengan itu. Gadis itu masih saja berteriak di depan pintu kamar dan menggedor pintu itu semakin keras.
__ADS_1
Mami Jane yang baru saja keluar dari kamar mandi, berniat untuk turun ke bawah dan mengisi perutnya. Wanita paruh baya itu memang mempunyai selera makan yang tinggi. Namun berat badannya tidak pernah keluar dari batas wajar, Mami Jane termasuk wanita berbadan ramping walaupun makan banyak sekalipun.
"Mi!" teriak Ara frustasi.
Ketika membuka pintu, Mami Jane terkejut karena mendapati putri kesayangannya bersandar di pintu yang di buka olehnya dan hampir saja terjatuh jika saja tidak segera di tahan Mami Jane.
"Sayang! kenapa bersandar di pintu?" tanya Mami Jane pada Ara.
"Mami dari tadi di panggil enggak keluar-keluar."
Mami Jane membulatkan matanya, jadi sudah sejak tadi berada di sana dan berteriak memanggil namanya. Apakah putrinya amnesia hingga lupa kalau kamar di mantion kedap suara.
"Kamu panggil Mami teriak dari sini?" tanya Mami Jane gemas.
"Iyalah, masa teriak dari sana." menunjuk pintu ruangan peliharaan Mami Jane.
Mami Jane justru menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh Ara barusan. Untuk apa di meja samping pintu kamar terdapat tombol intercom? jika Ara masih saja berteriak seperti di hutan.
"Kamu tidak pakai ini?" tanya Mami jane seraya mengangkat benda penghubung antar semua ruangan.
Melihat tingkah lucu yang di tunjukan Ara, Mami Jane menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa putri kecilnya bertingkah konyol seperti itu? Aracelia bukan orang baru di mantion Aditia hingga tidak paham dengan semua yang ada di mantion.
"Ara lupa, Mi."
"Ya sudah, ada apa, Sayang?" tanya Mami Jane.
"Ara mau menyampaikan kabar gembira. Mami pasti senang dengan keputusan yang di buat oleh Danish," jelas Ara menyampaikan maksudnya.
"Kabar gembira apa, Sayang?" tanya Mami Jane penasaran.
"Danish tadi bilang, setiap sebulan sekali kita akan menginap di sini."
__ADS_1
Mendengar berita yang di bawa oleh Ara. Mami Jane sedikit terkejut. Apakah benar akan terjadi, atau Ara hanya ingin mengalihkan kekecewaannya perihal Aldev?
"Kamu tidak bohong kan, Sayang?" tanya Mami Jane memastikan.
"Ara tidak bohong, Mami boleh tanya Danish!" jawab Ara mantap.
Mami Jane tidak bisa mengungkapkan rasa gembiranya saat mendengar hal itu. Wanita paruh baya itu segera memeluk sang putri erat. Ara memang tidak salah pilih suami, Asila sangat baik karena menitipkan Ali pada Ara sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Terima kasih, Sila." ujar Mami Jane di sela-sela pelukannya.
"Sila? Sila siapa Mi?" tanya seseorang di depan kedua wanita yang masih berpelukan.
Kedua wanita itu melepaskan pelukan mereka lalu menatap seorang yang berdiri di depannya.
"Sun/Ali!" pekik kedua wanita itu kaget.
BERSAMBUNG...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Gays author bawa rekomendasi baru lagi nih, ceritanya keren banget tau. Karya temen baik othor. Mampir yak ke karya Kisss dengan judul TIBA-TIBA ISTRIKU BERUBAH.
Hanna merupakan istri yang ceria dan manja. Namun, karena suatu ketika dia mendengar kata-kata menyakitkan dari suaminya membuat hati wanita itu sakit dan berniat berubah menjadi wanita tegar.
"Hanna bagaikan noda hitam yang melekat pada pakaian ku. Kalau bukan karena bakti ku pada orang tua. Sudah dari dulu aku meninggalkan nya!" ujar Reza pada temannya.
Degg.
__ADS_1
Hanna memeluk kotak bekalnya erat. dia tak menyangka suaminya bisa sejahat itu menyamankan dirinya dengan noda hitam.
"Baiklah, Mas. Mulai saat ini aku akan berubah, jangan salahkan sikap ku yang nantinya akan membuat mu pusing tujuh keliling!" gumam Hanna dengan mata yang mengajak sungai.