
Andri segera berlari keluar dari cafe untuk menemui Tuan Mudanya. Andri tahu, dia sudah melakukan kesalahan dengan membuat Tuan Aldev menunggu lama.
"Ini semua karena ulah wanita J*lang itu! awas saja kalau rencananya tidak berhasil. Aku pasti akan memberi perhitungan," gumam Andri seraya berlari ke mobil yang sudah di tumpangi Aldev.
*****
Ara menyodorkan ponsel miliknya yang masih memutar sebuah vidio, dengan ragu-ragu Ali mengambil ponsel itu dan melihat sendiri apa yang membuat sang istri meminta penjelasan darinya.
Ali membulatkan matanya ketika melihat sendiri vidio yang menampakkan diriny sedang di peluk oleh Clarissa. Apa lagi saat Ali mengenali nomor yang mengirim vidio itu adalah nomor ponsel mantan kekasihnya.
'Dari mana Clarissa tahu nomor ponsel Ara, aku bahkan tidak pernah memberikannya pada siapapun.'
Ali bukan tidak bisa menjelaskan, hanya saja dia masih bingung bagaimana Clarissa mendapatkan nomor ponsel istrinya.
"Sun! bisa jelaskan?" tanya Ara sekali lagi karena Ali hanya diam tanpa mengeluarkan suara.
Ali tersadar dari rasa keterkejutannya. Pria yang masih berdiri dengan keadaan memprihatinkan itu menatap kakak iparnya. Berharap Reiner mau membantu dia untuk menjelaskan pada Ara. Namun, Reiner hanya mengedikkan bahunya.
"Moon, jangan salah paham. Itu hanya kekurang ajaran Clarissa saja, Aku tidak membalas pelukan darinya kan? coba kamu perhatikan vidio itu!" jelas Ali.
Ara mengambil ponsel miliknya, lalu tanpa melihat vidio itu Ara memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. Walau tanpa penjelasan Ali sekalipun, Ara sudah paham dengan vidio itu. Apa lagi anak buah yang di perintahkan menjaga Ali sudah melaporkan kejadian yang di alami sang suami.
"Karena hal ini, Aldev menghajar kamu?"
Mendengar pertanyaan istrinya, Ali hanya menganggukkan kepala. Dia cukup malu karena melindungi diri saja dia tidak bisa, apa lagi melindungi Ara.
'Aldev benar-benar keterlaluan! aku pasti akan membalas perbuatan kamu, Al!' batin Ara.
"Ra, lo gak kasian sama Ali? dari pada ngomongin hal gak penting, mending lo urusin tuh luka suami lo!" ujar Reiner mengingatkan Ara.
"Iya, iya, gue tau!" jawab Ara singkat.
"Ayo, Sun. Obati dulu luka-lukamu," ajak Ara pada Ali.
Ara menggandeng Ali menuju kamarnya, meninggalkan Reiner sendirian di ruangan itu. Ali mengikuti langkah Ara, sesekali dia mencuri pandang pada istrinya. Ali takut jika Ara masih saja salah paham, nyatanya Ara marah bukan karena Ali. Ara marah pada Aldev yang masih saja ikut campur dengan urusannya.
Perasaan Ara pada Aldev semakin hilang walau hanya rasa pertemanan yang Ara miliki. Apa lagi melihat keadaan suaminya yang kini babak belur akibat ulahnya.
Ara mendudukkan Ali di kursi saat sudah sampai di kamar mereka, lalu beranjak untuk mengambil kotak P3K untuk mengobati luka suaminya.
"Kelihatannya Ara benar-benar marah, aku harus bagaimana?" gumam Ali lirih.
Setelah menemukan barang yang di cari, Ara duduk di samping Ali. Lalu membuka kotak obat yang di perlukan oleh Ali, Ara mengobati luka itu dengan pelan.
__ADS_1
"Aws, sakit, Moon." menahan tangan Ara.
"Lalu, kamu enggak mau di obati?" tanya Ara.
"Mau, tapi pelan-pelan. Tiup juga lukanya,"
Ali bertingkah untuk menggoda Ara, Ali tidak mau Ara terus-terusan marah padanya. Ali sama sekali tidak paham jika yang membuat marah bukanlah dirinya.
"Iya, aku tiup." meniup luka.
Ara menatap Ali cemas, pikirannya kembali pada saat Ali pernah ketakutan saat mereka di buntuti oleh orang tidak di kenal. Saat itu Ali benar-benar ketakutan, padahal ada dirinya yang berusaha menenangkan.
Saat ini terjadi lagi, bahkan lebih parah karena fisik Ali sampai terluka. Bahkan tanpa dia di samping suaminya. Ara sama sekali tidak bisa mencerna pikiran Aldev yang dengan brutal memukuli Ali, beruntung ada Reiner yang menolongnya. Kalau tidak, Ara yakin Ali akan pulang hanya tinggal nama.
"Sudah, kamu ganti baju dulu, setelah itu kita makan. Kamu belum makan, kan?"
"Belum, baru sampai di sana aku langsung mendapatkan serangan dari laki-laki yang mencintai istriku," ujar Ali lirih.
"Kamu cemburu?" tanya Ara.
Pertanyaan Ara membuat Ali salah tingkah, mana mungkin dia mau mengakui rasa cemburunya. Apa lagi laki-laki tadi memang lebih baik darinya.
"Tidak!"
Ali semakin tidak bisa menahan dirinya. Untuk menghindari pertanyaan Ara, Ali beranjak lalu mengambil baju ganti untuknya. Pria itu secepat kilat hilang di telan pintu kamar mandi.
Ara tertawa pelan, Ara paham. Suaminya itu merasa cemburu pada Aldev, apakah ini pertanda Ali sudah benar-benar mencintai dirinya?
"Tenang, Sun. Aku hanya mencintai kamu," gumam Ara.
Setelah Ali mengganti bajunya, mereka turun ke bawah untuk makan siang. Walaupun waktu sudah sangat terlambat, tapi perut Ara benar-benar kelaparan karena sejak pagi tidak makan apapun.
Ketika sampai di tempat makan, di sana sudah ada Papi Adit, Mami Jane, dan Reiner. Mereka menunggu Ara dan Ali turun untuk makan siang bersama.
Ara dan Ali duduk berdampingan, berhadapan dengan Mami Jane dan Reiner. Mata Mami Jane membulat sempurna saat melihat kondisi Ali. Pergi tadi Ali masih baik-baik saja, kenapa saat ini terdapat luka lebam?
"Lho, Ali kenapa, Ra?"
"Ali di hajar Aldev, Mam," Reiner yang menjawab pertanyaan Mami Jane.
"Kenapa sampai Aldev menghajar Ali?" tanya Papi Adit.
"Aldev belum terima karena Ara menikah dengan Ali, Pi," masih Reiner yang menjawab.
__ADS_1
"Ya ampun, anak itu ... benar-benar psicopath. Untung saja Ara tidak mau menjadi istrinya," ujar Mami Jane.
"Sudah, Mi, kita makan dulu." tukas Papi Adit.
"Iya, Pi,"
Menu masakan hari ini semua di masak oleh tangan hebat Aracelia. Walaupun hanya sayur sop, ayam goreng dan juga sambal kesukaan Ara.
"Ini masakan siapa, Moon?" tanya Ali pada Ara.
"Kenapa, Sun? tidak enak yah?" Bukan menjawab, Ara justru kembali bertanya.
"Enak, Moon. Rasanya seperti masakan Ibu," jawab Ali dengan lembut.
Mendengar pujian Ali, pipi Ara memerah. Gadis itu berusaha menutupi rasa bahagianya karena di puji oleh sang suami. Padahal, Ali belum tahu masakan siapa yang di makan olehnya.
'Ah, kenapa sesenang ini di puji suami sendiri'
Melihat rona merah di pipi istrinya, Ali yakin. Masakan ini di buat oleh Ara, Ali tersenyum. Cita-citanya saat kecil dulu terjadi. Dulu saat masih kecil, Ara sangat menginginkan sosok istri seperti sang ibu.
"Ini, masakan kamu yah, Moon?"
Ara bingung untuk menjawab pertanyaan Ali, dia takut jika Ali menyangka dia berbohong. Ara takut Ali tidak percaya jika dia bisa memasak.
"Lo enggak tahu, Li? Ara dulu sering juara masak loh!"
Ara menendang kaki Reiner yang ada di hadapannya.
"Lo kok nendang gue sih, Ra!"
Bersambung...
Thanks For Reading..
_Nurmahalicious_
Author punya rekomendasi cerita bagus lagi nih, mampir yah ke karya temen othor yang keren ini.
Suci yang ingin bunuh diri karena diperkosa, ditolong oleh seorang pria bernama Alby. Dia tinggal dan bekerja di rumahnya sebagai seorang koki. Namun, nasib malang selalu mengikutinya dia diperkosa kembali oleh Alby. Pria itu dalam pengaruh obat perangsang yang sengaja dimasukkan ke dalam minumannya oleh sang adik ipar. Alby bersedia bertanggung jawab dan menikahinya. Tetapi pernikahan mereka tidak cukup kuat untuk menahan angin yang datang. Suci di fitnah selingkuh dan di ceraikan oleh Alby, padahal saat itu Suci ingin mengatakan kalau dia hamil anak Alby. Suci pergi tanpa pernah mengatakan tentang kehamilannya. Dia pingsan di jalan dan di tolong oleh orang yang memfitnahnya seorang pria bernama Adit. Mereka semakin dekat. Ada juga Bayu tetangga mereka yang menyukai Suci. Pada siapa hati Suci berlabuh? Mantan suami, atau pria yang membuatnya bercerai dengan suaminya atau Bayu pria yang juga menolongnya saat dia jatuh.
Karya Kak EuRo40 dengan judul Cinta Suci Yang Ternoda. Sambil nunggu update dari Ara dan Ali.
__ADS_1