
Aldev tersentak dengan ucapan yang baru saja terlontar dari bibir Ara. Jadi semua ini adalah kesalahannya sendiri yang memutuskan untuk memilih Wild Wolf dari pada Ara malam itu.
"Maaf, maaf jika itu adalah kesalahan fatal. Kakak hanya belum punya kuasa untuk menentang keputusan Papa," jelas Aldev pada Ara.
Mendengar penjelasan Aldev, Ara hanya menunjukan garis lengkung di bibirnya. Untuk apa sekarang Aldev menjelaskan? baginya itu sudah sangat terlambat.
"Heh, cukup. Aku tidak lagi mau mendengarkan apapun yang ingin kamu jelaskan. Bagiku, semua sudah terlambat. Aku tidak butuh apapun!" Ara menatap benci pada pria di hadapannya.
"Tapi, Bee. Apakah sama sekali tidak ada kesempatan untukku?"
"Kesempatan? kesempatan apa lagi? bukankah dulu aku sudah memberi kesempatan padamu!" bentak Ara dengan kasar.
Enak saja setelah meminta kesempatan bersama dan meninggalkan dia tanpa rasa bersalah, kini Aldev kembali meminta kesempatan lagi padanya.
"Sekarang aku sudah punya kemampuan untuk melawan keputusan Papa, jika kamu mau kembali. Syarat apapun akan Kakak lakukan meski harus menghancurkan Wild Wolf sekalipun," ucap Aldev tegas.
"Penawaran ini sangat aku terima jika saat itu kamu menawarkan. Tapi, sekarang aku sama sekali tidak tertarik."
"Apa bedanya dulu dan sekarang jika perasaanku untuk kamu masih sama?" tanya Aldev menuntut.
Ara tertawa lantang saat mendengar pertanyaan yang baru saja di ucapkan Aldev. Apakah masih belum jelas jika saat ini dirinya sudah menjadi istri sah seorang Ali Danish Mahendra?
"Kamu masih bertanya bedanya? apakah statusku belum jelas menjadi alasan perbedaan dulu dan sekarang? aku sudah MENIKAH!" tekan Ala pada kata menikah.
Dengan emosi Aldev membanting guci di sebelahnya hingga pecah berserakan. Ara sama sekali tidak terkejut dengan perbuatan Aldev, gadis itu sudah hafal dengan emosi Aldev yang mudah meledak-ledak. Aldev cukup merasa sangat marah ketika Ara membahas tentang pernikahan.
"Cukup! jangan bahas itu. Aku tidak pernah rela kamu menikahi pria b*jat itu!" bentak Aldev seraya menutup kedua telinganya.
"Kamu yang jangan pernah menghina suamiku! dia bukan pria bej*t. Dia suami sholeh yang dengan sabar membimbing aku,"
Saat ini Ara cukup kasihan pada Aldev yang sampai terlihat frustasi hingga menutup telinga juga luruh ke lantai. Pria itu memeluk lututnya sendiri. Andri yang melihat keadaan Tuannya segera mendekat dan mencoba menenangkan Aldev.
"Tuan, tolong tenang." Andri menoleh ke arah Ara.
"Nona, bisa keluar dulu. Tuan sedang tidak baik-baik saja, Dia mengalami depresi saat Nona menikah dengan suami Nona." pinta Andri pada Ara.
__ADS_1
Gadis itu masih diam berdiri dengan tatapan iba pada Aldev. Apakah ucapannya begitu membuat Aldev terguncang dan berakhir seperti ini? sungguh Ara tidak bermaksud membuat Aldev menjadi depresi.
"Tidak! jangan pergi. Jangan pergi, bee. Ku mohon jangan pergi," racau Aldev.
Mau seburuk apapun hubungan mereka sekarang, Aldev pernah menjadi pria kesayangannya sebelum Aldev dengan tega meninggalkan dirinya di taman kota bersama dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Maaf Kak, maaf jika Ara harus pergi." Ara membalikkan tubuhnya bermaksud untuk pergi dari mantion Aldev.
Langkah Ara terhenti ketika ada sepasang tangan yang memeluk kakinya. Aldev berjongkok dan memeluk kaki Ara dengan erat agar gadisnya tidak pergi. Merasakan kehancuran Aldev sekarang, Ara memejamkan matanya.
"Kenapa sakit sekali melihat kamu seperti ini, Kak Al?" gumam Ara lirih.
Ara ikut berjongkok dan melepaskan pelukan Aldev di kakinya. Dengan sedikit memaksa akhirnya pelukan itu terlepas, Namun kali ini Aldev justru berpindah pada bahu Ara. Pria itu memeluk Ara dengan erat seperti anak kecil yang tidak ingin di tinggal pergi oleh ibunya.
"Tolong, Bee. Jangan pergi, aku mohon jangan pernah pergi. Aku mencintai kamu," pinta Aldev meracau.
Meskipun awalnya Ara tidak nyaman dengan pelukan Aldev namun saat melihat keadaannya begitu memprihatinkan akhirnya Ara pasrah menerima pelukan yang membuat dirinya sangat merasa sesak.
Mau bagaimanapun hubungan mereka sekarang, mereka pernah sedekat nadi sebelum jauh bagai matahari.
"Sebentar, saya ambilkan suntikan penenang untuk Tuan Aldev." Andri segera berlari ke kamar pribadi Aldev untuk mengambil obat yang di butuhkan oleh Tuannya.
Aldev masih saja meracau di pelukan Ara. Hati kecil Ara merasa tercubit, sebesar inikah Aldev mencintai dirinya hingga akhirnya mengalami depresi. Apakah selama ini dia yang kurang dalam mencari tahu tentang kegiatan Aldev selama ini?
"Kak, cepatlah sembuh. Jangan sakit, Ara tidak bisa melihat Kakak seperti ini. Walau takdir tidak bisa menyatukan kita sebagai Kekasih, kita masih bisa menjadi saudara kan?" ujar Ara merasa miris dengan akhir dari kisah hubungan mereka.
Gadis itu tahu tidak ada gunanya menasehati Aldev untuk saat ini, tapi Ara berusaha menguatkan hatinya sendiri untuk tidak goyah. Dia sudah menikah dan sudah mencintai suaminya dengan tulus.
Andri datang membawa sebuah suntikan yang berisi obat p*nen*ng untuk Tuannya. Dengan berlari agar cepat sampai dan bisa mengatasi Aldev sebelum pria itu mengamuk lebih gila.
"Cepat Ndri,"
"Iya, Nona. Sebentar," Andri menyuntikan obat itu di lengan Aldev.
Perlahan kesadaran Aldev mulai hilang, pelukan di tubuh Ara terlepas dan Aldev tidak sadarkan diri. Andri dengan sigap menangkap dan menggendong Tuannya untuk di bawa ke kamarnya.
__ADS_1
Ara mengikuti langkah Andri ke dalam kamar Aldev yang juga pernah di jadikan sebagai tempat penyekapan Ara. Gadis itu tanpa rasa takut berkeliaran di mantion yang seharusnya bukan tempatnya berpijak.
Andri membaringkan Aldev di ranjang besar di kamar itu, lalu melepas sepatu yang di gunakan oleh Aldev dan menyelimuti Tuannya.
"Ndri, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Ara pada orang kepercayaan Aldev.
"Boleh Nona, ada apa?" Andri menjawab dengan sopan.
"Apakah Kak Al yang mengirim vidio suamiku bersama wanita lain ke nomor ponselku?"
Andri gelagapan ketika mendengar pertanyaan Ara. Sedikit banyak ia juga terlibat dengan rencana itu tanpa sepengetahuan Tuannya.
Melihat kegelisahan Andri, Ara cukup bisa menyimpulkan bahwa kemungkinan pria itu terlibat. Namun Ara tidak mau menuduh sebelum Andri mengakui itu sendiri.
"Em, i-itu Nona. Tuan Aldev sama sekali tidak mengerti dengan rencana itu, semua itu rencana Clarissa." Andri menunduk karena sadar dirinya juga bersalah.
"Clarissa? maksudmu mantan kekasih suamiku!" tebak Ara geram.
"Iya, Dia juga mengirim vidio itu pada Tuan Haris," ucap Andri memberi tahu.
"Daddy?"
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Hai gays, othor punya rekomendasi cerita punya Sobi othor yang keceh badai lagi nih. Jan lupa mampir yah. Karya MinNami dengan judul Rumah Tangga.
Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.
Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.
__ADS_1
Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?