
Ara cukup terkejut dengan pertanyaan yang di ucapkan oleh Ali. Gadis itu mengira Ali meminta mereka untuk tidur terpisah seperti Malam pertama mereka sebagai suami istri.
"Memang kamu mau kita tidur sendiri-sendiri?" Ara balik melempar pertanyaan pada Ali.
Mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Ara, Ali mulai kelabakan. Mana mungkin dia mau tidur sendiri lagi. Sedangkan dia sudah sangat nyaman berada di samping gadis culun yang dulu sangat di benci olehnya.
"Tentu saja, Tidak, Moon. Aku mau tidur bersama bantal guling tercantikku sejagad raya." Ali memeluk Ara dengan tanpa rasa malu.
Padahal di belakangnya ada beberapa penjaga yang di perintahkan Ara untuk menjaga rumah mereka. Mungkin karena rasa nyamannya bersama Ara, Ali hingga melupakan beberapa manusia di belakangnya.
Ara melepaskan pelukan Ali karena merasa risih di pandang oleh beberapa anak buahnya. Bagaimana jika mereka merasa tidak nyaman dengan kemesraan yang di tunjukan oleh keduanya.
"Iya, iya, tidur bersama. Tapi di kamar utama saja, kamar yang aku tempati terlalu kecil untuk kita berdua," ujar Ara berkelit.
Ara sengaja berbohong tentang kamar yang di tempati olehnya itu sempit. Padahal di bandingkan dengan kamar utama, kamar itu jauh lebih besar. Tentu saja di kamar itu terdapat segala Rahasia besar milik Ara sejak kecil.
"Baiklah, tapi janji jangan pindah saat aku sudah tidur!" Ali melemparkan ancaman untuk Ara.
"Huh, iya, iya, aku tidak akan pindah!"
Setelah selesai dengan bahasan mereka tentang tidur sekamar, pintu rumah itu terbuka sebelum Ara menekan tombol bell. Salah satu penjaga di luar menghubungi asisten yang ada di dalam bahwa majikannya sudah pulang.
"Nona, Tuan." sapa Bi Ani ramah.
"Lah, Ara baru mau pencet bell. Bibi sudah keluar duluan,"
"He-he, tadi Ringgo mengabari saya, Non." jelas Bi Ani pada Ara.
Ara hanya mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda dia memahami apa yang di ucapkan oleh Bi Ani. Mereka segera masuk ke dalam rumah, Ara dan Ali menuju kamar utama mereka.
Ali langsung masuk kamar mandi ketika sudah sampai di kamarnya. Ingin segera menunaikan ibadah sholat isya yang tadi tertunda.
Sedangkan Ara setelah mengambil baju di lemari, dia keluar lagi menuju kamar miliknya. Gadis itu bermaksud untuk mandi di kamar mandi pribadi ruangan rahasianya.
"Semoga saja Danish tidak terlalu malam sudah tertidur. Atau aku coba akali dengan obat tidur saja? Agar dia tidak sadar dengan kepergianku!" Sebuah ide melintas di pikiran gadis itu.
Setelah yakin dengan keputusannya Ara segera berlari ke arah kamar pribadinya, Ara mengambil obat tidur yang tersimpan di laci kamar itu lalu keluar untuk membuatkan teh untuk suaminya.
__ADS_1
Acara mandinya dia terpaksa mengundurnya. Misi ini lebih penting dari sekedar membersihkan badannya. Walaupun dengan rasa tidak tega, Ara harus melakukan itu demi kebaikan mereka.
"Maaf, Sun! ini demi kebaikan kita." gumam Ara seraya membuatkan teh hangat yang di campur dengan obat tidur.
Ara masuk ke dalam kamar utama bersamaan dengan Ali yang selesai menunaikan kewajibannya tersebut. Ara menaruh teh hangat buatannya di meja, lalu melangkah mendekat pada Ali yang sedang melipat sarung miliknya.
"Kamu bikin teh, Moon? untukku kan?"
"Memang untuk siapa lagi kalau bukan untuk kamu!"
"He-he, baiklah. Akan ku nikmati segelas teh hangat buatan istriku." beranjak ke arah sofa.
Ali duduk di sofa dan mengambil teh yang di buat oleh Ara. Tanpa rasa curiga Ali meminum teh itu dengan perlahan, seperti orang yang benar-benar menikmati minuman racikan sang istri.
Setelah beberapa tegukan, Ali merasa dirinya sangat mengantuk. Padahal sebelum sholat tadi masih merasa segar, bahkan dia berniat untuk mengajak Ara pergi ke luar untuk menyegarkan diri.
"Moon, kenapa rasanya aku mengantuk sekali ya?" keluh Ali dengan beberapa kali menguap.
"Kalau kamu ngantuk, tidur gih, Sun."
Belum sampai di ranjang mereka, Ali sudah kehilangan kesadaran. Dengan susah payah Ara berusaha membawa ali ke ranjang agar lebih merasa nyaman saat tidur.
"Huh, berat sekali!"
Ara menidurkan Ali di ranjang besar itu, akhirnya walau dengan susah payah gadis itu berhasil membawa sang suami hingga sampai di tempat tidur. Ara menyelimuti Ali sebelum meninggalkan suaminya itu sendiri.
"Maafkan aku, Sun. Aku hanya sebentar, aku janji tidak akan lama." Ara beranjak meninggalkan Ali yang sudah tidak sadarkan diri.
Ara segera keluar dari kamar utama, dengan langkah tergesa Ara menuruni anak tangga. Ara keluar dari rumah miliknya, di luar beberapa penjaga sudah siap untuk menerima tugas yang akan di berikan oleh sang bos.
"Kalian jaga suamiku, jangan sampai ada yang menerobos dan menyakitinya." Ara berucap sambil berjalan ke arah mobil sport miliknya.
"Baik, Nona."
Setelah memastikan semua akan sesuai rencananya, Ara masuk ke dalam mobil dan segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Aldev.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Aldev!" geram Ara memukul stir mobil miliknya.
__ADS_1
Ara mengarahkan mobilnya menuju Mantion milik Aldev. Gadis berkacamata itu sangat hafal dengan tempat itu. Selain saat di culik oleh Aldev saat hari pernikahannya, Ara sudah sering berada di mantion itu sebelum mengetahui perasaan Aldev yang sebenarnya.
Saat sudah sampai di depan gerbang kokoh yang menjulang tinggi, Ara dengan tidak sabaran membunyikan klakson mobilnya seperti orang kesetanan. Beberapa anak buah Aldev sampai kocar-kacir karena mengenali mobil siapa yang berkunjung ke mantion.
"Kau beri tahu Tuan, Nona Ace datang ke sini." perintah salah satu penjaga pada rekannya.
Orang yang di perintah mengabari Aldev tentang kedatangan Ara di mantion segera berlari masuk ke dalam. Dia berlari hingga sampai di ruangan Aldev sedang memanjakan beberapa senjata miliknya.
"T-tuan," panggil orang itu dengan gugup.
Aldev menoleh ke arah penjaga yang masih berdiri dengan nafas terengah-engah. Apakah mantion di serang? hingga dia ketakutan seperti itu. Pikir Aldev.
"Kau kenapa lari-lari di dalam? kalau mau olahraga di lapangan sana!"
"Maaf, Tuan. D-di luar ada Nona Ace." Dengan sedikit terbata orang itu menyampaikan pada Tuannya.
"Ara? datang ke sini?" tanya Aldev terkejut.
"Benar, Tuan."
Aldev segera beranjak dari duduknya bermaksud akan keluar dari mantion dan menemui wanita pujaannya. Namun baru beberapa langkah, Ara sudah berdiri di depannya dengan pandangan tidak bersahabat.
"Ara!"
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Author punya rekomendasi cerita keren lagi nih, punya bestie othor. Mampir yak karya Emmarisma dengan judul Zafrina Mendadak Nikah
Terjebak dalam Friendzone membuat Zafrina dan Zico nyaman satu sama lain. keduanya sama-sama memiliki perasaan lebih namun mereka ragu untuk mengungkapkannya.
Rian papi Zafrina dan Zafa kakaknya berniat membuat kedua sahabat itu saling mengakui perasaannya, tapi suatu kejadian justru membuat Zafrina dan Zico dipaksa menikah.
__ADS_1