
Seorang perempuan baru saja bangun dari tidurnya. Namun, matanya masih terpejam sempurna. Dia meraba-raba tempat di sampingnya untuk mencari pria yang seharusnya berada di tempat itu.
Kedua matanya reflek terbuka ketika menyadari yang di cari tidak ada di tempat, perempuan itu mengedarkan pandangan ke setiap penjuru ruangan. Netra bulatnya mencari sosok yang begitu amat dia rindukan.
"Rei," panggilnya seraya menyingkap selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
Tidak ada jawaban dari siapapun membuat perempuan itu kini turun dari ranjang empuk yang seharusnya bukan miliknya itu. Dia segera memeriksa kamar mandi, siapa tahu pria yang dia cari berada di sana. Namun, kamar mandi itu kosong. Perempuan yang hanya menggunakan lingerie berwarna hitam itu mendengus kesal.
"Dia pasti sudah pergi entah kemana. Pria yang menyebalkan! Di temani wanita cantik bukannya senang malah kabur-kaburan." Perempuan itu kembali menutup pintu kamar mandi dengan kasar.
Perempuan itu tanpa rasa malu keluar dari kamar hanya menggunakan pakaian yang hampir serupa dengan jaring ikan. Dia melangkah dengan angkuh menuruni satu persatu anak tangga untuk turun ke lantai dasar.
Ketika sampai di lantai dasar, setiap orang yang melintasi tempat itu menatapnya dengan aneh. Namun, perempuan itu bahkan tidak peduli kepada setiap sepasang netra yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda.
Perempuan tersebut kini melangkah menuju ruang makan untuk mengambil air. Tenggorokannya terasa kering setelah semalaman merokok karena tidak bisa tidur.
Saat sampai di ruang makan, perempuan itu melihat seseorang tengah duduk di kursi membelakanginya. Dari postur tubuh dan pakaian yang dikenakannya pria itu, perempuan tersebut sudah begitu yakin bahwa pria itu adalah pria yang sejak tadi dicarinya.
"Sayang," bisik perempuan itu tepat di telinga sang pria.
Kedua tangannya melingkar di perut sispax sang pria dengan kepala yang dia sandarkan di pundak pria tersebut. Sementara pria itu hanya sedikit menoleh, lalu kembali fokus pada makanan yang ada di hadapannya.
"Kamu kemana saja, kenapa semalam tidak pulang?" tanya perempuan itu dengan nada sensual.
Sang pria tetap diam tidak merespon, bahkan pria tersebut masih saja sibuk memotong sandwich yang menjadi menu sarapan paginya.
"Padahal, aku sudah siapkan kejutan yang sangat istimewa untukmu, Sayang." Tangan yang tadinya hanya diam di perut itu kini meraba ke dada bidang sang pria.
Semakin risih dengan apa yang di lakukan oleh perempuan itu, sang pria kini menyentuh tangan yang masih aktif menggerayangi tubuhnya tersebut. Dengan perlahan, si pria mencoba melepaskan kaitan tangan yang membelit tubuh berharganya.
'Dasar wanita gila! Wajahmu mungkin sangat mirip dengan istriku, tetapi kelakuanmu itu berbanding terbalik dengan sifat Imel." maki pria itu di dalam hatinya.
__ADS_1
"Maaf, Mel, aku lelah sekali. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak pekerjaan," ujarnya berusaha memberi pengertian.
Perempuan itu membuang nafas kasar. Dengan terpaksa melepaskan kaitan tangannya yang memeluk erat pria pujaannya. Langkah kakinya membawanya ke kursi yang berada di dekat Prie tersebut lalu mendaratkan bok*ngnya disana.
"Kamu itu menyebalkan, Rei! Sejak aku datang kemari, kita hanya bercinta sekali saja, itupun karena aku yang memulainya." Perempuan itu menendang kaki meja karena kesal.
Kedua alis pria itu menukik tajam ke atas dengan tatapan mata yang mengamati. "Kamu bilang sejak kamu datang kemari? Memangnya kamu dari mana?" pertanyaan itu sengaja di lemparkan oleh pria itu untuk menjebak perempuan itu.
Perempuan yang wajahnya persis dengan Imel itu kelabakan, tangannya saling meremas jemarinya sendiri di bawah meja sana.
'Sial! Aku kelepasan.' perempuan itu merutuki kebodohannya sendiri.
Perempuan itu melirik segala arah, netranya seperti sedang mencari sesuatu. "Em, maksudku setelah kita pindah ke mansion ini."
Reiner menyeringai di balik senyuman manisnya. "Kamu merasa seperti itu? Bukankah hampir setiap malam aku menc*mbu kamu?"
Hati perempuan itu bergemuruh ketika mendengar apa yang baru saja terucap dari bibir pria tercintanya. Pria itu membahas tentang hubungannya dengan Imel yang asli, jelas itu membuat perempuan itu sangat marah.
"Bukankah kamu dulu yang membahas tentang itu?" tanya Reiner balik.
Reiner benar-benar sengaja memutar balikkan semuanya agar perempuan itu sendiri yang merasa bosan kepadanya. Untuk saat ini dia memang belum bisa tegas terhadap perempuan tersebut, karena dia masih memiliki janji kepada sang mertua.
'Baju seperti itu di pakai sampai ke tempat umum, dia pikir tubuhnya itu akan membuatku menggila? Aku yakin jika di berikan percuma kepada orang tidak waras pun akan di tolak,' batin Reiner kembali mencela perempuan yang sedang bersandiwara tersebut.
"Tapi kan aku tidak sefulgar kamu, Rei," elak si perempuan.
"Baiklah, aku yang salah! Kalau begitu, aku berangkat dulu. Kamu nikmati saja waktu sendiri di mansion, karena Mami, Papi, dan Rachel sedang berlibur ke luar kota." Reiner mengelap mulutnya dengan tissue.
Pria itu bangkit dan berjalan keluar sebelum itu sudah menyambar tas kantornya yang berada di kursi sebelahnya. Tanpa berpamitan melalaui tindakan kepada perempuan yang dengan tidak tahu malunya berkeliaran di luar dengan pakaian terbuka.
"Rei," panggilnya seraya berlari mendekati si pria.
__ADS_1
Reiner menghentikan langkah, lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya lewat mulut. Pria itu tengah berusaha mengendalikan diri agar tidak lepas kendali dan memberi perempuan itu perhitungan.
"Ada apa?" tanyanya tanpa memandang perempuan yang berdiri di sampingnya.
"Kamu berpamitan dengan istrimu seperti ini?" tanyanya menuntut.
"Memang harus seperti apa? Aku benar-benar sedang buru-buru. Kalau kamu adalah Imel, dia pasti tidak akan menghalangi pekerjaanku seperti ini!"
Pria itu benar-benar merasa muak dengan apa yang di lakukan oleh perempuan yang tidak memiliki rasa malu itu.
"Maksudmu apa? Memangnya aku Imel palsu?"
Perempuan itu mulai tersinggung dengan ucapan Reiner. Wajahnya yang sejak tadi terlihat kalem, sekarang berubah merah padam. Reiner tahu, perempuan itu sebenarnya sedang termakan amarah yang sengaja dia lemparkan bertubi-tubi.
"Kau tanyakan saja pada dirimu sendiri, Mel. Sudahlah! Aku mau pergi." Reiner meninggalkan perempuan itu yang tengah berdiri dengan tatapan penuh amarah.
'Kau lihat saja nanti, Rei, kau sendiri yang akan mengemis cintaku setelah aku memb*nuh istri tercintamu itu!' batinnya tersenyum licik.
Perempuan itu memandangi punggung tegap Reiner yang semakin menjauh, separuh hati perempuan itu begitu mencintai pria yang saat ini meninggalkannya, akan tetapi separuh lagi dia juga membenci pria itu.
"Aku jadi lupa niatku turun ke bawah! Sialan, mansion sebesar ini tidak memiliki satupun pelayan. Hanya ada beberapa penjaga yang tidak berguna itu!" rutuknya dengan kesal.
Dia kembali ke dapur lalu mengambil segelas air putih dari dispenser, meneguk air itu hingga tandas tanpa waktu yang lama. Selesai dengan acara minum air putihnya, perempuan itu kembali ke kamar.
Masih dengan rasa kesal yang bersarang di hatinya, perempuan tersebut masuk ke kamar. Langkahnya langsung menuju kamar mandi, akan tetapi perempuan itu menghentikan langkahnya di ambang pintu ketika mendengar dering ponsel.
Perempuan yang berwajah cantik akan tetapi berhati iblis itu menyambar ponsel miliknya. Segera menerima panggilan yang berasal dari seseorang yang penting.
"Hallo," sapanya dengan malas.
"Kau kembali! Rencana kita sudah berantakan."
__ADS_1
Bersambung...