
Ali mendekati kedua perempuan yang masih terkejut dengan kedatangannya. Ali sangat penasaran dengan satu nama yang di sebut oleh Mami Jane.
"Siapa Sila, Mi?" tanya Ali menuntut.
Mami Jane kebingungan untuk menjawab pertanyaan sang menantu. Tidak mungkin jika dia menjelaskan siapa Sila yang sebenarnya.
"Si-Sila i-itu temen ... K-kak Rei, Sun. Dia dulu pernah bekerja di sini. Dia juga yang menemani Mami ke manapun Mami pergi," jawab Ara gugup.
"Iya, Li, dia pekerja Mami paling setia sebelum bersuami dan pindah ke Luar Negeri," sela Mami Jane berusaha meyakinkan Ali.
Ali memicingkan sebelah matanya, pria itu mencium aroma kebohongan yang di lakukan oleh sang istri. Namun di depan Mami Jane dia tidak mau membahas soal ini berkepanjangan.
"Oh," jawab Ali singkat.
"Emh, Sun. Kita jadi pulang sekarang?" tanya Ara berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Iya, aku ke sini juga mau berpamitan sama Mami."
Mendengar ucapan keduanya, Mami Jane menunjukan raut wajah tidak bersemangat. Wanita paruh baya itu belum merasa puas melepas rindu pada putri bungsunya.
Melihat raut wajah Mami Jane yang tiba-tiba sedih, Ara kembali memeluk sang Mami dan bersandar di bahu Mami Jane. Sebenarnya Ara juga masih ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu. Akan tetapi dia juga harus menyelesaikan urusannya dengan Aldev.
"Mami jangan sedih, sekarang kan Ara punya jadwal menginap di sini setiap bulannya." Mengelus punggung Mami Jane dengan lembut.
Mami Jane meneteskan air mata, dia benar-benar belum rela untuk berpisah dengan Ara sekarang. Sebelum menikah Ara sering menginap di mantion ketika Mami Jane pulang hingga pergi ke Luar Negeri lagi. Tapi sekarang Ara hanya menginap 2 hari 1 malam di mantion.
Gadis mungil kesayangan keluarga Gunawan dan Aditia itu tahu betul sang Mami sedang menangis karena ada air yang menetes di bahunya.
"Mi, Ara janji akan lebih sering ke sini. Dan Ara akan merencanakan honeymoon ke Korea bersama Mami," Rayu Ara pada Mami Jane.
Mami Jane melepaskan pelukan itu dan tangannya berpindah memegang kedua bahu Ara. Mata yang tadi sayu kini berubah berbinar.
"Ara serius, Sayang?" tanya Mami Jane antusias.
"Iya, Mi, Ali juga belum pernah pergi ke Negara itu. Pasti mengasikkan kalau bisa ke sana ramai-ramai."
__ADS_1
"Wah, ide bagus. Ajak semua keluarga kamu juga ke sana, Ali. Mami yang akan mengurus segalanya," ucap Mami Jane bersemangat.
"Boleh, Mi. Nanti Ali sampaikan pada Ayah dan Ibu. Syifana pasti senang jika di ajak ke Negara itu. Dia kan punya idola di sana," jawab Ali menyetujui ide konyol Mami Jane.
Ara menatap suaminya, Apakah yang di ucapkan Ali serius. Mana mungkin Honeymoon berombongan seperti orang treveling. Akan tetapi gadis itu cukup senang dengan keputusan Ali yang ingin mempunyai waktu bersama dengan keluarga besar mereka.
"Ya sudah, kalau kalian mau pulang. Ali jangan lupa kasih tahu Ayah dan Ibu! Ara juga kasih tahu Daddy biar bisa ikut juga." perintahnya pada keduanya.
"Iya, iya, Mi. Jangan lupa ajak Kak Reiner juga. Nanti Kak Imel merajuk kalau di tinggal sendirian di Indonesia." Ara mengingatkan.
"Beres!" Mami Jane kembali memeluk putri kesayangannya.
Betapa beruntungnya dia memiliki Ara yang mempunyai suami penurut dan tidak pernah mau melukai hati orang tua. Asila benar-benar berjasa atas kebahagiaan yang mereka dapatkan saat ini, tentunya dengan kerja keras Ara juga untuk mendapatkan hati seorang Ali Danish Mahendra.
Setelah puas memeluk gadis kesayangannya, Mami Jane melepaskan pelukan itu. Ara dan Ali segera berpamitan dengan wanita paruh baya yang saat ini masih menunjukan raut wajah berseri-seri.
"Ara dan Danish pulang dulu ya, Mam." pamit keduanya.
"Iya, hati-hati di jalan, Sayang!"
Di tengah gemerlapnya lampu sepanjang jalanan kota. Jalan yang sedikit agak padat dengan aktifitas para manusia yang masih menjalani kegiatan melelahkan atau ada yang hanya sekedar mencari hiburan dengan menuju tempat-tempat favoritnya.
Ara mengemudikan mobil milik Ara dengan santai. Di sebelahnya duduk seorang gadis yang terus memandang suaminya dengan mata berbinar. Di dalam hatinya ia bersyukur karena perubahan yang di tunjukan oleh sang suami.
Ali benar-benar berbeda dengan Ali yang Ara ketahui sebelum mereka menikah. Pria itu begitu lembut dan sangat menghargai perasaan keluarganya.
"Moon, kenapa memandangku terus?" tanya Ali seraya melirik Ara di sampingnya.
Ara mengalihkan pandangan ke depan. Gadis itu cukup merasa malu karena terpergok memandangi suaminya sendiri.
"Emmm, apa tidak boleh, Sun?" Ara melempar pertanyaan kembali pada sang suami.
Ali tersenyum tipis, pria itu menyentuh tangan kanan Ara untuk di genggam. Walau dengan pandangan masih terfokus pada jalanan di depannya.
"Boleh, kamu mau pandangi aku terus seumur hidup kamu juga boleh. Kamu kan istriku," ujar Ali dengan lembut.
__ADS_1
Mendengar kata yang di ucapkan oleh Ali, pipi Ara mendadak panas dan memerah. Gadis itu berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya dengan mengalihkan pandangan ke luar kaca cendela pintu mobil di sebelahnya.
"Moon, aku di sini. Bukan di sana," goda Ali pada Ara.
Ali tahu istrinya sengaja menghadap ke arah luar guna menyembunyikan perasaan gugup atas ucapan yang keluar dari mulutnya. Ali semakin menggoda Ara dengan mencium tangan Ara yang ada di genggamannya.
Ara menoleh dan menatap Ali yang sedang mengecup tangannya dengan mesra. Walaupun Ara belum yakin bahwa Ali sudah jatuh cinta padanya. Gadis itu merasa bahagia karena perlakuan Ali tidak seperti pertemuan mereka sebelum pernikahan.
"Sun, boleh tambah laju kecepatan mobilnya. Aku sudah ingin sampai di rumah kita." pinta Ara.
Ali menyetujui permintaan sang istri dan menambah kecepatan laju mobil yang di kendarainya. Hingga setelah beberapa menit mengemudi mereka sampai di rumah yang mereka tempati.
Ara segera turun setelah mobil berhenti, Ali menyusul langkah Ara yang sudah hampir sampai di depan pintu. Gadis itu sudah bersiap memencet bell rumah miliknya. Selama tidak pulang ke rumah, Ara memerintahkan beberapa penjaga dan juga satu asisten rumah tangga untuk menjaga rumah itu.
"Moon, tunggu dulu. Aku mau tanya sesuatu?"
Ara mengurungkan niatnya untuk memencet bell rumahnya ketika mendengar ucapan Ali. Gadis itu menunggu sang suami untuk mengatakan apa yang ingin di katakan.
"Kenapa, Sun?" tanya Ara ketika Ali belum juga mengeluarkan pertanyaannya.
"Eem, kita tidur di kamar yang sama atau sendiri-sendiri lagi?"
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Author bawa rekomendasi baru lagi nih, jangan lupa mampir yah. Karya Haryani dengan judul Noda Hutang di atas PERNIKAHAN
Ketika harga diri seorang wanita tidak lebih dari selembar materai, mampukah ia bertahan di dalam keluarga yang kaya raya dan terpandang.
Hidup di dalam garis kemiskinan membuat Virgo harus digadaikan demi membayar hutang kedua orang tuanya. Bertemu dengan Dylan seorang pemuda yang terkenal dingin dan ringan tangan membuatnya berjuang ekstra demi bisa bertahan hidup.
__ADS_1