
Mereka akhirnya pulang ke mansion Daddy Haris menggunakan satu mobil. Sedangkan mobil yang lain terpaksa mereka tinggalkan, tetapi sudah ada orang yang Reiner suruh untuk mengurus bangkai mobil itu.
Kali ini mereka menempuh perjalanan dengan lebih waspada pada sekitar. Mereka tidak mau hal seperti tadi terjadi lagi. Apa lagi saat ini mereka hanya menggunakan satu mobil, hal itu dapat memudahkan lawan untuk melakukan penyerangan kembali.
Setelah 30 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di mansion Daddy Haris dengan selamat. Begitu sampai di rumah besar nan megah itu, mereka semua turun.
Ara dan sang ayah segera masuk ke dalam mansion dengan warna putih lebih mendominasi. Reiner masih berada di luar dengan beberapa pengawal yang ikut dengannya.
"Boy, kau obati dulu luka tembakan itu. Atau mau aku bantu mengeluarkan pelurunya?" Reiner menawarkan bantuan pada remaja laki-laki yang sudah hampir 2 tahun ini ikut dengannya.
"Tidak perlu, Bos. Saya bisa melakukannya sendiri," tolak remaja itu dengan sopan.
Reiner bertemu dengan remaja yang kini sangat patuh padanya itu sejak 2 tahun yang lalu. Berawal dari sebuah kejadian kriminal yang di lakukan oleh Boy yang masih berusia 15 tahun. Remaja itu melakukan perampokan yang hampir membahayakan nyawanya sendiri. Beruntung Reiner saat itu kebetulan lewat di tempat kejadian.
__ADS_1
Rasa kasihan kepada remaja itu membuat Reiner akhirnya menolong anak malang itu dan membawanya pulang ke markas Deadly Scorpion. Laki-laki tampan itu dengan sabar dan telaten melatih Boy agar menjadi anak yang kuat dan tidak salah jalan. Akhirnya dengan bimbingan Reiner dan beberapa anggota lain, Boy tumbuh menjadi anak yang kuat dan pemberani.
"Baiklah kalau begitu aku masuk dulu," pamit Reiner kepada anak remaja yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.
Remaja tangguh, pemberani dan sopan itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Boy sangat menghormati Reiner serta Ara dan beberapa anggota yang lebih senior darinya. Meski sebenarnya Boy sudah mempunyai kemampuan yang hampir sama dengan seniornya. Kegigihannya dalam melakukan tugas tak pernah membuat Reiner kecewa.
"Boy, cepat keluarkan peluru itu! kau sudah banyak kehilangan darah." Salah satu senior menarik Boy untuk mengobati lukanya.
"Kenapa berhenti, Sayang?" tanya Daddy Haris seraya menepuk bahu sang putri.
Ara menoleh lalu menatap sang ayah. Tetapi tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya. Ia sangat merasakan kegelisahan kali ini. Bagaimana jika seseorang yang kini tengah menatapnya di ujung tangga sana akan memilih pergi meninggalkan dirinya.
"Temui suamimu, Sayang. Jelaskan apa yang ingin dia ketahui. Jangan tutupi apapun lagi darinya, Daddy yakin dia akan memaafkan apapun kesalahan yang kamu perbuat. Asalkan kamu berani mengakuinya dan meminta maaf," ujar pria paruh baya yang tak lain adalah Daddy Haris.
__ADS_1
Gadis yang kini masih bergaya stylish itu tidak sadar bahwa sang suami menatapnya karena gayanya yang lain dari biasanya. Ini pertama kalinya Ali melihat sang istri dalam balutan gaya modern dan rambut yang di gerai dengan indah.
Ali bahkan menatap Ara tanpa kedip. Laki-laki itu bahkan lupa dengan ucapan Clarissa yang mengatakan bahwa sang istri adalah kelompok mafia bengis.
Ara yang kini mendapatkan dukungan penuh dari sang ayah. Mulai memberanikan diri melanjutkan langkahnya. Gadis itu melangkah pelan menaiki anak tangga hingga sampai di hadapan sang suami yang masih saja terpaku dengan kesempurnaan yang di miliki oleh sang istri.
"Sun, Maaf." Ara menundukkan kepala ketika sudah berhadapan dengan laki-laki yang di cintainya.
"Kenapa minta maaf?" tanya laki-laki itu seraya menyentuh dagu sang istri dengan sedikit mengangkat wajah ayu bidadari di depannya.
"Kamu cantik, Moon." tanpa sadar, Ali justru memuji kecantikan sang istri yang beberapa hari ini tidak ia lihat.
__ADS_1