Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Darah kehormatan


__ADS_3

"Iya, mandi bersama. Biar lebih cepat, sebentar lagi masuk waktu subuh, Moon," ujar Ali menjelaskan.


Ara salah tingkah karena menyangka suaminya ingin melakukan kegiatan tadi di kamar mandi, padahal, yang terjadi justru Ali ingin mempersingkat kegiatan mandi mereka agar tidak tertinggal waktu subuh.


Melihat sang istri masih saja terdiam di dalam selimutnya, Ali bangun dan memakai baju milknya, lalu menggotong Ara ala brydal style, yang masih terbungkus selimut tebal.


Ara terkejut dengan yang di lakukan oleh suaminya, tanpa memberi aba-aba, Ali main seenaknya menggotongnya. Gadis itu sampai membulatkan matanya, dan hal itu, justru membuat Ali merasa bahagia. Pria yang kini sudah resmi menjadi pria jantan di hadapan sang istri, mengecup pipi Ara dengan sayang.


"Kamu, akan lebih sering mendapatkan kejutan dariku, Moon," bisik Ali di telinga istrinya. Mendengar hal itu, Ara menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


Ali menurunkan Ara ketika sudah sampai di kamar mandi, mereka segera membersihkan diri mereka dari hadats besar yang baru saja mereka dapatkan. Setelah mandi, mereka segera berwudhu. Ali keluar lebih dulu dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih yang melilit di pinggangnya.


Pria yang baru saja mengambil haknya sebagi suami itu, mengambil baju dan juga memakainya. Lalu berniat mengambil baju untuk sang istri, namun, ketika Ali mau membuka lemari, Ara muncul dan segera mencegah kegiatan suaminya.


"Sun, kamu mau apa?" tanya Ara ketika sudah sampai di samping Ali.


"Mau ambil baju, untuk kamu, Moon. Biar kamu bisa langsung memakainya di kamar mandi," jawab Ali datar.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," Ara segera menutupi pintu lemari yang sedikit terbuka dengan badannya.


"Oh, yasudah." Ali berjalan menjauh dan segera menggelar sajadah miliknya tanpa sedikitpun merasa curiga dengan keanehan istrinya.


Ara mengambil setelan baju miliknya, lalu melarikan diri ke kamar mandi. Gadis itu masih terlalu malu jika harus menampakkan tubuh polosnya di hadapan Ali.


Ali menunggu Ara yang sedang ada di kamar mandi, dengan berdzikir. Saat Ara membuka pintu dan keluar dari kamar mandi, Ali menatap sang istri yang terlihat menunduk. Pria itu segera beranjak dan berjalan mendekati istrinya.


"Kenapa, Moon?" Ali bertanya dengan kening berkerut, bingung dengan sang istri yang tiba-tiba terlihat sedih.


Ara mendongak dan menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu bingung untuk mengatakan hal yang sedang terjadi padanya, apakah suaminya akan kecewa lagi dengan dirinya.

__ADS_1


"Moon !" Ali sedikit meninggikan suaranya, karena kesal dengan tingkah Ara. Sudah masuk waktu subuh dan Ara justru mengulur waktu untuk menjalankan ibadah.


"A-aku, ... Datang bulan,Sun." Ara kembali menundukkan pandangan.


"Kamu serius, atau hanya bercanda lagi?" tanya Ali dengan mengintimidasi istrinya. Bercandaan yang di lontarkan sang istri sama sekali tidak lucu.


"Ak-u, serius." Ara mendongak, mencoba menyampaikan lewat sorot matanya.


Melihat mata Ara yang berkaca-kaca, Ali yakin, kali ini istrinya memang tidak berbohong. Ada sedikit rasa kecewa yang di rasakan oleh Ali. Kenapa harus datang bulan, sedangkan dia mengharapkan Ara akan segera mengandung benih cinta darinya. Namun, melihat sang istri dengan keadaan itu, Ali berusaha menenangkan dirinya juga perasaan Ara.


"Tidak apa-apa, Moon, kita masih bisa berusaha lagi kan? Sudah, kamu tidur saja. Aku mau solat subuh dulu," ujar Ali berusaha tersenyum, mungkin memang belum rejeki untuk mereka, pikir Ali.


Ara mengangguk, namun, bukan menuju ranjang. Gadis itu, kembali membuka lemari. Membuat Ali semakin heran, dia menyuruh untuk tidur. Kenapa Ara malah membuka lemari lagi.


"Kamu mau Apa, Moon?" Ali bertanya kembali pada istriny, Ara menoleh dan menunjukkan sebuah benda yang membuat Ali tersenyum canggung. Pria itu menganggukkan kepalanya dan segera melalukan ibadahnya, yang jika tidak segera di laksanakan, akan tertinggal.


Ara kembali masuk ke dalam kamar mandi, lalu memakai pemb*lut. Setelah memakainya, Ara kembali ke ranjang empuk yang masih berantakan akibat ulah suami tercinta.


Ali memeluk Ara dari belakang, setelah dia juga membereskan peralatan sholatnya. Menghirup dalam-dalam aroma menyegarkan dari rambut sang istri. Jika tidak teringat Ara sedang datang bulan, Ali yakin, mereka akan berperang lagi melanjutkan kegiatan mengasikkan itu.


"Sun, aku sedang datang bulan. Jangan dekat-dekat." Ara berusaha memberontak melepaskan dirinya dari pelukan suami.


"Moon, berpelukan kan tidak dosa. Aku bisa mengendalikan diriku kok, kamu tenang saja." Ali mengeratkan pelukannya pada istrinya.


"Iya, iya, tapi, aku mau membereskan ini dulu. Kalau tidak segera di cuci, darahnya tidak akan hilang." Ara memberontak hingga pelukan suaminya terlepas.


Ali menggenggam tangan Ara yang akan mengambil seprai yang tadi ia letakkan di lantai samping ranjang. "Biar aku saja, Moon." Ali mengambil seprei putih yang sudah terdapat bercak darah kehormatan istrinya.


"Sun, harusnya aku yang melakukan itu. Biasanya maid di mantion yang mengganti dan mencucinya, tapi, aku malu jika mereka melihat darah itu," Ara merasa tidak enak jika Ali yang melakukan pekerjaan seperti itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Moon, lagian ini kan buah dari ulahku." Ali mencubit hidung mungil Ara.


"Benar, tidak apa-apa?" tanya Ara memastikan.


"Iya, Moon. Tapi, ruang cucinya dimana?" Ali bertanya letak ruang loundry di mantion Aditia.


"Di lantai satu, dekat dengan garasi motor Rei," jelas Ara memberi tahu ruangan yang di khususkan untuk mencuci.


"Ya sudah, aku keluar dulu ya? Kamu tidur saja, pasti lelah kan?"


Ara mengangguk dan segera naik ke ranjang empuk di kamarnya. Ali menyelimuti Ara dengan selimut baru. Lalu melangkah keluar dari kamar.


Ali menuruni tangga hingga sampai di tempat yang tadi di jelaskan oleh Ara, Ali masuk ke dalam ruangan itu, namun, disana ada beberapa maid yang sedang mengerjakan tugas mereka.


"Tuan muda, kenapa kesini, Ada yang bisa kita bantu?" ucap seorang maid yang melihat kedatangan Tuan Muda baru di mantion Aditia.


"Aku, mau mencuci," jawab Ali singkat.


"Biar kami saja, Tuan." Maid tersebut mendekat dan berusaha mengambil seprei yang di pegang Ali.


"Tidak perlu, biar aku sendiri yang mencucinya," Ali menghentikan langkah maid yang berusaha mendekat ke arahnya.


"Tapi, ini pekerjaan kita, Tuan," terang maid tersebut, takut jika ketahuan oleh Nyonya dan Tuan besar kalau Tuan Mudanya melakukan pekerjaan yang seharusnya di lakukan mereka.


"Ada apa sih, kenapa ramai sekali?" Suara seorang pria mengagetkan Ali dan maid yang sedang berebut seprai.


BERSAMBUNG...


Maaf ya kemarin aku gak update, anak sedang rewel sekali. Dan kebetulan tidak enak badan juga.

__ADS_1


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_


__ADS_2