Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Kembaran Imel


__ADS_3

Dean dan Boy akhirnya kembali ke tempat semula dimana mereka bersembunyi, yaitu di sebuah lemari berukuran besar di tempat itu.


Benar saja tidak lama dari mereka memasuki lemari besar, seseorang masuk ke dalam ruangan perempuan tadi di kurung. Dean mengintip dari celah lemari, walaupun tidak terlalu jelas. Namun, Dean dapat mengenali postur tubuh seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu bukanlah seorang pria, melainkan seorang wanita dengan postur tubuh hampir sama seperti Nona mudanya.


"Imel, kamu kesini, Nak?"


Suara dari alat penyadap itu kembali terdengar. Dean dan Boy berusaha menajamkan telinga agar tidak sedikitpun informasi yang mereka dapatkan nanti.


"Mama, kamu benar-benar tidak bisa mengenali siapa Imel dan Amel? Hebat sekali ya wanita itu, setelah bisa merebut pria pujaan ku. Sekarang bahkan membuat ibu kandungku tidak bisa mengenali aku sebagaai anaknya," ucap seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan itu.


"Amel, kamu, Amel? Tidak mungkin, Amel anakku sudah meninggal 8 tahun yang lalu."


Suara tawa yang menggelegar terdengar. Dean dan Boy bahkan sampai mengecilkan volume headset yang di pakainya.


"Kalau dari pembicaraan ini, aku menyimpulkan bahwa wanita yang di dalam sana adalah Amel, saudara kembar Nona Imel."


"Tidak mungkin, Amel sudah meninggal 8 tahun yang lalu!"


"Kita lihat saja nanti, Kak. Tebakanku pasti benar,"


Boy dengan percaya dirinya menebak apa yang mungkin terjadi. Walaupun dia belum melihat wajah dari wanita itu untuk memastikan bahwa tebakannya benar, akan tetapi dari suara dan pembicaraan wanita tersebut, Boy sudah bisa meyakini bahwa keyakinannya tidak salah.


"Kasihan sekali wanita g*la ini, dia di bohongi oleh suaminya sendiri dengan kematian putrinya. Lebih menyedihkan lagi, dia percaya dengan sandiwara suaminya sendiri!" seru wanita itu dengan suara lantang.


Sekian lama tidak ada satupun suara yang terdengar lagi, bahkan hal itu membuat Boy dan Dean mengira bahwa penyadap suaranya sudah rusak. Boy sampai akan keluar dari persembunyian untuk memeriksa alat tersebut.


"J-jadi anakku, Amel masih hidup?"


Suara itu kembali terdengar, membuat Boy mengurungkan niatnya. Pria remaja itu kembali anteng berada di tempat persembunyiannya bersama Dean.


"Kemarilah, Nak! Mama ingin memelukmu."

__ADS_1


"Cih! Aku tidak Sudi memeluk wanita gil* sepertimu!"


Wanita itu bukan hanya menolak, akan tetapi juga menghina orang yang dia panggil dengan sebutan Mama.


"Aku hanya ingin mengatakan, jangan pernah ikut campur dengan urusanku dan Papa. Kalau kamu berani ikut campur, aku yang akan membun*h Imel dengan tanganku sendiri!"


Suara pintu yang di banting terdengar, lalu derapan langkah kaki menyusul. Kedua pria yang tengah bersembunyi itu yakin bahwa wanita yang ada di tempat itu sudah keluar. Dean segera memeriksa tab miliknya. Benar saja, setelah beberapa menit seorang wanita berambut panjang dan gaun seksi berwarna hitam, keluar dari tempat rahasia itu.


Persis dengan orang yang di lihat oleh Dean melalui celah lamari besar yang menjadi tempat persembunyian mereka.


Setelah memastikan tempat itu benar-benar sudah aman, Boy dan Dean akhirnya keluar dan mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Mereka melihat wanita di dalam sana sedang menangis. Di lihat dari situasi dan kondisinya mereka yakin bahwa wanita itu tidak mungkin di introgasi sekarang juga.


Kedua pria remaja yang memiliki posisinya masing-masing sebagai orang kepercayaan Nona muda dan Orang kesayangan Tuan mudanya itu memutuskan untuk menyudahi dulu pencarian mereka di tempat itu. Namun, sebelum keluar dari tempat itu Dean sudah lebih dulu menempatkan sebuah kamera berukuran kecil berdampingan dengan penyadap suara yang di letakkan oleh Boy.


Flashback Off.


.


.


.


"Tuan, dari cerita yang di sampaikan oleh Boy dan Dean, sepertinya kita harus menjaga ekstra ketat Nona Imel dan Nona kecil. Jika kita lengah sedikit saja, saya takut akan terjadi sesuatu pada mereka. Lawan kita kali ini tidak main-main," ujar Ferry memberi saran.


"Benar, Fer. Sepertinya kita harus lebih cerdik dari mereka. Tapi tolong jangan beritahu istriku," pesan Reiner tegas.


Kini pria itu yakin bahwa sang istri memang tidak terlibat dengan kejahatan yang menimpa dirinya selama ini. Nyawa sang istri juga sekarang dalam bahaya karena menjadi incaran dari keluarganya sendiri.


'Aku janji, Sayang, aku akan menjaga kamu dan anak kita dengan baik.' Batin Reiner memejamkan matanya.


Rasa bersalah kini menguasai diri seorang pemimpin klan Deadly Scorpion. Pria tampan dengan tubuh tinggi dan otot kekar itu merasa sangat kejam sudah bersikap dingin pada istrinya sendiri. Dia bahkan menolak makanan yang sudah di buat oleh sang istri dengan susah payah.

__ADS_1


Jarak mansion utama dengan mansion miliknya cukup jauh, dan istrinya itu sengaja datang hanya untuk menyiapkan sarapan dengan menu kesukaannya. Jika biasanya pria itu akan dengan lahap memakan masakan sang istri, tadi dia bahkan sama sekali tidak berniat menyentuh masakan itu.


Ketika Reiner sedang larut dengan lamunannya sendiri, ketiga orang yang ada di sana tidak ada yang berani mengganggu lamunan dari bosnya tersebut. Namun, bayangan Reiner buyar seketika saat dering ponsel miliknya mengganggu.


Walaupun kesal, pria itu merogoh ponsel miliknya yang berada di saku jaket kulitnya. Ketika di lihat, ada panggilan masuk dari sang istri. Buru-buru Reiner menjawab telephone yang berasal dari sang belahan jiwanya itu.


"Hallo," sapa Reiner dengan lembut.


Reiner melirik ketiga anak buahnya yang masih saja berdiam diri di sekitarnya. Pria itu memberi kode agar mereka keluar dengan tatapan matanya saja.


Mengerti dengan kode yang di berikan oleh sang bos. Ketiga orang itu beranjak dari posisinya, beberapa langkah mereka berjalan hingga sampai di depan pintu. Saat tangan Ferry sudah memegang handle pintu, mereka di kejutkan dengan ucapan Reiner dengan nada kaget.


"Apa, Ara hamil anak kembar? Oke aku segera kesana." Pria itu langsung bangkit dan berjalan dengan tergesa.


"Kalian ngapain masih disini?" tanya Reiner ketika tiga orang itu belum juga keluar.


"Apa yang kita dengar, itu benar, Tuan?"


Dean yang bertanya, karena dia adalah tangan kanan Aracelia jadi apapun yang terjadi dengan wanita itu, dia selalu ingin tahu dan tidak mau tertinggal sedikitpun.


"Aku belum tahu, makanya aku akan memastikannya sekarang!"


Reiner yang memang buru-buru ingin memastikan kabar gembira tersebut, menyingkirkan ketiga orang yang masih saja menghalangi pintu.


Sesudah menyingkirkan ketiga orang itu, Reiner kembali melangkah dengan tergesa-gesa.


"Saya ikut, Tuan!"


Suara di belakang punggung Reiner, menghentikan langkah pria itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2