Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Rayuan Ferry


__ADS_3

Hilang sudah kesabaran Reiner saat menghadapi kelakuan tangan kanannya yang saat ini berbeda dari biasanya. Ferry terlihat sangat ingin memperjuangkan keinginannya untuk memberi pelajaran pada Clarissa.


"Pelajaran apa yang mau kau berikan pada wanita murahan itu?" tanya Reiner jengah.


"Mau ku jadikan kelinci percobaan karyaku, Tuan." Di seberang sana Ferry tersenyum licik.


Reiner mengernyit heran. "Karya yang mana maksudmu?"


Bukannya menjawab, Reiner justru mendengar Ferry sedang berusaha menahan tawanya. Pemimpin Deadly Scorpion itu semakin penasaran dengan kelakuan tangan kanannya yang sudah bersamanya selama puluhan tahun itu.


"Kau mentertawakan aku, Fer? berani sekali mulut bau jigongmu itu menghinaku!" Reiner semakin kesal karena mengira Ferry menghinanya.


"Mana berani aku menghinamu, Tuan. Aku kan sedang membuat sebuah cairan per*ngsang, pesanan temanku ...."


"Lalu kau mau uji coba pada Clarissa?" potong Reiner sebelum Ferry menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Ah, Tuanku memang paling mengerti. Boleh kan?" tanya Ferry antusias.


"Siapa yang akan jadi pemainnya? kamu? mau ku potong burung pipitmu itu kalau berani menduakan Lila?"


"Tentu saja tidak. Kau horor sekali, Tuan. Kalau burung pipitku kau potong, yang ada Lila akan membencimu," ucap Ferry membela diri.


"Kita berikan saja pada preman yang kemarin pernah berniat mencelakai Nona Ace. Anggap saja hadiah karena sudah mau berubah jadi orang baik," lanjut Ferry menjelaskan.


Reiner yang mendengarkan penjelasan Ferry justru merasa semakin jengah. Sejak kapan tangan kanannya itu menjadi bodoh? mana ada orang baik yang mau di berikan hadiah berupa satu wanita di nikm*ti beberapa pria.


Dari seberang sana, Ferry hanya tertawa. Tuan Mudanya itu sudah biasa berbicara seperti orang yang menghinanya. Tetapi Ferry tidak pernah sekalipun marah saat Reiner mengucapkan kata bermuatan penghinaan.


"Boleh yah, Tuan," bujuk Ferry.


Ayah dari seorang gadis bernama Rachel itu hanya mendengus kesal. Ferry jarang sekali meminta sesuatu, tetapi saat sudah memiliki kemauan pasti tidak akan bisa ia cegah.

__ADS_1


"Terserah kau saja, bawa Clarissa pulang ke Indonesia. Biar kita urus saat sudah ada di negara kita," titah Reiner tak terbantahkan.


Mendengar titah sang pemimpin yang menyetujui usul darinya, Ferry menyunggingkan senyum kemenangan. Laki-laki yang sudah puluhan tahun bersama Reiner itu memang orang baik, tapi dia tidak segan-segan memberikan hukuman untuk orang yang sudah mencari masalah dengan dia, apa lagi pemimpinnya.


"Siap, Tuan. Tapi bagaimana dengan keadaan Tuan Haris sekarang?" tanya Ferry khawatir.


"Daddy sudah sadar, tapi sekarang beliau tahu tentang kelompok kita. Kau jangan bilang pada Ara jika Daddy sudah tahu, ini kemauan Daddy sendiri," ancam Reiner kepada tangan kanannya itu.


Setelah menebar ancaman untuk Ferry, Reiner memutuskan sambungan telfon sepihak tanpa berpamitan lebih dulu. Dia sudah terlalu lama meninggalkan Adik dan ayah angkatnya. Reiner berjalan menuju ruangan dimana Tuan Haris di rawat.


Saat membuka pintu kebetulan Ara juga berniat keluar dari ruangan itu. Mereka berpapasan, keduanya menghentikan langkah. Ara menatap Reiner dengan pandangan curiga, tidak biasanya Reiner menghindarinya saat menerima telfon.


"Siapa yang telfon, Rei?" tanya Ara curiga.


"Ferry," jawab Reiner singkat. Laki-laki itu bergegas untuk mendekati Daddy Haris. Tetapi langkahnya terhenti karena pertanyaan sang adik.

__ADS_1


"Clarissa mana?"


__ADS_2