Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Deandra Setiano


__ADS_3

Apa, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Boy yang tidak nyaman dengan tatapan Dean.


"Kau membohongiku!" seru Dean dengan kesal.


Pria itu bahkan melemparkan kunci mobil tuan mudanya ke arah Boy, yang dengan sigap di tangkap oleh remaja tampan yang berada di samping Ferry.


"Dek, Boy tidak tahu apa-apa. Aku sengaja merahasiakan rencana ini dari siapapun, kecuali Tuan Reiner," ungkap Ferry yang tidak ingin sang adik salah paham kepada remaja yang dekat dengannya itu.


"Kau jangan membelanya, Kak!"


Dean tetap tidak terima, dia merasa di bohongi oleh mereka. Padahal dia sudah sampai benar-benar frustasi karena memikirkan keadaan sang kakak.


"Hei, Kak, kau ini apa-apaan? Aku sama sekali tidak tahu tentang rencana itu, aku saja sampai menghawatirkan Kak Ferry," jujur remaja itu.


Melihat ketiga orang di depannya malah berdebat, Reiner membuang nafas kasar. Mereka sudah persis anak kecil yang saling membela diri masing-masing dan tidak ada yang mau mengalah.


"Dari pada kalian sibuk berdebat, lebih baik antar aku pulang ke mansion utama!" perintah Reiner merasa jengah.


"Kita bertiga yang mengantar anda, Bos?" tanya Boy dengan wajah tanpa rasa bersalah.


"Kau saja! Biarkan Ferry tetap menjaga mansion ini." Reiner langsung masuk ke dalam mobil yang memang pintunya tidak terkunci.


"Lalu, Kak Dean?" tanya Boy sekali lagi.


"Biarkan Dean beristirahat, dia itu orangnya Ace bukan pengawal pribadiku!" seru Reiner yang tidak ingin berlama-lama membuang waktu.


"Baik, Tuan." Jawab ketiga orang itu serentak.


Boy langsung mengitari mobil untuk masuk ke pintu kemudi. Sementara Dean dan Ferry tetap berdiri di tempatnya.


Mobil yang di kendarai Boy kini melesat hingga hilang tertelan jarak setelah keluar dari gerbang tinggi mansion pribadi Reiner.

__ADS_1


Dean melirik sang kakak dengan raut wajah sulit di artikan, dan hal itu justru membuat Ferry menahan tawa. Seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya itu kini merangkul bahu sang adik lalu menuntunnya berjalan masuk ke dalam paviliun mansion.


"Kau tidak perlu merajuk, Dek. Yang penting aku sudah pulang dengan selamat," ujar Ferry berusaha merayu sang adik.


Dean melepaskan rangkulan tangan sang kakak yang berada di pundaknya. Remaja itu menatap sang kakak begitu dalam. "Kalau kau melakukan hal itu lagi, aku akan menyusulmu, Kak!" ancam Dean serius.


"Baiklah, baik, aku tidak akan melakukan itu lagi. Dasar cengeng! Nona Ace pasti akan malu memiliki asisten sepertimu." Iseng, Ferry menjitak kepala sang adik lalu berlari menjauh.


Biasanya Dean akan marah dan mengejar sang kakak jika kakaknya itu sampai melakukan hal itu, akan tetapi kali ini justru tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Aku lebih rela kau jitak terus menerus dari pada terpisah denganmu, Kak," gumam Dean dengan senyum manisnya.


Dean adalah adik satu-satunya Ferry, nama panjangnya Deandra Setiano walaupun usianya masih remaja, pria itu memiliki tinggi 170 CM dengan berat badan 65 KG. Tubuhnya yang tinggi besar membuatnya begitu terlihat kuat dan tidak terkalahkan. Namun, siapa sangka hati remaja itu begitu rapuh.


Tumbuh sebagai seorang yatim piatu menjadikan Dean pria yang terlihat dingin dan tidak tersentuh, akan tetapi sebenarnya remaja itu selalu merasa sepi ketika sendirian. Itu sebabnya dia lebih suka menyibukkan dirinya dari pada menikmati waktunya sendirian.


"Aku hanya punya kakak sebagai keluarga kandungku, Kak. Beruntung kita hidup bersama pemimpin yang tidak pernah membeda-bedakan kasta. Terima kasih sudah membawaku ke tempat ini," ujarnya dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.


Dean mencoba menguasai dirinya kembali dengan memejamkan kedua matanya, lalu tangannya dengan cepat menghapus jejak air mata yang sudah kurang ajar mampir di wajah tampannya. Dean langsung membalikkan tubuhnya dan keluar dari mansion utama.


Di markas Wild Wolf, pria bertopeng baru saja kembali dari transaksinya yang gagal total, bahkan dirinya hampir tertangkap oleh pihak berwajib. Beruntung dia cerdik dengan melarikan diri menggunakan sebuah perahu yang ada di tepi dermaga.


Ketika memasuki gedung megah yang merupakan markasnya, pria bertopeng itu murka. Melihat penjaga markas di bagian depan sudah babak belur, belum selesai dengan masalah itu dari dalam tiba-tiba seorang anggota berlari mendekatinya dengan napas terengah-engah.


"G-gawat, Tuan!" serunya dengan terbata.


"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara datar.


"Kita di serang, Tuan. Semua anggota yang berjaga di belakang sudah tidak tersisa," jawabnya dengan lugas.


"Kurang ajar! Siapa yang berani menyerang markasku, dan dimana Aldev?" tanyanya penuh amarah.

__ADS_1


"Aku disini." Aldev berjalan mendekati pria bertopeng itu. "Untuk apa mencariku? Kau ingin tahu siapa yang sudah menyerang tempatmu ini?"


Mendapat jawaban yang bertele-tele, pria bertopeng itu semakin geram. Kedua tangannya mengepal erat lalu melayang hingga mendarat di perut Aldev.


Pria yang baru saja merasakan pukulan dari pria bertopeng itu hanya tertawa. Sudah terbiasa seperti ini, dia selalu mendapatkan hukuman fisik dari pria itu bahkan sejak usianya masih kecil. Hal itu yang membuat Aldev memiliki sifat psycopath.


"Siapa yang menyerang tempat ini, Bodoh!" bentaknya seraya kedua tangan itu mencengkram kerah kaos yang di gunakan oleh Aldev.


Tidak ada raut ketakutan di wajah Aldev ketika mendapatkan bentakan hingga pukulan dari pria bertopeng itu. Sudut kiri bibirnya justru terangkat, dia sengaja membuat pria yang tengah mencengkram dan memojokkannya ke dinding itu semakin terbakar oleh amarahnya sendiri.


"Kalau kau mau tahu, tanyakan saja pada putrimu," jawab Aldev acuh.


Pria bertopeng yang masih mencengkram kerah kaos yang di pakai Alvino dengan erat itu kini melepaskan cengkeramannya. Rasa terkejut pria itu ketika mengerti bahwa Aldev sudah mengetahui tentang rahasia yang selama ini dia sembunyikan.


"Kau tega sekali, Pak tua! Kau menghianati cinta dari Mamaku!" seru Aldev dengan berani.


Sejak tadi dia memang membiarkan pria tua itu mengeluarkan segala emosinya yang meledak-ledak. Sekarang, gilirannya sendiri yang akan memberi perhitungan pada pria bertopeng itu.


"Apa maksudmu, Al? Aku tidak pernah menghianati Mamamu!" elak pria bertopeng yang dalam keadaan terpojok.


"Aku bahkan tidak mengira bahwa kau tega menyembunyikan identitas putri yang kau dapatkan dari pernikahan tidak sah! Atau jangan-jangan kematian salah satu putrimu juga hanyalah rekayasa," tebak Aldev dengan tatapan sengit.


Tamparan keras mendarat di wajah tampan Aldev, pria bertopeng itu sangat tidak terima dengan semua ucapan dari pria muda yang semakin menyudutkannya. Sementara Aldev hanya mengelus pipinya yang terasa kebas.


"Cukup, Pah? Atau masih kurang? Tampar Al lagi, Pah! Silahkan tampar Al sampai Papa puas!"


"Kau semakin berani, Kep*rat!" Emosi yang mencapai puncaknya, pria bertopeng itu mengeluarkan sebuah pistol dari balik saku jasnya dan langsung mengarahkannya ke arah pria yang memanggilnya dengan sebutan Papa.


"Stop, Rico!" bentak seseorang yang berada di belakang punggung pria bertopeng itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2