Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Sun


__ADS_3

"Rico, mau kau apakan putraku !" bentak Nyonya Seren kepada pria paruh baya yang sedang menghajar tubuh lunglai Aldev dengan sangat kejam.


"Untuk apa, Mah, laki-laki lemah seperti anakmu ini! Tidak berguna !" Pria paruh baya itu mengehempaska tubuh Aldev hingga jatuh ke lantai.


Nyonya Seren segera meraih Aldev ke dalam pelukannya. Sama sekali tidak menyangka, Suaminya akan setega ini pada sang putra.


"Kau, tidak pernah sadar, Co ! Aldev seperti ini juga karena menuruni Gen si*lan milikmu, kau lupa, bahwa cinta butamu di masa lalu harus mengorbankan wanita yang kau cintai !" bentak Nyonya Seren menatap suaminya dengan benci. "Aldev masih bisa ku maklumi, karena dia hanya menyakiti dirinya sendiri!" lanjutnya dengan suara bergetar. Mengingat betapa sadisnya sang suami mengejar obsesinya dalam cinta.


"Kau berani padaku Ren !" Suara Tuan Rico meninggi, bahkan tangannya sudah melayang ke udara. Siap untuk menggampar sang istri, karena telah berani mengungkit kisah kelamnya.


Saat tangan Tuan Rico sudah hampir sampai pada target, Aldev dengan sisa-sisa kesadarannya, segera bangun. Pria yang sedang patah hati itu menangkap tangan sang ayah yang hampir saja menyakiti ibunya.


"Jangan pernah, sakiti Mamah, Pah! Aldev tidak akan memaafkan Papah, jika terjadi sesuatu pada Mamah !" Aldev membentak sang ayah seraya menghempaskan tangan ayahnya dengan kasar.


"Alvino Maladeva ! Kau sudah berani menentang Papah !" Tuan Rico semakin emosi karena putranya justru membantah dirinya.


"Kenapa, Pah? Aldev hanya anak seorang pembunuh dari ibu Ar...." Belum selesai dengan ucapannya. Tuan Rico kembali mendaratkan sebuah tamparan pada pipi Aldev.


Aldev memegang bekas tamparan sang ayah, tidak heran. Sejak kecii, Aldev memang di didik dengan kekerasan. Jadi tidak perlu di ragukan lagi, sifat kejam Aldev menurun dari siapa.


"Kenapa, Pah? Aldev, hanya ingin menebus kesalahan padanya dengan menjaganya. Apa itu salah?" Aldev tetap meneruskan ungkapan hatinya, walau sudah pajam. Sang Ayah begitu murka.


"Teruskan Aldev, biar ku bu*uh sekalian Mamahmu!" Teriak Tuan Rico dengan suara tinggi.


"Papah berani, menyentuh Mamah sedikit saja. Aldev akan ratakan Wild Wolf !" Ancam Aldev menatap garang sang ayah.


*****


Setelah berbincang-bincang lama, Ayah Hendra dan Ibu Salma berpamitan pulang. Syifana tidak mau ikut karena lebih memilih ikut Ara dan Ali. Daddy Haris juga sudah berangkat ke kantor untuk mengurus pergantian Direktur.


Ali sudah mengganti baju kantornya dengan pakaian Casual, Ali mengemudikan mobil milik Ara dengan santai, di sampingnya, Ara duduk dengan tenang. Sedangkan di belakang, Syifana ribut sendiri dengan ponselnya.

__ADS_1


"Hai, gay, Syifa lagi jalan-jalan sama pengantin baru, nih, mau tau enggak ? Siapa pengantin baru, yang dengan suka rela Syifa intilin? Nih, Syifa kasih lihat. Ada Kak Ara, dan Abang Ali gays ! Kak Ara, senyum dong. Bang Ali juga senyum," Gadis remaja itu berceloteh seraya merekam kegiatan mereka di mobil. Merengek kepada Kakaknya untuk tersenyum ke arah kamera.


Karena tidak tega dengan rengekan sang adik, Ara menurut. Gadis berkacamata itu tersenyum ke arah kamera dan menyapa penggemar Syifa. Maklum saja, Syifa adalah seorang konten creator. Semua kegiatan yang di lakukan, selalu ia abadikan dan di unggah di Chanel Utub miliknya.


"Hai, Saya Ara, kakak ipar Syifana. Kalian apa kabar di sana?" Ara menyapa followers Syifa dengan senyum manisnya.


"Manis 'kan, Aku kan udah bilang. Kakakku itu, cewek tercantik di dunia ini. Setelah Ibu pastinya," Gadis itu menggoda Ara, Namun, justru Ali yang tersedak air liurnya sendiri.


"Bang Ali, kenapa?" Gadis itu beralih pada Abangnya. Sedangkan Ali, di tanya seperti itu. Dia hanya meraba tengkuknya yang tidak gatal. Mencari alasan yang akan di berikan pada Adiknya. Akan tetapi, setelah mencari-cari tidak menemukan ide. Ali mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Abang tidak apa-apa, Syifa ikut Kak Ara belanja, mau beli apa?" tanya Ali mencoba memecah fokus Syifa pada Vlognya.


"Belum tahu, Kak Ar ngajaknya mendadak, sih," jawab gadis itu dengan polos.


"Kak Ara hanya iseng ngajakin kamu, tahu. Padahal, Abang yakin, Kak Ara ingin berduaan dengan Abang. Kau ini mengganggu saja," Medengar ucapan Ali, Syifa segera mematikan rekaman yang sedang ia abadikan.


"Abang, apa, sih ! Syifa jadi harus mengedit lebih gara-gara ucapan Abang barusan, tahu !" Syifana pura-pura merajuk. Melihat itu, Ara segera merayu adik iparnya.


"Kak Ara, memang terbaik. Tidak seperti Abang !" Syifana menjulurkan lidahnya, mengejek sang kakak. Bahwa kali ini, dia yang menang.


Ali tersenyum tipis, melihat kedekatan Ara dan Syifa. Mereka seperti Kakak beradik kandung dari pada ipar.


"Apa aku harus membuka hati, untuk Ara. Syifana bahkan merasa bahagia saat bersama Ara, Ayah dan Ibu juga sangat menyayangi dia. Tapi, bagaimana permintaan Asila, dia ingin aku bersama Clarissa. Ah, kenapa aku malah teringat si J*lang itu, sih," Batin Ali, tanpa sadar, Ali memukul stir mobil hingga Ara menoleh ke arahnya.


"Kenapa, Danish?" tanya Ara penasaran.


"Tidak apa-apa Moon, aku hanya pegal saja. Kau tidak perlu khawatir," Elak Ali memberi alasan.


"Jika sudah pegal, gantian tidak apa-apa, Danish. Biar aku yang menyetir," tawar Ara pada suaminya.


"Tidak, Moon, aku tidak apa-apa," ucap Ali meyakinkan.

__ADS_1


"Kak Ara, Abang kan panggil Kakak dengan sebutan Moon. Terus, Kak Ara belum punya sebutan sayang untuk Abang?" tanya Syifana menuntut.


"Em, Kak Ara belum punya ...."


"Kak Ara tidak mau, panggil Abang Sun, Syif. Padahal Abang sudah romantis loh, pada Kakakmu itu," Ali menyela ucapan Ara yang belum selesai.


"Wah, ayoo kak, panggil Sun, itu kan artinya matahari. Cocok, Abang matahari, Kak Ara bulannya. Ya 'kan, Bang?" Bujuk Syifa dengan serius.


"Em, Kakak belum terbiasa. Syifa,"


"Ayolah, Kak, belajar dari sekarang !" Gadis remaja itu merengek lagi pada Ara.


"Emh, baiklah, Sun apa tidak aneh?" Ara merasa belum nyaman jika harus memanggil Ali dengan sebutan itu.


"Bagus kak, ih, So sweet," Gadis itu meyakinkan Ara bahwa panggilan itu sudah pantas ia sematkan untuk Ali.


Mobil berhenti di bastman pusat perbelanjaan. Ara keluar bersama dengan Syifana. Ali menyusul berjalan di belakang, setelah berhasil mengejar langkah kedua wanita itu. Dia memisahkan Ara dan Syifana, berganti Ali yang berjalan di tengah, dengan menggendeng kedua wanita kesayangan Ibu Salma.


Saat mereka berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan, tiba-tiba ada yang memanggil Ali dengan mesra.


"Ali, Baby. Akhirnya ketemu, aku rindu,"


Mendengar panggilan wanita itu kepada suaminya, Ara melepas genggaman tangan Ali pada tangannya. wanita yang menyapa Ali berlari, mendekat ke arah Ali dan bersiap memeluknya. Namun, berhenti saat Ali mengucapkan sesuatu.


"Berhenti ! Aku tidak sudi di sentuh wanita sepertimu !"


BERSAMBUNG...


Thanks For Reading. terima kasih hadiah yang kalian kasih, Like dan komen yang kalian berikan. Aku sangat berbahagia.


_Nurmahalicious_

__ADS_1


__ADS_2