Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Tengah Hutan


__ADS_3

"Mau apa kau kemari?" tanya Ara yang merasa terganggu dengan kedatangan sang kakak. 


"Dasar adik tidak tahu diri. Memangnya sejak kapan ada larangan aku tidak boleh datang?" 


"Aku tidak mengundangmu, Rei. Lebih baik kau pulang sekarang!" usirnya dengan kejam. 


"Aku kemari atas perintah Papi. Kalau kau keberatan, silahkan hubungi Papi." Tanpa permisi Reiner duduk di kursi. 


Ara kalah dalam berdebat dengan sang kakak. Jika sudah mengatasnamakan ayah angkatnya itu, berarti dia tidak memiliki hak untuk membantah. 


"Tumben Papi menyuruhmu datang. Ada perlu apa?" 


"Hanya untuk memeriksa saja, siapa tahu kau mulai nakal lagi." 


Ara hanya merespon dengan malas. Berdebat dengan sang kakak memang tidak akan ada kelarnya. Pria itu terlihat dingin di luar, padahal sebenarnya sangatlah cerewet. 


"Sun, aku ke kamar dulu. Malas kalau ada dia," pamitnya pada sang suami. 


"Baiklah, hati-hati. Nanti kalau sudah selesai aku panggil," ujarnya dengan lembut. 


Ara pergi meninggalkan kedua pria yang memiliki posisi masing-masing dalam hidupnya. Namun, keduanya sama-sama sangat dia sayangi itu. 


"Li, masak apa?" tanya Reiner pada adik iparnya. 

__ADS_1


"Masak apa saja yang bisa di makan." 


"Dasar! Suami istri sama-sama freak. Aku sudah bawa bodyguard untuk menjaga Ara, mereka ku tempatkan di area depan tanpa sepengetahuan Ara. Kau jangan sampai keceplosan membocorkan hal ini. Karena aku dan Papi sudah merasa akan ada sesuatu yang besar akan di lakukan oleh Ara tanpa sepengetahuan kita," jelas Reiner kepada adik iparnya. 


"Baiklah. Aku juga akan ikut menjaga dia," ujar Ali tanpa menghentikan aktifitas memasaknya. 


"Kalau itu memang sudah tugasmu, Bodoh!" kesal, Reiner sampai melemparkan sendok ke arah Ali. 


Setelah menyampaikan hal tersebut, Reiner langsung pergi dari rumah sang adik. Selain mengurus tentang Ara, dia juga masih harus mengurus tentang sang istri yang juga berada dalam ancaman. Apa lagi kembaran Imel sudah berhasil lolos dari mansion besarnya. 


"Kenapa semua datang bertumpuk seperti ini? Arg! Aku harus tetap waras untuk menjaga keluargaku," keluhnya pada diri sendiri. 


Reiner menginjak pedal gas semakin dalam agar segera sampai ke mansion. Pria itu sudah sangat merindukan sang putri. Sudah beberapa hari ini dia selalu sibuk dan tidak memiliki waktu bersama putri tunggalnya itu. 


"Rei, mencari siapa?" tanya ibu mertua yang kebetulan melihat Reiner. 


"Imel sama Rachel mana, Bu?" tanya balik Reiner seraya mengedarkan pandangannya. 


"Loh, bukannya mereka menyusulmu ke kantor." 


"Hah, sejak kapan, Bu. Aku sama sekali tidak bertemu dengan mereka," 


Di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah gubuk bambu di tengah hutan. Tangisan seorang anak kecil terdengar samar karena tempat itu dikelilingi oleh pohon-pohon besar. 

__ADS_1


"Mama, Ahel takut, Ma." 


"Tenang, Nak. Sebentar lagi Papa pasti akan membebaskan kita," ujarnya berusaha menenangkan sang bocah. 


Suara tawa menggelar terdengar, di susul oleh munculnya seorang wanita yang memiliki wajah yang sama dengan perempuan yang tengah dalam kondisi terikat. 


Tawa menakutkan itu membuat anak kecil yang ada di tempat itu semakin ketakutan. Tangisannya semakin kencang berharap akan ada yang mendengar dan menolongnya dari seseorang yang wajahnya begitu mirip dengan sang ibu. 


"Amel," 


"Kalian jangan mimpi! Siapapun tidak akan pernah menemukan kalian di tempat ini," bentaknya dengan kasar. 


Wanita berpakaian minim bahan itu tidak peduli bahwa di tempat itu juga ada anak kecil. Dia bersikap seolah-olah dia adalah seseorang yang tidak akan pernah terkalahkan. 


"Mel, tolong lepaskan Ahel. Jika dendammu padaku, maka balaslah semaumu. Tapi jangan libatkan anakku dalam urusan kita," mohonnya pada Amel. 


Wanita itu tersenyum sinis. "Dia adalah anakmu! Keturunanmu. Jika dia ku biarkan hidup, dia akan menjadi penghalang kebahagiaanku. Jadi lebih baik kau bawa saja dia ke neraka!" 


Tidak disangka wanita itu menodongkan pistol yang entah darimana datangnya. Pistol itu di arahkan kepada gadis kecil yang tengah menangis disana.


"Selamat tinggal, keponakanku." 


Suara tembakan yang begitu nyaring terdengar, bersamaan dengan darah segar yang mengalir. 

__ADS_1


__ADS_2