Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Tertangkap


__ADS_3

Reiner menatap Aldev dengan kabut amarah yang kian menguasai dirinya. Melihat pria itu berdiri dengan santai bahkan menyindir dia yang menyatroni markas Wild Wolf membuatnya semakin emosi. Reiner juga melihat wajah Rico di dalam diri Aldev, hal itu membuatnya semakin tidak terkendali.


Reiner menurunkan sang ibu mertua untuk di gandeng oleh Imel, pria itu kemudian melangkah mendekati sang adik ipar. Dengan tangan terkepal erat, dia terus berjalan hingga berada tepat di depan Aldev. Ketika sudah berhadapan, Reiner langsung melayangkan pukulan keras di rahang adik iparnya.


Aldev yang belum siap dengan serangan tiba-tiba yang di lakukan Reiner, mundur hingga terbentur di dinding. Pria yang menggunakan kaos hitam itu mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Senyum sinis terbit di bibir yang tengah terluka akibat pukulan pemimpin Deadly Scorpion.


"Kau, jangan pernah ikut campur, Aldev! Jika kau membantu Papamu untuk melakukan kejahatan pada istriku, aku tidak akan segan untuk mengirimu ke neraka!" ancam Reiner dengan emosi yang memuncak.


Dean mengambil alih untuk membantu ibu kandung nonanya itu untuk berdiri ketika mendapatkan bisikan perempuan itu. Ketika sudah lepas dari gandengan tangan sang ibu, Imel langsung mendekati suaminya yang terlihat sedang dalam kabut amarah.


"Sudah, Rei, jangan sakiti dia." Perempuan itu menahan Reiner dengan mendekap erat lengan sang suami.


Pria yang awalnya tengah menatap tajam Aldev, kini beralih. Pandangan matanya sudah tidak lagi semengerikan ketika Reiner menatap adik iparnya sendiri.


Dia juga merasa kesal karena pria yang merupakan adik dari istrinya, tidak pernah sekalipun berusaha menolong sang istri dari ketidakadilan yang dilakukan oleh Rico. Jikapun pria tua Bangka itu mengenalkan mereka sebagai sepupu, seharusnya ada sedikit saja rasa peduli Aldev terhadap Imel.


Apa lagi tentang nasib sang mertua, yang menderita bertahun-tahun menjadi tawanan di markas itu. Seharusnya Aldev mengutarakan hal ini jika memang dia juga mengerti. Hal itu yang membuat Reiner begitu geram pada pria yang tidak lain adalah saudara dari istrinya.


"Aku tidak pernah ikut campur tentang urusan Papa, aku bahkan tidak peduli dengan semua yang tua Bangka itu lakukan. Kehidupanku saja sudah hancur karenanya," ujar Aldev seraya membersihkan kotoran yang menempel di bajunya.


"Bulshit! Itu tidak mungkin. Jika kau tidak tahu, apa kau juga tidak tahu siapa sebenarnya istriku?" tanyanya dengan sinis.


"Imel, dia sepupuku, dia anak dari adik Papa." Aldev menyilangkan tangannya di atas dada.


"Kamu salah, Al, kita adalah saudara satu ayah. Sayangnya kamu lebih beruntung karena lahir dari rahim istri sah Papa, sementara aku, aku hanya seorang anak yang lahir dari rahim istri simpanan Papa."


Imel sudah tidak mampu lagi untuk menyembunyikan hal itu, dia sebagai seorang Kakak ingin sang adik juga mau mengakuinya sebagai saudara meskipun mereka berbeda ibu.

__ADS_1


Aldev langsung menatap tidak percaya pada perempuan yang berada di samping Reiner. Dia tidak pernah tahu tentang ayahnya yang memiliki wanita idaman lain selain ibu dari wanita yang juga dia cintai. Setahunya, sang ayah hanya mencintai wanita itu, sementara wanita itu tidak pernah mencintai ayahnya. Cinta yang di miliki oleh ayahnya itu tidak terbalaskan dan membuatnya berbuat nekat.


Dia tidak menyangka bahwa pria yang di cintai dengan begitu dalam oleh ibunya itu sampai memiliki wanita simpanan, bahkan memiliki putri dari simpanannya tersebut.


Syok dengan pengakuan Imel, Aldev tidak mampu berkata apa-apa. Pria itu langsung membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu. Meninggalkan tamu tidak di undang yang datang ke markas miliknya.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanyanya seraya mengelus punggung sang istri.


Imel menganggukkan kepalanya, akhirnya dia bisa lega setelah mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya. Cepat atau lambat Aldev memang harus tau tentang hal itu.


.


.


.


.


.


Untuk kegiatan seperti ini, mereka memang harus berwaspada. Satu sama lain bisa saja saling menghianati, untuk itu masing-masing kelompok membawa pasukan yang tidak kalah kuat.


Setiap anggota yang ikut selalu siap sedia jika saja kondisi berubah menjadi lebih berbahaya. Selain harus waspada atas kelompok yang bertransaksi, mereka juga harus kucing-kucingan dengan pihak berwajib.


Seorang pria tengah berada di balik dinding seorang diri, sebuah headset menempel di telinga kanannya.


"Baguslah kalau kalian sudah berhasil menyelamatkan Nona, aku jadi lebih leluasa untuk melakukan penyamaran ini. Aku juga bisa pergi kapanpun tanpa khawatir rencana kita akan gagal total, tapi untuk saat ini aku belum bisa kembali."

__ADS_1


"Kak, Tuan Reiner menyuruhmu segera kembali. Dia memiliki firasat buruk tentangmu! Ayolah, aku jemput di dermaga!" ajak Dean kepada kakak kandungnya.


"Tenanglah, kau jaga saja keluarga Tuan Rei, aku titipkan semuanya padamu sampai nanti aku bisa kembali kesana," ujarnya dengan suara sepelan mungkin.


Ferry mungkin bisa saja menyelinap dan kabur dari misi transaksi ilegal itu, akan tetapi tempat itu begitu terlihat berbahaya. Jika dia salah melangkah, justru akan membuatnya berada di keadaan yang krusial.


Bagaikan makan buah simalakama, dia tidak bisa memilih satu dari banyaknya pilihan kali ini. Di tempat itu dia sendirian, jika dia gegabah justru akan berakhir di tangan kedua musuh. Terlebih lagi kedua kelompok itu merupakan klan mafia kejam dan bengis.


Namun, jika meminta bantuan dari markas, Ferry justru takut jika itu akan membuat kelompoknya sendiri akan mendapatkan kesialan. Lagi pula, dia sudah menghubungi seseorang yang mungkin akan dapat membantunya kali ini tanpa mengandalkan Deadly Scorpion yang juga sedang memiliki masalah sendiri.


"Baiklah, Kak. Tapi janji jaga dirimu baik-baik, aku akan selalu memantaumu!"


Belum selesai mereka melakukan panggilan, terdengar suara senjata yang saling bersautan. Ferry langsung dalam sikap waspada, pria itu lupa untuk mematikan panggilan yang berasal dari adiknya.


Ferry langsung mengeluarkan senjata miliknya untuk berjaga-jaga, pria itu lari ke arah kerumunan orang yang saling tembak di balik balok-balok besar. Beruntung pria itu berada di atas salah satu balok, dia menyembunyikan diri di atas sana.


"Jangan bergerak!"


Suara itu langsung membuat Ferry mematung di tempatnya dengan posisi merayap. Pria itu memejamkan mata dengan lama, tidak berniat untuk menembakkan pistol yang sudah dalam keadaan siap itu ke arah orang di belakangnya.


"Kak, kau ketahuan? Kak, jawab aku, Kak!" seru Dean yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


Remaja itu tidak pernah takut jika sang kakak hanya adu tembak atau adu jotos sekalipun dengan lawan. Hanya satu yang dia takutkan, yaitu jika sang kakak tertangkap oleh pihak berwajib dan di nyatakan bersalah. Dia tidak pernah terima jika kakak kandungnya akan di cap sebagai penjahat.


Mendengar suara sang adik yang terdengar panik, Ferry justru mengakhiri panggilan dengan memencet sebuah tombol yang menghubungkan benda itu dengan ponsel.


"Kakak!" seru Dean yang kini semakin frustasi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2