Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Imel yang aneh


__ADS_3

Begitu acara keluarga untuk menyampaikan kabar kehamilan Ara sudah selesai, mereka pulang ke kediaman mereka masing-masing.


Reiner masih saja bersikap acuh kepada istrinya. Pria itu bahkan tetap saja pulang ke mansion pribadi miliknya, sedangkan sang istri ikut Mami Jane pulang ke mansion utama.


"Mel, apa masalahmu dengan Rei belum selesai juga?" tanya Mami Jane penasaran.


Wanita paruh baya itu cukup peka dengan jarak sang putra dengan menantunya. Di rumah Ara tadi, bahkan Reiner sama sekali tidak menyapa istrinya.


"Imel tidak tahu, Mam. Reiner mendiamkan Imel sejak saat memutuskan untuk tinggal terpisah," ucap Imel dengan lirih.


Perempuan itu cukup sedih dengan apa yang kini di lakukan oleh suaminya. Di depan keluarga, bahkan Reiner berani mengacuhkannya.


"Sudahlah, Mam. Tidak perlu ikut campur, Reiner sudah dewasa. Mungkin ada sesuatu yang membuat dia harus melakukan ini," ujar Papi Adit menyela.


Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu berusaha untuk menghentikan pembahasan tentang putranya. Dia juga pernah muda, dan hidupnya tidak jauh berbeda dengan apa yang di lakukan sang putra saat ini.


Lagipun Papi Adit dapat merasa ada ketidak nyamanan sang menantu ketika membahas sikap suaminya itu. Mungkin perempuan muda itu juga memiliki sebuah rahasia yang tidak mungkin dia ungkapkan saat ini.


Mobil yang di kendarai oleh Papi Adit sendiri melesat membelah jalanan yang memang sudah sepi, malam sudah hampir larut. Hanya ada lampu jalan yang menerangi kegelapan yang semakin sunyi.


Gadis kecil yang tertidur dengan berbantalkan paha sang ibu terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya. Imel memandangi wajah polos yang tadi sempat merengek ingin ikut sang ayah itu dengan sendu. Dia sadar bahwa semua ini adalah kesalahannya. Jika saja dulu dia tidak mengikuti kemauan dari ayah jahatnya, mungkin hal ini tidak akan terjadi.


Lamunan Imel berhenti ketika mobil yang di kendarai oleh sang mertua tiba-tiba berhenti mendadak. Perempuan muda itu langsung menatap ke depan, kedua mertuanya itu justru menatap ke belakang.


Ternyata mereka sedang di hadang oleh satu mobil Jeep yang tiba-tiba berhenti tepat di depan mobil yang di tumpangi oleh keluarga Sanjaya. Beruntung Papi Adit berhasil mengerem mobilnya, jika tidak sudah di pastikan mereka akan menabrak mobil itu.


"Kamu jaga Rachel di dalam, biar Papi yang mengatasi ini." Papi Adit langsung turun dari mobil.

__ADS_1


Ketika pria paruh baya itu melangkah mendekati mobil itu untuk mempertanyakan maksud mereka menghalangi jalan, dari mobil itu justru keluar lima orang dengan tubuh tinggi besar bagaikan petinju-petinju profesional.


Melihat hal itu, Mami Jane mengkhawatirkan sang suami. Wanita paruh baya itu ikut turun, sebelum itu dia sempat mengambil sesuatu yang berada di dasbor mobilnya.


"Kamu jaga Rachel baik-baik, Mel. Mami akan membantu Papi sebentar!"


Wanita yang usianya sudah hampir separuh abad itu keluar dari mobil lalu melangkah dengan anggun menghampiri sang suami.


Seringai jahat keluar dari bibir 4 tersangka yang mencegat mobil Papi Adit. Melihat hanya dua orang yang keluar, salah satu dari mereka melirik ke mobil yang masih dalam keadaan mesin menyala.


"Mami mau apa, kenapa turun? Sana kembali ke mobil, jaga menantu dan cucu kita."


"Tidak, Pi, Mami akan bantu Papi untuk melawan penjahat-penjahat itu!"


"Kalian malah bicara omong kosong, padahal nyawa kalian dalam bahaya."


Ketika melihat lawan sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga, Papi Adit mengambil kesempatan dengan menarik tangan pria berbadan kekar itu dan memitingnya ke belakang. Pria paruh baya itu dengan kuat memukul tengkuk lawannya dengan siku hingga sang lawan tumbang ke jalan.


Karena mengira wanita paruh baya yang bersama dengan pria yang kini menjadi mangsanya, mereka sama sekali tidak menggubris keberadaan Mami Jane di antara mereka.


Sementara Mami Jane, langsung mengeluarkan sebuah senjata api yang dia ambil dari dasbor mobil. Wanita itu langsung mengarahkan ke kaki target yang mau maju untuk melawan suaminya, menggantikan kawan yang sudah tumbang sebelumnya. Ketika langkah target semakin dekat dengan sang suami, Mami Jane langsung menekan pelatuk hingga satu timah panas meluncur tepat di kaki target.


Merasakan timah panas menembus kulitnya, satu pria itu langsung berteriak untuk kawan-kawannya agar mundur. Padahal masih ada dua dari mereka yang belum merasakan melawan sepasang suami istri paruh baya itu.


Keempat orang itu langsung masuk ke dalam mobil Jeep, melarikan diri dari lawan yang ternyata cukup kuat melawan mereka, dengan salah satu anggota yang kakinya tertembak dan satunya lagi tengkuknya sangat sakit.


"Kenapa mundur?" tanya salah satu anggota itu.

__ADS_1


"Untuk apa membuang tenaga? Rencana kita sudah berhasil."


"Baguslah, jadi kita tidak perlu membuang energi untuk melawan pria tua bangka itu!" seru sang sopir.


Pria yang berada tepat di belakangnya langsung menggeplak kepala sopir yang sedang mengendarai mobil itu. Mendengar ucapannya yang terlihat meremehkan lawan mereka membuatnya sangat kesal. Dia saja sudah merasakan pukulan maut dari pria paruh baya itu. Meskipun hanya sekali, tetapi rasanya sangat sakit.


"Jika tahu kau mau berucap seperti itu, aku biarkan saja kau tadi yang melawannya!" bentak pria itu setelah menggeplak kepala kawannya.


"Wanita yang tadi aku remehkan juga, sekarang kakiku menjadi korban dari wanita itu," sela anggota yang kakinya tertembak.


Setelah keempat orang yang mencegat perjalanan mereka pergi melarikan diri, sepasang suami istri itu langsung kembali ke mobil untuk melihat kondisi menantu dan cucunya.


Saat masuk ke dalam mobil itu, posisi sang menantu agak berubah. Dia yang tadinya memangku kepala Rachel, kini justru duduk sendiri. Sementara kepala Rachel tergeletak di kursi mobil.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Mami Jane memastikan.


Sebenarnya wanita paruh baya itu sedikit merasa aneh dengan menantunya kali ini. Keadaan tadi cukup membahayakan, sebagai seorang ibu harusnya Imel justru menarik Rachel ke dalam dekapannya. Namun, perempuan itu justru terlihat agak menjauhi putrinya sendiri.


"I'm okey, Mam. Kalian tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, ayo, Pi. Kita harus segera sampai di rumah," ajak Mami Jane tetap memandang cucunya yang masih tertidur pulas.


Papi Adit kembali mengendarai mobilnya, kali ini pria paruh baya itu mempercepat laju mobilnya. Tidak mau hal seperti tadi terjadi lagi, apa lagi dia membawa istri, menantu serta cucunya tanpa satupun pengawal yang menjaga mereka.


Begitu sampai di mansion utama, Imel langsung turun dari mobil. Wanita itu bahkan meninggalkan putrinya yang masih terlelap di dalam mobil. Hal itu membuat kedua orang tua Reiner menatap sang menantu dengan sedikit curiga.


"Imel aneh, Pi. Biasanya dia sendiri yang akan menggendong Rachel kalau anak ini tertidur. Sekarang malah di tinggal seperti itu saja," ujar Mami Jane menatap suaminya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2