Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Olahraga Siang


__ADS_3

Ara menatap jengkel pada Reiner. Kakaknya itu sama sekali tidak bisa menjaga rahasia, mulutnya terlalu blong untuk ukuran seorang laki-laki. Apa lagi dengan jabatan CEO dan pemimpin Deadly Scorpion.


"Gue salah ngomong?" tanya Reiner pada Adiknya.


"Enggak!" jawab Ara malas.


"Mi, emang jago masak itu aib yah? menurut Reiner itu sebuah keahlian yang tidak semua orang mau melakukannya. Sedangkan Ara, selalu melakukan hal itu dengan penuh perasaan," jelas Reiner.


Mendengar penjelasan Reiner, Ali sudah cukup bisa menarik kesimpulan. Istrinya memang mempunyai hobi memasak, sama dengan Ibu Salma.


"Benar kak, gue setuju sama lo!" Ali menyetujui ucapan Reiner.


Melihat putrinya diam saja, Mami Jane berusaha melerai kedua anaknya. Mami Jane paham, Ara belum ingin menunjukan semua kelebihannya di hadapan Ali.


"Sudah! lanjutkan makan, Jangan ada yang bicara!"


"Baik, Mi" jawab mereka serentak bahkan Papi Adit juga ikut menjawab.


Mereka melanjutkan makan siang, hening hanya suara sendok dan garpu yang saling berdenting. Mood Ara benar-benar berantakan saat ini, selain ingin menyelesaikan urusannya dengan Aldev, Ara juga ingin membahas suatu hal dengan Reiner.


Setelah selesai makan mereka kembali ke kamar masing-masing, Ara dan Ali berniat untuk kembali ke rumah mereka sendiri. Di kamarnya, Ara masih diam membuat Ali bingung. Kenapa harus semarah ini hanya karena soal keahliannya memasak.


"Moon," panggil Ali.


"Iya," jawab Ara singkat.


Ara hanya berdiri di cendela yang mengarah ke taman bunga di mantion besar Aditia. Walaupun terik matahari menyinari, taman itu masih terlihat asri dan penuh kenyamanan.


Ali mendekati Ara, lalu tangannya meraih pinggang istrinya untuk dia peluk dari belakang. Ara memejamkan mata ketika merasakan pelukan hangat dari Ali.


"Kenapa diam, Moon? kamu marah karena sekarang aku tau istriku jago memasak?" Ali bertanya dengan kata-kata yang begitu lembut.


Ara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia bukan marah karena Ali tahu, Ara hanya takut jika suaminya tidak percaya dan menganggap Reiner hanya membual.


"Lalu kenapa diam saja?"


"Aku hanya takut, kamu tidak percaya dan menganggap itu hanya omong kosong Reiner," ujar Ara lirih. Entah kenapa, Ara memiliki sifat Insecure pada Ali sejak menikah. Padahal, dulu dia sering mengejar Ali tanpa rasa malu.


Jawaban Ara membuat Ali menghembuskan nafas lega, ternyata dia hanya salah paham. Ara tidak marah dengan dirinya. Ali membalikkan tubuh Ara menghadapnya, lalu tangan itu berpindah ke pipi gadis culun yang masih tetap menggunakan kaca mata.

__ADS_1


"Aku percaya, Moon. Aku lebih dari percaya tentang itu. Kopi yang kamu buat pertama kali untukku saja, rasanya sama persis dengan buatan Ibu," jelas Ali seraya mengelus pipi mulus Aracelia.


Ali mengecup kening Ara lama, berusaha mengalirkan rasa sayangnya dengan melakukan hal itu. Hal yang tidak pernah dia berikan pada siapapun, selain Asila dan Aracelia istrinya saat ini.


"Kenapa aku merasa tenang sekali saat memperlakukan Ara dengan lembut, rasanya seperti Sila juga ada dalam diri Ara. Maaf, sil. Maaf aku tidak bisa menuruti keinginanmu untuk bersama Clarissa," tanpa sadar Ali meneteskan air matanya.


Ara kaget saat ada air yang menetes di tangan, gadis itu mendongak untuk melihat sendiri air apa yang terjun bebas ke tangannya. Ciuman di kening itu terlepas, gadis itu semakin terkejut saat melihat sendiri ada air mata yang mengalir di pipi suaminya.


"Sun, kenapa menangis?"


Ali segera menghapus buliran air yang masih ada di matanya. Pria itu kebingungan untuk mengelak bahwa dia menangis, kenapa air mata ini selalu menetes ketika mengingat Asila? apakah Ali belum benar-benar move on dari cinta pertamanya itu?


"Aku tidak menangis, Moon. Hanya kelilipan saja,"


Alasan yang di berikan oleh Ali tidak semudah itu di percayai oleh Ara. Mana mungkin di kamarnya ada debu, maid di mantion Aditia tidak pernah absen membersihkan semua ruangan.


Ara paham suaminya itu berbohong dan menyembunyikan sesuatu. Namun gadis itu tidak mau mengungkitnya saat ini. Ara masih mempunyai kegiatan lain yang sudah menantinya. Untuk menghentikan pembahasan ini Ara menganggukkan kepalanya.


"Kita jadi pulang sekarang?" tanya Ali memastikan.


"Tentu saja, aku sudah rindu rumah kita sendiri,"


"Baiklah, ayo kita ijin Mami, Papi dulu!" ajak Ali seraya menggandeng Ara untuk berpamitan dengan kedua orang tua mereka.


"Cih, mesra sekali sampai lupa tempat. Dasar pengantin baru!" goda Reiner pada kedua adiknya.


Ara mengembuskan nafas kasar, gadis itu semakin jengkel dengan Kakaknya. Belum meminta maaf tentang hal tadi, sekarang sudah berulah lagi. Seperti dirinya tidak pernah melakukan hal ini dengan istrinya saja.


"Lihat saja, Kak. Aku pasti adukan pada Kak Imel, kau kesini tidak mengajaknya juga gue yakin Kak Imel akan merajangmu menjadi sop buah!" ancam Ara dengan sinis.


Mendengar ancaman sang adik, akhirnya Reiner mengingat hal yang dari tadi dia lupakan. Karena insiden penyerangan Aldev pada Ali, rencana yang dia buat hancur total.


"Huh! ini semua karena suamimu itu. Kejutanku untuk Imel jadi berantakan, awas saja kalau Lo mengadu yang tidak-tidak padanya!" Reiner juga membalas Ara dengan ancaman.


"Ya-ya-ya. Terima kasih, karena sudah menolong suamiku," Ara mengucapkan rasa terima kasihnya dengan tulus.


"Ya sudah, gue pulang dulu," pamitnya kemudian berlari.


Ali tertawa ketika Reiner sudah menghilang dari pandangannya. Ara dan Reiner selalu seperti kucing dan tikus ketika bersama. Akan tetapi, mereka terlihat saling menyayangi. Hanya saja cara yang mereka tunjukan berbeda dengan kebanyakan Kakak beradik lainnya.

__ADS_1


"Kenapa tertawa, Sun? ada yang lucu?" tanya Ara heran.


Ali mengentikan tawanya, lalu menggelengkan kepalanya. Dia melanjutkan langkah di ikuti Ara, mereka berniat untuk berpamitan dengan Papi Adit dan Mami Jane.


Ketukan pintu terdengar, namun hingga tiga kali Ara mengetuk. Mami Jane atau Papi Adit belum juga keluar dari kamar. Karena penasaran, Ara memegang gagang pintu. Biasanya kalau siang pintu kamar memang tidak di kunci oleh mereka. Pintu terbuka sedikit, Ara memasukkan sedikit kepalanya di cela pintu.


Ara menutup pintu kembali ketika mendengar suara Des*han dari dalam kamar itu. Beruntung gadis itu tidak membuka lebar pintu kamar Mami dan Papi. Mau di taruh di mana mukanya kalau memergoki kegiatan kedua orang tua angkatnya.


Ali menyipitkan matanya ketika melihat ekspresi keterkejutan Ara, gadis itu mengelus dadanya sendiri dan memejamkan matanya. membuat Ali semakin bingung dengan tingkah aneh istrinya.


"Kenapa sih, Moon?" tanya Ali heran.


Ara membuka matanya, lalu tersenyum canggung ke arah Ali. Mana mungkin dia akan mengatakan yang sebenarnya, jika di dalam sana kedua orang tua itu sedang bergulat.


"Kita pamitnya nanti saja," putus Ara.


"Kenapa?" tanya Ali semakin heran.


Ara menarik nafas dalam, berusaha menetralkan perasaannya sendiri. Ini pertama kalinya dia lancang dan mendapati orang tuanya sedang memadu kasih di siang hari.


"Mami, Papi ... sedang olahraga siang," jawab Ara ambigu.


"Olahraga siang? di kamar?"


Bersambung...


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_


Nih, author punya rekomendasi cerita yang serunya pakai banget. Di jamin bakal suka deh, mampir yah. Yang suka suasana Anak kuliah, wajib mampir.



Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya dan ternyata pria yang akan di jodohkan dengan dia, tak lain adalah Dosen nya sendiri yang sikapnya teramat dingin. Namun siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan tentang rahasia jati dirinya yang sebenarnya.


Bagaimanakah sikap mereka di kampus?


Akankah mereka saling mencintai?

__ADS_1


Apa sang Dosen akan menerima jika dia mengetahui tentang jati diri gadis itu yang sebenarnya?


pokoknya wanti-wanti, mampir yah ke karya temen kece othor. Susi similikity dengan judul Istri Kecil Dosen Muda.


__ADS_2