
Saat pintu masuk mansion terbuka, beberapa orang berdiri menghadap keluar untuk menyambut ketiga orang yang baru saja datang. Papi Adit dan Mami Jane berdiri dengan senyum yang mengembang di bibir keduanya, sementara Rachel berada di gendongan sang kakek.
Binar bahagia nampak di wajah gadis kecil itu ketika melihat kedua orang tuanya yang baru saja masuk ke mansion. Namun, raut bahagia itu berganti rasa bingung ketika melihat wanita tua yang berada di tengah-tengah orang tuanya.
Reiner dan Imel membantu sang ibu untuk melangkah masuk. Mereka mendudukkan wanita tua yang masih terlihat lusuh itu di sofa ruang tamu. Melihat sang besan sudah duduk di sofa, Papi Adit dan Mami Jane ikut menyusul. Mereka duduk berhadap-hadapan. Rachel turun dari pangkuan sang Opa dan langsung berlari ke arah sang ayah.
Ayah satu anak itu langsung menyambut pelukan hangat dari putrinya. Beberapa kecupan dia berikan di pipi dan kening sang putri. Setelah itu, Rachel beralih pada sang ibu. Gadis kecil berusia 4 tahun itu terlihat sangat merindukan ibunya.
"Mama kemana saja?" tanya gadis kecil itu seraya menatap wajah lelah ibunya.
"Memangnya Ahel tidak melihat Mama di rumah?" tanya Mami Jane kepada sang cucu.
Gadis kecil itu menggeleng keras. "Yang di rumah bukan Mama, dia galak dan tidak sayang pada Ahel," jawab anak itu dengan jelas.
Kedua orang tua gadis itu saling pandang, mereka begitu bangga kepada sang anak yang sangat krisis dan dapat membedakan seseorang. Padahal usianya masih kecil, bakhan masih balita.
"Mama, dia siapa?" tanya gadis itu seraya menunjuk wanita yang duduk di sofa.
"Dia Oma, Sayang, neneknya Rachel." Imel sekarang melangkah mendekati sang ibu.
"Oma, kenapa Rachel baru melihatnya sekarang?" tanya gadis polos itu.
"Oma baru datang dari kampung, Sayang. Dia itu ibu dari Mama," jelas Reiner agar putrinya itu tidak banyak bertanya lagi.
"Mel, kamu bantu ibu kamu untuk membersihkan tubuhnya dulu, Sayang. Suruh ibumu untuk beristirahat, biar bincang-bincangnya lain kali saja. Lagi pula, ini sudah hampir pagi," ujar Mami Jane menyuruh menantunya itu.
"Sini, Rachel tidur sama Opa dan Oma dulu, biarkan Mama bantuin Oma Rachel dulu, yah!" bujuk Papi Adit.
__ADS_1
Rachel langsung menurut, gadis kecil itu turun dari gendongan sang ibu lalu berlari mendekati kakek dan neneknya. Bibir Reiner mengulas senyum ketika melihat sang putri begitu penurut. Gadis kecil miliknya itu tidak banyak mau dan tidak rewel sama sekali.
Mereka memutuskan masuk ke kamar masing-masing, Imel membantu sang ibu membersihkan diri di kamarnya. Mami Jane dan Papi Adit membawa Rachel untuk kembali melanjutkan tidur. Sementara Reiner, pria itu berniat keluar dari mansion. Sandiwaranya belum berakhir, dia masih harus mengacaukan Amel yang berada di mansion utama.
Menurut penjaga di sana, perempuan itu berlaku aneh selama tidak ada penghuni di mansion besar itu. Dia kedapatan beberapa kali menemui orang di luar mansion dengan mengelabui penjaga.
Perempuan cantik dengan tubuh seksi itu begitu sabar membantu sang ibu membersihkan semua kotoran yang menempel, terlebih lagi rambut yang sudah gimbal itu. Imel dengan penuh kasih memakaikan shampo agar rambut sang ibu tidak terlalu kaku.
"Mel, kamu janji tidak akan membalas dendam atas kejahatan kakakmu itu, 'kan?" tanyanya memastikan.
Perempuan yang berada di belakang tubuh sang ibu, kini menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sedikit merasa sakit ketika sang ibu bertanya pertanyaan itu berulang kali. Rasanya seperti ibunya itu tidak percaya bahwa dirinya berbeda dari kakak kembarnya.
"Mah, Imel janji, apapun yang sudah Kak Amel lakukan. Imel tidak akan membalasnya walau seujung kukunya sekalipun," ungkap perempuan cantik itu.
Tangannya masih sibuk melakukan pijitan lembut di kepala sang ibu, selain ingin membersihkan rambut ibunya, Imel juga ingin memberikan kenyamanan untuk wanita tua itu.
Walaupun pikirannya kini berkelana entah kemana. Sedikit rasa kecewa di rasakan oleh perempuan itu akibat dari pertanyaan yang menyangkut tentang sang kakak terus menerus. Harusnya sang ibu sudah paham tentang sifat dan karakternya. Bukankah dia mendapatkan ketidakadilan dari sang ayah karena dia tidak mau mengikuti jejak dari ayahnya yang kejam dan jahat itu.
"Terserah kamu, Sayang. Tapi apa kamu tidak lelah?"
"Tidak, Mah. Imel sangat bahagia bisa melayani Mamah," jawab Imel dengan yakin.
Setelah selesai membantu memandikan dan menggantikan baju sang ibu, Imel juga membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum akhirnya akan masuk ke dapur.
"Mah, Imel masak dulu, yah! Mama tidur aja dulu, nanti Imel bangunkan," pamit Imel kepada ibunya.
"Iya, Sayang, tapi jangan lama-lama."
__ADS_1
Perempuan itu turun ke lantai dasar dan masuk ke dapur, walaupun ada pembantu di mansion, akan tetapi Imel memang sengaja ingin memasak sendiri makanan untuk ibunya yang sudah lama terpisah.
Untuk mempersingkat waktu, Imel membuat Nasi goreng dengan telur mata sapi yang di letakkan di atas nasi goreng itu. Menu sederhana yang dulu sering di masak oleh ibunya untuk makan bersamanya.
Beberapa waktu berkutat dengan bumbu dapur dan peralatan masak, Nasi goreng itu kini sudah jadi. Imel meletakkannya di atas piring lalu membuat segelas teh hangat dan membawanya ke kamar sang ibu dengan nampan.
"Sekarang tinggal bawa ke kamar, lalu melihat Mama makan dengan lahap."
Perempuan itu membawa makanan buatannya ke kamar yang di tempati oleh ibu kandungnya. Ketika masuk ke kamar, Imel mengulas senyum tipis. Sang ibu sudah terlelap di atas ranjang, berselimut tebal persis seperti saat dia tinggalkan tadi.
"Mama benaran tidur ternyata," ujarnya dengan suara sepelan mungkin.
Imel sengaja tidak langsung membangunkan sang ibu, perempuan itu meletakkan nampan yang di bawa di atas nakas. Kedua mata indah itu menatap sang ibu yang tertidur nyenyak, wajah dengan banyak kerutan dan noda hitam itu membuat hati Imel serasa di remas.
"Maafin Imel, Mah, Imel terlambat tahu tentang Mama." Bulir bening menetes dari sudut mata wanita cantik itu.
Ingatannya kembali ke tempat yang di gunakan oleh sang ayah untuk menyekap mereka, dia yang hanya berada di tempat itu sebentar saja rasanya tersiksa. Apa lagi terpisah dari sang anak, ibunya merasakan itu hingga 8 tahun lamanya.
"Mah, jika saja Imel mampu melawan Papa. Mama pasti tidak akan merasakan kejadian ini sampai bertahun-tahun," ujar Imel penuh penyesalan.
Entah apa saja kejahatan yang di lakukan oleh sang ayah kepada ibunya itu, Imel tidak tahu, akan tetapi dia yakin masih banyak kekejaman yang di alami oleh sang ibu akibat kejahatan pria yang sangat di cintainya.
Tetes air mata jatuh ke tangan keriput wanita tua yang kini terlihat lebih bersih itu, kedua mata tua itu mengerjap lalu perlahan terbuka. Ketika mata itu terbuka sempurna, di lihatnya sang anak sedang menangis. Sang ibu langsung bangkit dari posisi berbaringnya.
Imel terkejut saat melihat sang ibu sudah bangun. Perempuan itu mengusap kasar air mata yang masih mengalir di pipinya. Bibir tipis itu memaksa mengulas senyuman.
"Mama sudah bangun,"
__ADS_1
"Kamu menangis, Sayang?"
Bersambung...