
Seorang pemimpin sebuah klan mafia yang misinya memang berbeda dari kebanyakan mafia-mafia lain, duduk di sebuah kursi tunggal. Di belakangnya, berdiri seorang pria yang hari ini dengan berani menentang perintahnya, bahkan mengancam seorang bos sepertinya dengan nyawanya sendiri.
Di depan pria itu, duduk seorang wanita di kursi rodanya. Sementara di samping wanita itu, juga ada seorang wanita yang usianya tidak jauh darinya.
Sang pria menatap jengah kepada dua wanita yang masih diam di depannya, sedangkan pria yang merupakan tangan kanannya itu sama sekali tidak merasa bosan tetap berdiri di tempatnya.
Sudah hampir 20 menit pria itu duduk disana, tetapi belum ada satupun kata yang keluar dari salah satu wanita yang tadi dengan gigih ingin menjelaskan sesuatu.
Pria itu menyilangkan kakinya, menggoyangkannya dengan kencang, agar ketiga orang yang memaksa dia tetap tinggal merasakan kebosanannya di tempat itu. Namun, memang belum ada satupun yang berniat membuka mulut.
Jengah dengan keadaan yang amat sangat membosankan, pria itu berdehem. Membuat kedua wanita yang berada di depannya menatapnya dengan intens.
"Aku harus menunggu berapa lama lagi?" tanyanya dengan nada datar.
__ADS_1
"Sebentar, Rei, beri aku waktu sebentar lagi."
"Kau pikir 20 menit itu waktu yang sebentar? Jika aku melawan penjahat, sudah menumbangkan 10 penjahat sekaligus dalam waktu selama itu!"
Reiner menatap tajam pada wanita yang begitu gigih ingin menjelaskan sesuatu, tetapi nyatanya sama sekali belum ada satupun kata yang coba di jelaskan.
"Atau sebenarnya, kau memang tidak ingin menjelaskan? Hanya mau memberi omong kosong, aku jadi berpikir bahwa kalian ini masih merencanakan sesuatu! Oh, jangan-jangan kau berniat kembali menjebakku, seperti dulu." Reiner menaikkan sebelah alisnya.
"Tuan!"
Seseorang tiba-tiba datang dari arah pintu masuk, datang dengan langkah tergesa sambil membawa sebuah map berwarna kuning.
"Maaf, Nona, saya terlambat." Pria itu menyodorkan map itu ke arah wanita berambut pendek dengan nafas terengah.
__ADS_1
Wanita itu menerima map dari pria yang baru datang itu, lalu langsung memberikannya kepada Reiner. Namun, Reiner tidak menerima uluran map darinya membuat wanita itu meletakkan map berwarna kuning itu di meja depan Reiner.
Pria itu hanya meliriknya sebentar, tidak berniat membuka barang pemberian wanita itu. Reiner bahkan berdecak kesal, mungkin dia mengira bahwa itu hanyalah sebuah surat tidak penting.
"Bukalah, Tuan!" Kali ini Ferry benar-benar berani memerintah Reiner.
Mendapat perintah dari tangan kanannya itu, Reiner menatap tajam pria di belakangnya. Pria itu masih berusaha menahan amarah atas kelancangan yang di lakukan oleh Ferry. Jika bukan karena Ferry sudah lama ikut dengannya, mungkin dia akan benar-benar melenyapkan laki-laki itu.
Reiner mengambil map berwarna kuning yang berada di hadapannya. Membukanya dengan mata tetap lurus menatap tidak suka pada kedua wanita di depannya. Saat sudah meraba isi di dalamnya, pria itu mengeluarkan apa yang di pegang oleh tangannya. Mata yang sejak tadi fokus pada kedua wanita itu, kini beralih pada benda yang di pegangnya.
Mata tajam itu membulat sempurna ketika melihat apa yang ada di dalam gambar tersebut. Sebuah potret yang menunjukkan sang istri bersama dengan seorang pria yang dia ketahui adalah orang tua Alvino Maladeva.
Reiner langsung melemparkan foto itu ke depan kedua wanita yang masih menatapnya. "Apa-apaan ini!"
__ADS_1
Bersambung...