Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Menyelamatkan mertua


__ADS_3

Ketika mendengar obrolan di luar yang terdengar salah satunya adalah suara sang suami, Imel keluar dari ruangan yang di gunakan oleh sang ayah untuk menyekapnya.


Perempuan itu terkejut dengan apa yang di lihatnya, sang suami berdiri dengan gagah tepat di hadapannya. Rasanya dia sangat ingin lari dan memeluk tubuh sang suami. Namun, dia urungkan karena dia masih ingat bahwa suaminya itu tengah mendiamkannya.


Reiner yang melihat sang istri mematung di depan pintu akhirnya berjalan mendekat. Pria itu langsung menarik istrinya ke dalam pelukan. Beberapa hari mendiamkan perempuan yang di cintai nyatanya hanya membuat dirinya merasa kosong.


Kedua insan itu berpelukan erat dan lama. Melepas kerinduan yang menyiksa diri masing-masing. Sementara Dean dan Boy hanya memperhatikan sepasang suami isteri yang tengah memadu rindu itu.


"Rei, kamu datang." Imel melerai pelukan mereka.


"Aku pasti datang, Sayang," ujar Reiner seraya melayangkan kecupan di kening istrinya.


"Ehm, Tuan bisakah kita keluar dari tempat ini lebih dulu?" tanya Boy yang merasa mereka berdua hanya menjadi nyamuk.


Reiner hanya tertawa ketika mendengar anak buahnya yang berani mengomentari dirinya, dia bahkan sama sekali tidak marah ataupun tersinggung.


"Rei, mamaku di dalam." Tangan Imel menggenggam erat sang suami.


Pria itu langsung mengangguk, membuat Imel langsung mengajaknya untuk masuk ke dalam. Pria itu tetap menggenggam erat tangan sang istri yang kali ini terlihat sedikit kusam.


Wanita tua yang berada di dalam kamar itu langsung tersenyum lega ketika melihat sang putri menggandeng seorang pria gagah. Dia menebak bahwa pria itu adalah suami dari putrinya, dengan kata lain pria itu juga adalah menantu satu-satunya yang dia miliki.


Reiner bersimpuh di pangkuan wanita tua itu ketika sudah berada di depannya. Pria tampan dan gagah itu merasa bersalah karena terlambat mengetahui tentang sang mertua. Sehingga mertuanya itu mengalami kejadian ini dan menempati tempat kumuh yang jauh dari kata layak untuk di tempati.

__ADS_1


Air mata pria itu tidak mampu terbendung, akhirnya luruh bersama semua penyesalan karena selama ini tidak pernah mencari tahu tentang usal usul sang istri. Baginya dia menerima istrinya dengan segala kekurangan dan masa lalunya. Untuk itu dia tidak pernah sekalipun mengungkit kehidupan perempuan yang di cintai ketika sebelum bersama.


"Mah, kita pulang sekarang, yah!" ajak Reiner pada mertua yang baru saja di temuinya.


Hati pria berdarah campuran itu mencelos ketika melihat sendiri bagaimana keadaan sang mertua. Tubuh kurus yang hanya tinggal kulit yang membalut tulang. Baju lusuh dan wajah yang terlihat keriput, padahal umur wanita itu belum sampai di angka 60 tahun.


"Kamu ajak Imel saja, biarkan Mama tetap berada disini. Kalau nanti Papa Imel mencari Mama, itu akan menimbulkan masalah untuk kalian, Nak." Tangan keriput itu mengelus bahu Reiner yang tengah berjongkok di samping ranjang kayu.


Sepasang suami istri itu menggeleng, mereka tidak mungkin meninggalkan orang tuanya di tempat berbahaya itu. Lagi pula tanpa mereka mencari masalah pun, mereka tetap akan menghadapi kejahatan yang di lakukan pria bertopeng itu.


Imel yang semula hanya berdiri di belakang punggung bergetar sang suami, kini ikut berjongkok di samping suaminya itu. Keduanya bersimpuh dengan tangan menggenggam tangan ibu kandung Imel.


"Mah, kita akan pulang sama-sama. Apa Mama tidak ingin melihat putriku, cucu Mama?" tanya Imel disertai bujukan agar wanita itu mau ikut bersamanya.


Mereka berusaha mengalirkan rasa kasih sayang antara satu sama lain. Seolah dalam genggaman itu mereka memiliki kekuatan untuk melawan keangkaramurkaan seorang Rico Maladeva.


"Cucuku? Dia pasti cantik sepertimu, Sayang," ucapnya dengan tangan kiri membelai pipi putrinya.


Pria tampan bertubuh putih itu langsung mengangguk setuju dengan ucapan mertuanya. Anak semata wayang yang di milikinya itu memang sangat menuruni wajah cantik Imel.


"Mama benar, Rachel persis sekali dengan Imel, Ma. Dia tengah menunggu kedatangan Mama untuk bermain bersama," ujarnya ikut merayu sang mertua.


Mereka sengaja memancing wanita itu agar tidak menolak ajakan mereka. Untuk membujuk ibu mertuanya itu mereka sudah cukup lama menghabiskan waktu. Sesekali Reiner menoleh ke belakang, memastikan bahwa kedua remaja itu tetap berjaga di sana.

__ADS_1


"Ayo, Ma, biar Rei gendong, Mama." Pria itu langsung menarik dengan lembut tangan ibu mertuanya.


Mau tidak mau, wanita itu akhirnya menurut. Dia hanya diam ketika sang menantu menggendongnya di depan. Sementara Imel tersenyum senang dengan apa yang terjadi. Akhirnya dia dapat berkumpul dengan ibu kandung yang selama ini terpisah.


Pria itu berjalan dengan langkah besar, di ikuti oleh Imel di belakang. Perempuan itu menatap takjub pada suaminya yang juga bersikap baik kepada ibu kandungnya, padahal dia sudah menipu pria itu selama ini.


Rasa bersalah kembali merasuki jiwa Imel, perempuan itu tanpa sadar meneteskan air mata. Menyesali perbuatannya yang terpaksa mengikuti perintah dari ayah kejamnya. Seorang ayah yang tidak pernah mengakuinya sebagai anak di hadapan orang lain.


"Kita pergi sekarang, Bos?" tanya Boy ketika melihat pemimpinnya menggendong tubuh ringkih wanita yang beberapa hari ini selalu di temui olehnya.


Pria itu tidak menjawab, hanya langsung berjalan maju untuk segera keluar dari tempat yang hampir tanpa udara segar itu. Dia yang baru saja menginjakkan kaki disana saja sudah merasa tersiksa, bagaimana istri dan mertuanya yang berada di tempat itu begitu lama.


Perasaan itu benar-benar membuat Reiner murka, jika saja pria bertopeng itu berada di depannya, dia pasti sudah melayangkan bogem mentah ke kepala yang tidak ada isinya itu.


Melihat sang bos sudah berjalan di depan, Boy dan Dean langsung mengejar pria itu. Mereka kini yang memimpin jalan, agar jika ada musuh di depan sana mereka bisa mengatasi dan melindungi keluarga bosnya.


Mereka berjalan di sepanjang lorong yang hanya di terangi dengan cahaya lilin. Untuk memudahkan penglihatan sang bos agar lebih hati-hati berjalan, Dean menyalakan senter yang dia bawa.


Setelah beberapa saat berjalan mereka akhirnya keluar dari ruangan terkutuk itu. Mereka langsung bertemu dengan anggota lain yang tengah berjaga disana. Mereka membiarkan sang bos dan istrinya untuk berjalan lebih dulu dengan posisi Dean dan Boy tetap berada di barisan paling depan.


Ketika mereka sudah berjalan untuk keluar dari markas Wild Wolf, Reiner di kelilingi oleh anggota yang dia bawa. Baru beberapa langkah mereka berjalan, dari belakang ada suara yang membuat langkah mereka terhenti, tidak terkecuali Imel dan Reiner.


"Waw, kau berkunjung ke markasku, Kak? Ada acara apa sampai membawa pasukan?"

__ADS_1


Reiner membalikkan tubuhnya, begitu juga dengan semua anggota Deadly Scorpion. Ketika melihat pria yang berdiri dengan angkuh di sana, Reiner menatap nyalang pada pria yang sialnya ternyata adalah adik iparnya.


Bersambung...


__ADS_2