Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Mati Dua Kali


__ADS_3

"Maaf, aku mengganggu tidurmu ya?" tanya Ara dengan lembut.


Dean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung untuk menjawab pertanyaan Nona Mudanya. Kalau dia menjawab iya pasti akan menyinggung perasaan Nona Ara. Kalaupun menjawab tidak pasti Nona Ara akan tahu kalau dia berbohong.


"Em, ada apa, Nona?" tanya Dean untuk mengalihkan perhatian Ara.


"Aku butuh bantuan kamu, bisa tolong hack akun dan nomor Daddy. Hapus salah satu vidio yang terkirim ke nomor ponselnya," Ara menyampaikan maksudnya pada orang kepercayannya.


"Baik, Nona." Dean segera mengambil laptop miliknya dan mengotak-atik benda canggih itu.


Ara mendudukkan dirinya di sofa, gadis itu dengan sabar menunggu Dean yang masih fokus pada benda itu. Walaupun Ara yakin Daddy Haris tidak mudah di hasut, akan tetapi Ara tetap merasa perlu menyingkirkan vidio berisi fitnah itu.


"Hanya ada satu vidio dan berasal dari Clarissa, benarkah vidio yang Nona maksud?" tanya Dean memastikan seraya memutar laptop miliknya.


Ara mengambil laptop itu guna melihat vidio itu, walaupun sebenarnya Ara sudah yakin hanya dengan mengetahui vidio itu berasal dari Clarissa.


"Kurang ajar! berani sekali dia mencari masalah denganku lagi," Ara mengepalkan tangannya.


"Hapus itu, Dean!" Perintah Ara tegas.


Mendengar perintah dari Nona Mudanya, Dean segera melakukan perintah itu dengan cepat. Sebelum vidio itu sempat di lihat oleh Tuan Haris.


Setelah melihat Dean menghapus vidio tersebut Ara berdiri dari duduknya dan segera keluar dari markas. Dengan emosi yang memuncak Ara bertekad akan membalas Clarissa dengan setimpal.


"Kau mau kemana, Ra?" Seseorang menyapa Ara dari arah belakang.


Ara menoleh dan mendapati Reiner sedang berdiri dengan memegang secangkir kopi hangat. Pria itu memang jarang sekali berdiam diri, hingga meminum kopipun sambil berjalan-jalan. Sekalian mengecek markas miliknya.


"Pulang!" ujar Ara dingin.


Reiner berjalan mendekati sang adik, di lihatnya Ara seperti orang yang sedang menahan emosi. Reiner sudah sangat hafal ekspresi yang di tunjukan oleh gadis itu.


"Baru datang, langsung pulang? kau tidak ingin mengecek mangsamu? hanya tersisa tiga orang." ujar Reiner membuat Ara terkejut.


Apakah ujian yang di perintahkan Ara sampai memakan korban jiwa? Padahal biasanya ujian yang di berikan hanya untuk menggertak mental mereka saja.


"Maksudmu di antara mereka ada yang menjadi santapan hiu kesayanganku?" tanya Ara dengan suara keras.

__ADS_1


Reiner tertawa renyah, adiknya ini terlalu baik hingga masih memikirkan orang yang bahkan berniat jahat padanya. Terbukti dengan guyonannya ini berhasil menahan Ara di markas.


Melihat tawa Reiner Ara merasa curiga. Kenapa Kakaknya ini justru tertawa setelah memberi umpan pada predator ganas yang mereka pelihara. Biasanya Reiner akan merasa sedih jika sampai melukai orang lain.


"Sial! kau membohongi aku, Kak!" tuduh Ara.


Gadis itu memukul keras bahu Reiner sebagai bentuk tidak suka dengan keusilan yang di lakukan sang kakak. Bagaimana mereka bisa menjalankan visi dan misi mereka jika ada korban yang kehilangan nyawanya.


"Iya, iya, aku bercanda." Reiner menangkap pergelangan tangan Ara.


Ara mendengus kesal. Reiner benar-benar keterlaluan memakai nyawa manusia sebagai bahan candaan. Gadis itu makin kesal saja malam hari ini. Setelah Clarissa sekarang justru Reiner yang menghancurkan moodnya.


"Kau benar-benar kejam, Kak. Aku tidak suka bahan candaanmu itu." Ara melangkah meninggalkan Reiner sendirian.


Reiner mengejar langkah sang adik yang sepertinya sedang tergesa-gesa. Ada urusan apa yang membuat Ara gelisah saat berada di markas.


"Kau ini kenapa, Ra? seperti di kejar hantu saja!" sindir Reiner.


Sindiran Reiner membuat Ara menghentikan langkahnya, gadis itu membalikkan tubuh dan menatap garang pada sang Kakak. Malam-malam masih saja punya waktu membahas masalah makhluk satu itu.


"Aku tidak takut hantu!" jawab Ara kesal.


"Iyalah, kamu tidak takut hantu. Tapi hantu yang takut sama kamu! bisa mati dua kali mereka kalau ketemu kamu,"


"Maksudnya? kenapa mati dua kali?" tanya Ara penasaran.


Reiner menunjukkan ekspresi seperti orang ketakutan. Matanya melirik segala arah dengan tangan mendekap erat tubuhnya sendiri. Pria itu sengaja menciptakan aura tegang di sana.


"Apa sih, Kak. Gaje banget lo!" Emosi karena Reiner tak kunjung menyampaikan ucapannya.


"Oke, oke. Sabar dulu, kalau mereka dengar pasti kamu di laporin polish."


Ara makin jengah dengan ucapan Reiner yang semakin melantur dan melebar kemana-mana. Gadis itu berniat untuk pergi dari tempat itu dari pada meladeni Reiner.


"Ra, kamu tidak penasaran kenapa mereka mati dua kali?"


Ara kembali memandang Reiner dengan tatapan kesal. Dia sedang terburu-buru karena di rumahnya sudah ada sang suami. Bagaimana jika Ali sadar sebelum dirinya kembali?

__ADS_1


"Cepat katakan, atau ku tembak kau, Kak!" gertak Ara mengambil pistol di saku jaket miliknya.


"Nah kan, denganku saja kau mau main tembak. Bagaiman dengan para demit itu?" celetuk Reiner mengejek.


Ara menarik nafas dalam. Kalau saja pria di hadapannya bukan berpangkat Kakak satu-satunya. Ara pasti sudah menembak Reiner dengan pistol miliknya.


"Makin gila, ku adukan Kak Imel." Ara berlari menjauh setelah mengancam sang Kakak.


"Woi, berani lapor Imel. Aku pasti akan menculik Ali dan membuangnya ke segitiga permuda." Reiner berteriak karena Ara sudah jauh.


Sesampainya di parkiran mobil. Ara segera masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu bergegas untuk pulang ke rumah yang di tempati bersama sang suami.


Mobil melaju menembus jalanan yang sudah sangat sepi. Itu memudahkan Ara untuk segera sampai di rumahnya. Gadis itu menambah kecepatan laju mobilnya hingga sampai di rumah bergaya minimalis.


"Danish sudah sadar belum yah?" gumamnya seraya berlari masuk ke dalam rumah. Dia bergegas masuk ke dalam kamar pribadi miliknya untuk membersihkan dirinya sebelum akhirnya masuk ke kamar utama.


"Huh, beruntung Danish belum sadar." Ara mengelus dadanya sebagai bentuk rasa syukur.


Saat Ara melangkah ke arah ranjang bersamaan dengan Ali yang membuka matanya. Pria itu sudah sadar dari tidurnya. Alu mengedarkan pandangan, bingung pukul berapa sekarang?


Ali juga heran kenapa ada di ranjang? Seingatnya tadi dia tertidur saat berjalan menuju ranjang. Apakah istrinya yang menggedongnya ke ranjang?


"Moon, jam berapa sekarang?" tanya Ali seraya bangun dari posisi berbaringnya.


Bersambung...


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_


Gays othor punya rekomendasi baru yang keceh badai nih. Mampir yaks ke karya temen othor. Karya Bhebz Dengan judul Ex-Mafia Hot Daddy



Aku adalah Alexander Smith, seorang bos mafia terbesar di Rusia. Dunia mengenalku sebagai pria kejam, dingin, dan tak punya perasaan. Hingga suatu peristiwa besar yang menghilangkan nyawa seseorang yang aku cintai membuatku memutuskan untuk meninggalkan dunia hitam. Dunia yang banyak memberiku kemewahan dan kenikmatan dunia.


Aku memutuskan untuk menjadi hot Daddy bagi putriku seorang.

__ADS_1


Ternyata bayangan hitam masa laluku kembali membayangiku. Akankah aku bertahan untuk tidak terjun kembali ke Dunia gelap itu???


__ADS_2