
Ketika mendengar adiknya berucap kata itu, Reiner menarik tubuh Ara dalam dekapannya. Reiner memejamkan matanya saat merasakan sakit yang amat sangat di hatinya. Kali ini ia gagal dalam menjaga keluarganya. Beberapa kali Reiner melepaskan kecupan di kepala sang adik dengan air mata mengalir dari mata indahnya.
Mafia arogan yang biasa terlihat sangar kali ini menghilang dari diri Reiner. Laki-laki itu terlihat tak berdaya ketika harus menerima sang adik kembali mengalami kejadia nahas. Dia takut jika sang adik kembali harus kehilangan orang tuanya. Meskipun dia, Papi Adit, Mami Jane, Imel, dan Rachel akan selalu ada untuk Ara. Tetapi dia sangat khawatir jika Ara tidak bisa menerima kenyataan.
"Kalau aku yang di posisi Daddy, aku juga pasti melakukan hal yang sama, Ace. Kamu berharga untuk kami," ucap Reiner dengan lembut. Tangannya masih kanannya masih saja mengelus punggung sang adik yang bergetar karena isak tangisnya.
Ara menggeleng pelan. "Enggak, Rei, jangan pernah lakukan hal yang di lakukan oleh Daddy. Kau jadi manusia jangan bodoh! mengorbankan nyawa untuk orang lain." Ara bangun dari posisinya.
Wanita itu duduk dengan tegap, jemarinya menghapus air mata yang sejak tadi masih saja mengalir di pipinya. Ara berusaha tegar agar Reiner tidak semakin menghawatirkan dirinya.
"Jika kau ada di posisi kami, keluarga yang kamu sayangi dalam bahaya. Apakah kamu tidak akan melakukan hal itu juga, Ace?"
Ara menoleh menatap Reiner dengan mata sayunya. Ara terlalu lelah menangis, wanita itu kemudian beranjak tanpa berniat menjawab pertanyaan sang kakak. Namun Reiner dengan cepat meraih pergelangan tangan sang adik dan memaksanya untuk duduk kembali.
"Aku tahu kamu juga pasti melakukan hal yang sama, Ace. Dengan Asila saja kamu berusaha mati-matian menyelamatkan dia jika bukan aku yang menarikmu pergi, aku yakin kau juga mengorbankan nyawamu." Reiner kembali memeluk sang adik. Memaksa Ara untuk bersandar di bahunya.
Reiner selalu bisa memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Ara selalu merasa nyaman saat Reiner selalu bisa menjadi sandaran ternyaman ketika dirinya tertimpa masalah. Beberapa menit kemudian, Ara sama sekali tidak menjawab ucapan Reiner.
Laki-laki itu melirik sang adik yang ternyata sudah terlelap. Wanita itu memejamkan matanya walau dengan nafas tidak beraturan. Mungkin karena kelelahan dan banyak fikiran yang mengganggunya, Ara ketiduran di bahu nyaman sang kakak.
Reiner tersenyum kecut, bagaimana bisa dirinya membiarkan wanita kesayangannya sejak kecil mengalami kondisi ini lagi? jika Daddy Haris tidak bisa di selamatkan, ia pasti tidak akan melepaskan tersangka kejahatan terhadap orang yang sudah ia anggap orang tua sendiri.
__ADS_1
"Awas saja kau, Al. Aku pasti membuat perhitungan denganmu!" Reiner mengepalkan tangan kirinya dan meninju udara di depannya.
Beberapa jam kemudian setelah Daddy Haris di tangani, dokter keluar dari ruangan. Reiner dan Ara yang kebetulan sudah bangun, melihat dokter keluar mereka segera mendekat. Dengan kecemasan yang masih menguasai dirinya, Ara mempertanyakan keadaan sang ayah.
"Bagaimana keadaan ayah saya, Dokter?" tanya Ara khawatir.
"Anda dari Indonesia, Nona?"
Ara hanya menganggukkan kepalanya. "Iya, Dok, kami dari Indonesia. Bagaimana keadaan ayah kami?"
"Ah, ya, pasien sudah kami tangani, mungkin sebentar lagi akan sadar. Beruntung luka tidak terlalu dalam, dan kalian segera membawanya kesini," Dokter menjelaskan keadaan pasien yang sudah tidak dalam kondisi buruk.
"Dok, apakah saya sudah boleh menjenguk ayah saya?" tanya Ara sesudah melerai pelukannya kepada sang kakak.
"Setelah pasien di pindahkan di ruang inap, boleh saja. Tapi usahakan jangan mengganggu istirahatnya,"
"Baik, Dok,"
"Saya permisi dulu." Dokter pergi meninggalkan Ara dan Reiner.
Beberapa perawat mendorong brankar Daddy Haris ke ruangan rawat inap. Ruangan mewah dengan fasilitas terbaik. Reiner selalu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Keduanya mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Terima kasih, Sus,"
"Kami permisi, Tuan, Nona." Setelah selesai memindahkan Daddy Haris ke ruangan yang sudah di pesan Reiner, perawat itu keluar dari ruangan.
Ara duduk di kursi samping brankar sang ayah di baringkan. Wanita itu menggenggam jemari ayahnya begitu erat lalu membawanya ke bibir untuk di kecup.
"Dad, sembuh, yah. Jangan tinggalin Ara seperti Ibu ninggalin Ara."
Reiner selalu setia berada di sisi sang adik. Tangannya masih setia berada di bahu sang adik untuk menegaskan bahwa ia akan selalu ada untuknya.
Tangan kiri Daddy Haris bergerak dengan pelan, lalu matanya perlahan terbuka. Ketika melihat anak satu-satunya, Daddy Haris tersenyum lembut menatap Ara.
"Daddy, sudah sadar, Rei."
Beberapa detik kemudian, Daddy Haris melepaskan genggaman tangan Ara di tangannya. Pria paruh baya itu kembali menutup matanya.
Bersambung...
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_
__ADS_1