
Rahang Reiner mengeras dengan gigi bergemelatuk saat menatap beberapa lembar foto yang tercetak jelas bahwa istri dan anaknya yang ada di dalamnya.
Mereka terlihat sedang bermain dengan seorang pria yang hanya terlihat punggungnya saja. Akan tetapi Reiner yakin bahwa orang yang berada di dalam potret itu adalah seorang pria.
Reiner mengepalkan tangan kanannya dan dengan emosi meninju kaca cendela mobil miliknya hingga pecah berhamburan. Entah apa maksud dari gambar yang di berikan oleh laki-laki itu untuknya. Yang jelas dia begitu yakin jika orang itu akan benar-benar mengacaukan keluarganya.
"Kita pulang sekarang!" titah Reiner berjalan menuju mobil milik Ferry.
Ferry dan anggota lain segera mengikuti perintah dari pemimpin yang begitu mereka hormati itu. Mereka dengan cepat masuk ke mobil masing-masing dan pergi dari tempat itu.
"Fer," panggil Reiner tanpa menatap tangan kanannya itu.
Ferry menoleh, walaupun kedua tangannya masih sibuk dengan stir mobil di depannya. "Ya, Tuan." Ferry tidak berpaling sedikitpun dari pemimpinnya itu.
__ADS_1
"Kau sudah tahan salah satu angota itu? Aku yakin mereka berasal dari Wild Wolf. Kelompok Aldev, hanya saja laki-laki itu dia yakin bukanlah Alvino Maladeva.
"Sudah, Tuan. Dean yang kini menggantikan dia disana, agar kita lebih mudah memata-matai mereka." Kini Ferry kembali fokus pada jalan di hadapannya.
Reiner mengangguk tanda mengerti. "Bilang pada Dean, jangan sembarangan di markas lawan. Dia harus lebih berhati-hati. Kalau dia merasa kesulitan, kirim Boy untuk membantunya."
Setelah mengucapkan kata itu dan di balas anggukan oleh Ferry, kini Reiner hanya diam. Laki-laki itu mencoba memahami poin-poin penting yang harus dia susun menjadi sebuah petunjuk.
15 menit berlalu, saat ini mobil yang di kendarai oleh Ferry masuk ke dalam sebuah gerbang tinggi yang menjadi pembatas antara jalan raya dan Mansion besar keluarga Aditia. Jarak antara gerbang dengan mansion begitu luas hingga memerlukan waktu cukup lama jika tidak menggunakan mobil sampai di depan mansion.
"Kalian ke markas saja," ujar Reiner sebelum menutup pintu mobil milik Ferry.
Ferry tidak langsung pergi, laki-laki dengan garis wajah khas timur itu menatap pemimpinnya dengan hembusan nafas pelan. Dia terlalu mengkhawatirkan keadaan Reiner yang akhir-akhir ini terlalu banyak masalah.
__ADS_1
Reiner berjalan memasuki pintu masuk mansion milik orang tuanya. Laki-laki berparas tampan dengan kulit putih itu dengan gagah menaiki tangga untuk segera sampai di kamar mereka.
Begitu memastikan Reiner sudah masuk, Ferry kembali memacu mobil sport miliknya di ikuti oleh dua mobil yang terus mengikutinya.
Ferry bergegas untuk sampai ke markas Deadly Scorpion seperti titah Reiner. Mobil yang di kendarai olehnya membelah jalan yang agak padat, akan tetapi Ferry begitu lihay meliak-liukkan laju mobilnya hingga tidak terkena macet. Saat memasuki jalan yang lumayan sepi, Ferry menaikkan laju mobilnya agar cepat sampai di markas. Daun yang jatuh ke jalanan hingga beterbangan saat mobil yang di kendarai Ferry melaju dengan kecepatan tinggi.
Dua mobil di belakang masih setia mengikuti Ferry hingga sampai ke markas. Mereka memasuki gerbang tinggi markas Deadly Scorpion lalu memarkirkan mobilnya masing-masing.
Ponsel di saku celana Ferry berdering, laki-laki itu merogoh ponselnya dan segera menerima sambungan telfon yang berasal dari Nona Mudanya.
"Baik, Nona." Ferry kembali masuk ke dalam mobilnya setelah mendapat telfon dari Aracelia.
Bersambung...
__ADS_1
Gengs, Kuy mampir ke karya aku yang lainnya. Ini kisah Alvino Maladeva dan Syifana Mahendra, lho! Kuy kepoin kisah Aldev yang di RIC ini terlalu sad karena kehilangan Aracelia.