Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Tekad Ara


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan kerja sang ayah, Ara tidak kembali menemui sang ibu di tempat bermain tadi. Perempuan itu langsung menuju kamar miliknya di mansion besar tersebut. Raut wajah Ara tidak seceria ketika datang ke tempat itu, perempuan yang kini lebih sering menggunakan dres sepanjang lutut itu terlihat murung ketika masuk ke kamar. Hal itu tidak lepas dari perhatian sang suami.


Ali masih memperhatikan sang istri yang terlihat mondar-mandir tidak jelas apa yang akan di lakukan. Perempuan itu seperti tidak sadar bahwa sang suami juga berada di kamar tersebut.


Sesekali Ara menaruh ibu jari dan jari telunjuknya di dagu. Bola matanya berputar-putar seperti sedang memikirkan sesuatu. Ali semakin heran dengan apa yang di lakukan oleh istrinya itu.


"Moon, kamu sedang apa? Kenapa malah mondar-mandir disana?"


Suara barington besar pria itu mengusik konsentrasi si perempuan. Ara langsung mengerjap lalu menoleh ke arah sumber suara. Di sana, sang suami tengah duduk di tengah ranjang dengan memangku sebuah laptop.


"Em, tidak apa-apa, aku hanya ingin ... ke kamar mandi," ujarnya memberi alasan.

__ADS_1


Perempuan cantik itu langsung melarikan dirinya ke kamar mandi. Bersembunyi di tempat itu seraya memikirkan cara yang tepat untuk membalas dendam kepada pria tua yang sialnya adalah mertua sang kakak.


Sementara Ali hanya menggelengkan kepala karena tidak paham dengan apa yang di lakukan oleh istrinya. Perempuan itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Namun, entah apa yang di sembunyikan oleh perempuan hamil janin kembar tersebut.


"Kamu masih saja misterius seperti dulu, Moon." Ali bergumam dengan tatapan tidak lepas dari pintu kamar mandi yang tertutup.


Calon ayah dari dua janin sekaligus itu kembali melanjutkan kegiatannya semula, yaitu menonton beberapa cara-cara beladiri agar tidak terlalu polos ketika sang kakak ipar mengajarinya berkelahi nanti.


Ali dan Reiner memang kakak adik ipar yang berbeda dengan ipar-ipar di luar sana. Jika kebanyakan ipar akan kompak dalam melakukan sesuatu, tidak dengan kedua pria tersebut. Mereka lebih mirip musuh ketika berjumpa. Namun, sebenarnya mereka memiliki rasa sayang satu sama lain sebagai saudara ipar.


Di dalam kamar mandi, Ara beberapa kali membasuh wajahnya untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang hinggap di jiwanya tentang pembalasan dendam atas kematian ibu kandungnya.

__ADS_1


Jika mengikuti amarahnya, Ara sangat ingin membun*h pria tua itu dengan tangannya sekarang juga, akan tetapi dia kembali ingat dengan pesan sang ayah angkat yang mewanti-wanti dirinya untuk tidak melakukan apapun yang akan membahayakan dirinya sendiri.


"Aku harus apa, Tuhan!" seru Ara yang benar-benar dalam amarah yang memuncak.


Beruntung kamar mandi itu kedap suara, jadi mau sekeras apapun Ara berteriak, Ali tetap tidak mendengar teriakan sang istri. Jika pria itu sampai mendengar sang istri berteriak, sudah di pastikan pria tersebut akan ikut campur dengan urusannya.


"Aku tetap harus balas dendam! Tewasnya Mommy karena ulah pria itu! Artinya aku juga harus memberinya pelajaran." Tekad Ara sudah bulat sekarang.


Seringai jahat tercetak jelas dari sudut bibir perempuan itu. Demi membalas rasa sakit hatinya karena kehilangan sang ibu, Ara sudah memutuskan tetap akan memberikan sang pelaku ganjaran yang setimpal. Meskipun tidak dengan membun*h pria itu.


"Mom, maaf, tapi Ara tidak sesempurna itu untuk memaafkan segala kesalahan pelaku pembun*han Mommy. Dia yang merenggut Mommy dari Ara," gumamnya dengan tangan terkepal erat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2