Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Ruangan Rahasia


__ADS_3

Dean menundukkan kepala agar wajahnya tidak terlihat oleh orang yang di tabrak olehnya. Seorang pria yang tinggi dengan badan kurus, tetapi cukup kuat. Karena saat dirinya tidak sengaja menabrak orang itu, Dean sampai terpental beberapa langkah.


Boy segera mendekati Dean yang sedang di tatap tajam oleh pria di depannya. Remaja itu dengan sengaja menjitak kepala Dean dan merangkulnya. Boy bahkan dengan berani menyengir ke arah pria tinggi yang sebagian wajahnya tertutup topeng itu.


"Maaf, Tuan. Dia sedang sakit perut, makanya lari-lari agar cepat sampai di toilet." Boy menarik tubuh Dean yang masih diam.


Remaja yang usianya tidak jauh dari Dean itu, menarik Dean menjauh dari pria yang Boy curigai adalah pimpinan di klan Wild Wolf selain Alvino Maladeva. Atau bisa jadi, dia merupakan pimpinan terdahulu yang lebih berkuasa dari pada pria kejam yang sialnya memiliki perasaan terhadap Nona mudanya.


"Kau berani sekali, Boy! Tingkahmu barusan bisa saja membuat orang itu murka." Dean menyentak kasar tangan Boy yang merangkulnya.


"Sudahlah, Kak, kau tidak lihat? Semua anggota klan ini adalah orang-orang ceroboh. Buktinya kita sudah beberapa hari di tempat ini, nyatanya tidak ada satupun yang curiga, 'kan?"


Boy dengan santai melenggang pergi meninggalkan Dean sendirian. Sementara Dean, kini hanya mengumpati kelakuan remaja yang justru akan membahayakan penyamarannya.


Boy kembali mendekati Dean, remaja itu bahkan berlari ketika mendatangi Dean yang masih berada di tempatnya.


"Ada apa lagi?" tanya Dean dengan sorot mata tajam.


"Ikut aku." Boy menarik Dean hingga mereka berlari bersama.


Ketika sampai di sebuah ruangan, Boy menghentikan langkah membuat Dean otomatis ikut berhenti.


"Kenapa?" tanya Dean penasaran.


"Aku menemukan tombol penghubung dengan tempat rahasia. Tapi aku tidak mungkin memeriksanya sendirian," jelas Boy kepada pria yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu.


"Sebelum kita masuk ke ruangan ini, kau rentas dulu semua CCTV di markas ini. Agar kita bisa memantau keadaan sekitar," pinta Boy mengintrupsi.


Meskipun merasa permintaan dari Boy sangat membahayakan, akan tetapi Dean tetap menuruti permintaan remaja itu. Dia merogoh sebuah tab di saku jaketnya. Mengotak-atik benda itu hingga muncul beberapa rekaman dari setiap sudut markas itu.


"Sudah,"

__ADS_1


Begitu melihat sendiri layar monitor tab milik Dean benar-benar terhubung dengan setiap rekaman yang berada di tempat itu, Boy menekan tombol yang dia temukan. Ruangan rahasia itu muncul setelah Boy menekan tombol dengan bentuk bunga mawar berwarna hitam.


Sebuah tempat yang di hubungkan lewat tangga darurat menuju lantai bawah tanah, Boy memimpin jalan di depan, sementara Dean mengikuti dari belakang.


"Kita cari tombol untuk menutupnya dulu, kalau tempat ini dalam keadaan terbuka, kita pasti akan ketahuan." Boy meraba setiap dinding hingga kembali menemukan tombol yang sama seperti temuannya tadi.


Begitu Boy memencet tombol tersebut, pintu terhubung dan tangga itu langsung naik ke atas, sepertinya langsung rata dengan lantai di di atasnya.


Tempat itu berubah gelap ketika ruangan dalam keadaan tertutup. Boy mengeluarkan ponsel miliknya untuk menggunakan senter agar menerangi jalannya, sedangkan Dean tetap sibuk memantau keadaan sekitar menggunakan tab miliknya.


Ruangan itu banyak terdapat ruangan berukuran kecil seperti penjara. Namun anehnya, tidak ada satupun yang terisi dengan tawanan ataupun hewan apapun.


Kedua remaja itu semakin masuk ke dalam, menyusuri lorong gelap yang semakin ke dalam terasa semakin lembab. Maklum saja, tempat itu tidak memiliki fentilasi udara ataupun tempat masuk cahaya.


Semakin kedalam, bau tempat itu semakin membuat nafas sesak. Akan tetapi kedua remaja itu tidak menyerah. Mereka semakin penasaran dengan tempat itu, jika memang tidak ada apapun di sana. Lalu untuk apa tempat itu di ciptakan, bahkan sangat rahasia. Akses masuknya bahkan di sembunyikan dengan sebuah tombol kecil yang hampir terlihat seperti ornamen pajangan.


"Kira-kira apa yang ada di tempat ini, Kak? Aku semakin penasaran."


Kedua remaja itu bersembunyi di dalam sebuah lemari besar yang terdapat di ruangan itu. Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar. Dari suaranya, sepertinya memang hanya satu orang yang masuk ke dalam ruangan itu.


Dean berusaha mengintip dari celah lemari itu, karena memang tempat itu tidak terpasang kamera pengintai. Seseorang yang masuk ke dalam ruangan tersebut adalah orang yang sama dengan orang yang dia tabrak tadi.


"Boy, orang itu masuk ke dalam ruangan di sebelah lemari ini," bisik Dean dengan sangat lirih.


"Kita lihat nanti, Kak. Sepertinya kita bisa mendengar suaranya jika memang dia masuk ke dalam ruangan samping," ujar Boy tidak kalah lirih.


Mendengar ucapan Boy, Dean hanya memutar bola matanya malas. "Tempat ini pasti di buat kedap suara, Boy! Tidak mungkin tempat rahasia tidak memiliki keunggulan sama sekali,"


Boy menyengir hingga menampakkan deretan gigi putihnya. Pria remaja itu bahkan menepuk keningnya sendiri sebagai kekecewaannya terhadap diri sendiri.


"Jadi bagaimana, Kak?"

__ADS_1


"Kita harus lemparkan penyadap ini, Boy." Dean mengeluarkan sebuah benda kecil yang berguna untuk merekam suara.


"Biar aku yang lakukan, Kak." Boy merebut benda itu dari tangan Dean.


Anak buah berusia remaja kesayangan Reiner itu keluar dari persembunyiannya. Pandangannya berkeliling untuk mencari lubang atau apapun yang bisa dia gunakan untuk memasukkan benda itu ke dalam ruangan yang berada di sebelahnya.


"Nah, itu dia!" seru Boy dengan lirih.


Dia segera memanjat kursi yang berada tepat di bawah lubang kecil, mengintip keadaan di dalam melalui lubang kecil itu sebelum memasukkan barang yang dia rebut dari Dean.


Di dalam sana, seorang pria tengah duduk di kursi. Sementara di depannya, ada seorang yang wajahnya tertutup rambut panjang dalam keadaan terpasung.


Tidak mau ketahuan, Boy akhirnya memutuskan hanya meletakkan penyadap itu tepat di lubang kecil. Jika dia menjatuhkan benda itu, pasti akan menimbulkan suara yang membuat kegiatannya justru terbongkar.


Setelah selesai meletakkan benda itu, Boy kembali ke tempat persembunyiannya bersama Dean. Saat masuk ke dalam lemari besar itu, Boy masih diam tanpa mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya. Walaupun dalam keadaan bersembunyi, biasanya Boy tetap banyak omong. Berbeda dengan saat ini, remaja itu seperti orang yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Gimana, Boy? Kau sudah taruh di tempat yang aman?" tanya Dean memastikan.


"Sudah, Kak. Tapi anehnya, di tempat itu seperti di gunakan untuk memasung seorang perempuan. Tempatnya juga sangat tidak manusiawi," jawab Boy dengan bahasa berwibawa.


Kali ini Dean membalas jitakan Boy di kepala pria remaja itu. "Sejak kapan ada tempat untuk tawanan yang manusiawi, Boy?"


Dean gemas dengan ucapan remaja itu yang seakan-akan baru kali ini melihat tempat yang sangat kejam. Sampai membawa-bawa kata kemanusiaan segala.


Ketika kedua orang itu sibuk berdebat, suara yang berasal dari penyadap yang di letakkan Boy, tersambung dengan tab milik Dean. Beruntung Dean selalu menggunakan headset yang terpasang di kedua telinganya.


"Kau diam dulu, dengarkan ini." Dean melepas sebelah headseat yang terpasang di telinganya dan memberikan kepada Boy.


Boy dengan cepat meraih benda itu dan memasangkannya di sebelah telinganya. Ketika mendengar ucapan yang berasal dari pria di dalam ruangan samping itu, kedua pria remaja unggulan Deadly Scorpion itu saling pandang dengan mata terbuka lebar.


"Nona Imel," ujar keduanya kompak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2