
Seorang pria paruh baya berdiri di belakang keempat manusia yang sedang berpelukan. Membuat keempatnya seketika menoleh pada arah sumber suara. Saat melihat pria itu, mereka berlarian menuju ke tempat pria itu berdiri dengan memegang tas kantornya. Dua di antaranya langsung memeluk pria paruh baya itu.
"Ayah, sudah pulang?" tanya Ibu Salma pada suaminya.
"Iya, Bu. Loh, Ara kenapa tidak peluk Ayah juga?" jawab Ayah Hendra singkat lalu beralih pada sang menantu yang terdiam hanya melihat kedua anaknya yang asik memeluknya.
"Memangnya Ara boleh peluk juga, Yah?" tanya Ara malu-malu.
Ali yang sejak tadi asik memeluk sang ayah, kini beralih menatap istrinya. Ali menggelengkan kepalanya dan melepas pelukan ayahnya.
"No! kamu hanya boleh peluk aku, Moon." Ali berjalan menuju sang istri dan tangan kirinya merangkul pundak Ara.
"Tidak akan aku biarkan siapapun memeluk kamu, termasuk Ayah." Tangan kanan Ali kembali mencubit hidung Ara untuk menggodanya.
"Dasar bucin!" ejek ketiga orang disana.
"Biarin aja, bini sendiri ini."
Ara mencoba melepaskan diri dari rangkulan erat suaminya. Wanita bersuami itu masih terlalu malu menunjukan kemesraan mereka di depan umum. Namun saat Ara mencoba melepaskan, Ali justru memindahkan tangannya di pinggang ramping istrinya.
"Malu, Sun," bisik Ara di telinga Ali.
__ADS_1
Ketika mendengar bisikan istrinya, Ali menoleh dan mengedipkan matanya. Pada dasarnya laki-laki itu mempunyai hobi jahil pada orang-orang yang di sayanginya.
"Enggak apa-apa, kita 'kan enggak main cium-ciuman di depan mereka," Ali balik membisikkan sesuatu di telinga Ara.
Muncul rona merah di pipi Ara. Rayuan suaminya berhasil membuat dirinya salah tingkah. Kenapa harus membahas masalah ciuman? membuat pikiran wanita itu membayangkan ciuman pertama mereka dulu yang berawal karena ketidak sengajaan.
Ibu Salma dan Ayah Hendra tersenyum saat melihat keduanya sudah begitu dekat. Bahkan putranya terlihat posesif pada sang istri. Itu artinya sudah tidak ada keterpaksaan di hati putranya dalam menjalani biduk rumah tangga.
"Bu, Ayah lapar sekali." Tangan Ayah Hendra mengelus perutnya yang sejak tadi memang sudah keroncongan.
"Oh iya, ayo kita makan." Ibu Salma mengambil alih tas kantor Ayah Hendra dan meletakkannya di sofa.
"Ibu siapkan dulu, kalian tunggu saja di meja makan." Ibu Salma berjalan menuju dapur di ikuti oleh Ara dan Syifana.
Sungguh keluarga mereka adalah keluarga yang akur dan kompak. Tidak terlihat jika salah satu di antaranya adalah menantu. Justru terlihat seperti kakak beradik yang saling membantu meringankan pekerjaan satu sama lain.
Setelah makanan siap, ketiga wanita yang sejak tadi sibuk mondar-mandir kini duduk di kursi dengan Ibu Salma berhadapan dengan putra sulungnya, Ara duduk di kursi samping sang suami, sedangkan Syifana duduk di samping Ibu Salma.
Mereka mengambil makanan yang ingin mereka makan ke dalam piring masing-masing. Di sini Ali justru yang melayani Ara sebagai Ratu. Dia dengan cekatan meletakkan piring yang sudah terisi makanan ke hadapan sang istri. Hal itu membuat Ibu Salma sangat bahagia, karena sang putra benar-benar memuliakan istrinya.
"Ali, pimpin doa."
__ADS_1
Ali segera membaca doa untuk mereka makan. Setelah selesai mereka makan dengan diam, bahkan suara denting sendok dan garpu hampir tak terdengar.
Kebiasaan makan di keluarga mereka memang tidak boleh ada suara ketika mereka makan ya harus fokus pada makanan. Setelah selesai makan baru boleh saling berbicara.
Saat masih fokus pada makanannya, tiba-tiba Ara tersedak. Wanita itu terbatuk, beruntung Ali dengan cekatan mengelus punggung istrinya.
"Kamu kenapa, Moon?" tanya Ali ketika Ara sudah tidak terbatuk lagi. Suami siaga itu menyodorkan segelas air putih untuk istrinya.
"A-aku, ... aku teringat Daddy, Sun."
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
Hai gays, Author punya rekomendasi cerita keren nih. Mampir ya ke karya temen othor yang keceh badai ini. Karya Syitahfadilah dengan judul Kukira Cinta TERNYATA DUSTA.
Naura Anindhita gadis yang berusia 21 tahun masih bersatus mahasiswi di sebuah Universitas terpopuler di ibukota, dijodohkan dengan Wahyu Pratama yang berusia 29 tahun dan sudah bekerja di salah satu perusahaan ternama di ibukota, serta menjadi kepercayaan temannya yang merupakan anak dari pemilik perusahaan tersebut.
__ADS_1
Meski pernikahannya berawal dari sebuah perjodohan, Naura sangat bahagia karena diperlakukan dengan sangat baik oleh suaminya. Semua perhatian dan sikap yang ditunjukkan oleh Wahyu, seolah dia sangat mencintai istrinya. Namun, siapa sangka. Ternyata itu semua hanyalah sebuah cover yang Wahyu gunakan untuk menutupi hubungannya dengan Diandra, kekasihnya sejak masa SMA.
Setelah satu tahun pernikahannya bertepatan dengan Naura yang bergelar sarjana, dia mengetahui hubungan suaminya bersama Diandra yang ternyata adalah dosennya sendiri.