
Ali sampai di kantornya dengan wajah yang kusut seperti baju yang tidak di setrika. Arham sampai geleng-geleng kepala saat melihat sendiri bos barunya itu uring-uringan hanya karena ingin makan tumis kangkung buatan istrinya. Hal yang seharusnya mudah, jika saja sang istri tidak menolak membuatkannya masakan simple tersebut.
"Selamat pagi, Tuan," sapa beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan direktur utama yang baru di perusahaan itu.
Ali yang memang sedang dalam keadaan kesal, tidak memperdulikan beberapa sapaan yang tertuju padanya. Hanya Arham yang membalas sapaan dari para karyawan itu dengan anggukan kepala.
Ali dan Arham masuk ke dalam lift khusus para petinggi perusahaan itu untuk sampai di ruangannya.
Hal yang di lakukan oleh Ali itu membuat para karyawan yang di acuhkan, menggunjing perlakuan direktur baru itu sebagai orang yang sombong.
"Dih, dulunya hanya karyawan biasa di perusahaan ini. Begitu jadi menantu, dan naik tahta jadi belagu!"
"Iya, jika bukan karena menikahi putri tunggal Tuan Haris, aku yakin dia masih menjadi bagian dari kita."
Bisik-bisik berisi gunjingan untuk Ali menyebar di kalangan para karyawan itu. Mereka menilai bahwa Ali seperti lupa daratan.
Tidak sengaja ketika para karyawan itu sedang mengguncing pemimpin perusahaan yang baru itu, terdengar oleh pemilik perusahaan, yang merupakan mertua Ali sendiri.
Pria paruh baya itu merasa heran dengan pa yang dia dengar dari para karyawan, bahwa menantunya langsung berubah sikap setelah resmi menjadi pemimpin perusahaan.
Tuan Haris bersama dengan Pak Agam memutuskan untuk masuk ke ruangannya. Sebelum itu, Tuan Haris sudah lebih dulu berpesan pada sekretarisnya agar mencari tahu permasalahan ini.
Sesampainya di ruang kerjanya, Ali menaruh tas kerja miliknya dengan melempar barang itu ke meja. Pria itu juga mendudukkan dirinya di kursi putar miliknya dengan kasar. Ali bahkan mendengus kesal saat mengingat sang istri yang menolak permintaannya.
"Apa susahnya masak tumis kangkung? Kenapa harus sampai menyuruhku masak sendiri? Memangnya aku tidak bisa melakukan hal kecil itu?" Monolog pria itu seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Arham mati-matian menahan tawa ketika mendengar ocehan yang keluar dari pria yang kini menjadi atasannya tersebut. Tidak menyangka jika orang kaya akan bersikap seaneh itu jika sudah menikah.
Sekian lama uring-uringan perkara makanan low profile itu, Ali baru sadar jika dirinya menjadi bahan hiburan sang sekretaris baru yang di berikan oleh mertuanya.
Ali berdehem untuk menghilangkan perasaan kesalnya, pria itu menatap sekretaris yang masih setia berdiri di depan meja kerjanya.
__ADS_1
"Ham, apa jadwalku hari ini?" tanya Ali untuk mengalihkan diri dari rasa dongkolnya terhadap perlakuan aneh istrinya.
"Emh, jadwal Tuan Ali hari ini adalah jam 10 meeting pertama dengan pihak Triple R Group. Lalu berlanjut dengan ...."
"Sudah, kau sebutkan nanti saja. Aku takut akan lupa jika kau beritahu semuanya sekarang," sela Ali menghentikan penjelasan dari Arham.
"Tuan sudah membaca berkas yang saya kirimkan, tentang semua visi dan misi perusahaan yang akan bergabung dengan kita?" tanya Arham memastikan.
"Sudah! Ham, bisa kau kembali ke ruanganmu sendiri? Aku sedang ingin menenangkan diri," ujar Ali seraya memijat pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut.
Arham segera keluar dari ruangan direktur utama, pria berusia muda itu kembali ke ruangannya sendiri untuk melanjutkan pekerjaannya. Lagi pula, bosnya memang masih terlihat belum bisa menguasai diri.
Begitu Arham kembali ke ruangan kerjanya, pria itu sedikit terkejut ketika membuka pintu dan mendapati ayahnya tengah berada di sana dengan tatapan tajamnya.
"Ayah,"
Pria yang kini berprofesi sebagai sekretaris pribadi direktur utama perusahaan besar itu, melangkah mendekati sang ayah yang berdiri tepat di samping meja kerjanya.
"Kau dari mana?" tanya Pak Agam kepada putra sulungnya.
"Kenapa bisa hari ini beredar gosip tentang perubahan perilaku dari bosmu itu? Kau tidak menjalankan tugasmu dengan benar!" tuduh pria paruh baya yang merupakan tangan kanan pemilik perusahaan.
Arham menggelengkan kepalanya ketika mendapat tuduhan dari sang ayah. "Arham tidak melakukan apapun, Yah. Tuan Ali memang sedang dalam suasan hati yang buruk,"
Pak Agam menghembuskan nafas perlahan, mencoba menguasai dirinya untuk tetap sabar dalam menghadapi kedua orang yang memang masih baru dalam bidangnya.
"Semua yang berhubungan dengan bosmu, itu adalah tanggung jawabmu, Arham! Kamu sebagai orang kepercayaannya harus bisa mengendalikan situasi dan suasana hati bosmu dengan baik. Jika atasanmu memiliki masalah, kau harus sigap dalam mencari informasi dan mendapatkan cara untuk penyelesaiannya!"
Nasihat dari sang ayah membuat Arham sedikit mengerti tentang pekerjaan barunya.
"Baik, Yah, Arham akan mencoba untuk bekerja dengan baik. Maafkan Arham tentang kejadian hari ini," ujar Arham dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"Jangan buat ayah kecewa, Arham." Pak Agam menepuk bahu sang putra sebelum dia keluar dari ruang kerja putranya itu.
Baru beberapa hari bekerja membuat pria muda itu masih harus banyak mempelajari tentang apa saja tugasnya sebagai tangan kanan atau orang kepercayaan dari pemimpinnya.
.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.30, Ali masih berusaha untuk mendalami apa yang tertulis dalam berkas yang di kirimkan oleh Arham tentang seluk beluk hingga projek baru yang akan mereka jalani bersama dengan perusahaan Triple R group.
Suara deritan pintu yang terbuka mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang ada di depannya. Pria itu menoleh, mendapati sang istri berdiri di depan pintu dengan membawa susunan kotak berwarna biru muda.
Ali yang masih merasa kesal sama sekali tidak menanggapi istrinya yang tengah tersenyum ke arahnya. Pria itu pura-pura kembali memeriksa berkas dokumen penting yang sejak tadi berusaha dia pelajari.
Mendapat respon dingin dari suaminya, wanita yang tengah memegang kotak bekal itu justru menahan tawa. Dia sangat tahu bahwa suaminya kali ini sedang merajuk. Sudah dapat di pastikan dari raut wajah kusut dari sang suami.
"Sun, aku bawa sarapan untukmu." Ara mendudukkan dirinya di sofa setelah masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
Pria itu masih saja acuh, pura-pura tidak mendengar ataupun melihat sang istri yang tengah membuka kotak bekal itu. Akan tetapi, matanya sesekali melirik sofa, tempat dimana sang istri yang sibuk dengan barang bawaannya.
"Sun, ayo makan dulu!" ajak Ara saat sudah membuka dan menata bekal yang di bawanya.
Ali tetap tidak menggubris, pria itu tetap saja mengacuhkan keberadaan istrinya. Rasa kesal karena permintaannya di tolak membuatnya menjadi seperti anak kecil.
Walaupun sebenarnya hidungnya sudah sangat terganggu dengan aroma masakan sang istri yang menguar. Begitu menggoda untuk segera di santap. Namun, Ali lebih mementingkan harga dirinya yang tadi pagi di jatuhkan oleh istrinya sendiri.
__ADS_1
"Oh, kamu tidak lapar, yah! Baiklah, biar aku makan sendiri tumis kangkung dan rendang daging ini."
Bersambung...