
Mel tengah sibuk memasak di dapur di bantu oleh beberapa pelayan yang dengan cekatan melayani Nona muda mereka. Semua penghuni di dapur itu melihat seorang pria yang baru saja datang, kecuali Imel yang memang sedang sibuk-sibuknya menggoreng ikan nila.
Saat semua pelayan akan menyapa pria tersebut, niat mereka terhenti karena sang pria justru memberi isyarat mereka dengan jari telunjuk yang menutupi bibirnya. Mereka semua menurut dan segera pergi ketika pria itu kembali memberi isyarat lewat tangan yang berarti mereka harus keluar dari tempat itu.
Kini yang tersisa di dalam ruangan itu hanyalah Imel bersama dengan seorang pria yang memerintahkan semua pelayan untuk pergi meninggalkan perempuan itu hanya bersamanya.
"Bi, tolong ambilkan piring untukku," ujarnya tanpa mengalihkan perhatian dari ikan nila yang berada di dalam minyak goreng panas.
Pria itu dengan sigap mengambil piring, lalu menaruhnya di samping si perempuan yang tidak menyadari kehadiran pria yang kini berada di belakang tubuhnya.
Sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggang ramping si perempuan. Imel sampai terlonjak kaget dan reflek membalikkan tubuhnya dengan susuk terangkat ke atas.
"Kamu mau pukul wajah suami tampanmu ini, Sayang?" tanyanya menghentikan kegiatan Imel yang hampir saja memukulnya dengan susuk yang di pegang.
Perempuan itu menurunkan benda yang hampir menjadi alat untuk menyakiti sang suami. Bibirnya terlipat karena merasa kesal pada keisengan pria tersebut.
__ADS_1
"Kamu suka sekali mengagetkanku, Rei. Ingin aku cepat mati agar kau bisa menikah lagi?" decak perempuan itu kesal.
Reiner langsung menaruh jari telunjuknya di bibir sang istri agar perempuan tercintanya itu tidak melanjutkan kata-kata yang sangat dia benci.
"Kau tahu, aku bahkan akan menantang siapapun yang akan merebutmu dariku!" serunya dengan tegas.
Reiner memang sangat tidak suka jika sang istri membahas tentang kematian. Dia sangat mencintai wanita yang sudah dia nikahi selama 6 tahun itu. Jangankan ada orang yang menyakiti perempuan itu, jika ada seekor semut yang akan menggigitnya pun, tidak akan pernah di biarkan oleh pria tampan tersebut.
"Tapi kamu tidak akan pernah menang melawan takdir, Rei. Takdir Tuhan itu sudah di gariskan bahkan sebelum kita lahir ke dunia," ujar Imel dengan sangat lembut.
"Jangan pernah bicara yang macam-macam, Mel! Kalau kau bicara seperti itu lagi, aku mungkin akan kehilangan kendali." Reiner melangkah meninggalkan sang istri setelah memberi perempuan itu ancaman.
Imel hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus mengerjakan kegiatan mengasikkannya. Sejak kecil, Imel memang sangat hobi memasak. Kali ini dia memasak menu kesukaan sang ibu.
Setelah pergi meninggalkan sang istri di dapur, Reiner naik ke lantai atas. Dia berniat untuk menemui putri kecil tersayangnya. Semua kegiatannya akhir-akhir ini sungguh menguras waktu hingga membuatnya jarang bertemu dengan anak semata wayangnya tersebut.
__ADS_1
"Ahel," panggil Reiner ketika melihat sang putri sedang bermain dengan nenek dan kakeknya.
Gadis kecil itu menoleh saat sang ayah memanggilny lalu bangkit dan menghampiri ayahnya dengan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
"Papa," panggilnya seraya merentangkan tangan.
Rachel langsung masuk ke dekapan hangat sang ayah. Kebiasaan yang sudah biasa dia lakukan selama ini.
"Anak Papa lagi main sama Oma dan Opa, yah!"
"Iya, Papa. Oma Fira sangat baik hati," ujar gadis kecil itu dengan suara lucunya.
"Rei, ikut Papa sebentar! Kita perlu bicara,"
Bersambung
__ADS_1