
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa pria itu membahas nama instiku dengan perempuan yang berada di tempat itu? Kalian dengar tadi, dia bilang istriku adalah anaknya."
Reiner meminta penjelasan dari sebuah bukti berupa rekaman suara itu pada Boy dan Dean.
"Begini, Tuan."
Dean memulai menceritakan apa yang tadi terjadi di tempat itu.
Flashback kejadian di gudang pria bertopeng.
Kedua remaja yang kini tengah mendengarkan percakapan dari kedua orang yang berada di dalam ruangan itu, masih kebingungan menangkap maksud dari ucapan sang pria. Sementara perempuan yang berada di dalam sana hanya menjawab dengan nada ketakutan.
"Aku akan membun*h dia jika dia benar-benar mengungkap rahasiaku!" bentak pria itu kepada sang perempuan.
"Jangan, Co! Tolong jangan Bun*h putriku. Apa kau tidak puas sudah mengorbankan Amel untuk keegoisanmu itu? Kau bahkan dengan tega mengurungku setelah kemat*an Amel!"
"Aku tidak peduli, jika Imel berani membocorkan rahasiaku kepada suaminya, Aku pasti akan memb*nuhmu di hadapannya. Aku juga akan mengakhiri hidup putri kecilnya itu, dan terakhir aku akan mengantarkannya ke pintu neraka!"
Beberapa saat perbincangan yang isinya hanyalah intimidasi dari sang pria kepada perempuan itu, kini mereka yakin bahwa pria di dalam tengah melakukan kegiatan menjijikan kepada sang perempuan yang ada di dalam. Terbukti dari suara terakhir yang mereka dengar ini hanya berupa jeritan dari sang perempuan, sementara sang pria mend*s*h keenakan.
Kedua remaja yang sadar bahwa usia mereka belum sepantasnya menjadi saksi dari kebejatan pria itu, mereka memutuskan untuk melepaskan headset yang menempel di telinga mereka masing-masing.
Hampir setengah jam pria bertopeng itu melakukan kegiatannya, kini pintu terbuka lalu pria itu melenggang pergi dari tempat rahasia itu.
Sesudah memastikan keadaan sudah aman, Boy dan Dean keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka menatap ke arah pria itu pergi dengan tatapan jiji.
"Di tempat seperti ini, masih saja melakukan kegiatan seperti itu!" rutuk Boy dengan kesal.
"Sudahlah, Boy! Umurmu itu belum boleh membahas hal itu, jika kau sampai ketahuan Tuan Rei, aku yakin pasti batangmu sudah berpindah tempat." Dean melenggang pergi setelah menebar kecaman pada remaja yang usianya di bawahnya.
"Sial*n kau, Kak!"
Meskipun kesal, Boy menyusul Dean yang sekarang berada tepat di depan pintu ruangan yang tadi di masuki oleh pria bertopeng itu.
Dean mengedarkan pandangan untuk mencari sebuah benda kecil yang beruncing tajam.
__ADS_1
"Kau cari apa, Kak?" tanya Boy ketika melihat Dean seperti seorang yang sedang mencari sesuatu.
"Entahlah, yang penting bisa untuk membuka pintu ...."
"Nah, aku yakin ini bisa kita gunakan." Boy mengeluarkan sebuah peniti dari saku celananya.
"Kau membawa barang itu untuk apa?" tanya Dean seraya merebut benda kecil itu.
Pria remaja yang sudah mempunyai posisi penting di Deadly Scorpion itu berusaha membobol kunci pintu kamar dengan peniti yang dia ambil dari Boy.
"Untuk membobol motormu!" seru Boy bergurau.
Dean yang tengah sibuk dengan tangannya, seketika menatap Boy dengan tajam. "Kau berani merusak motor kesayanganku? Mau kubuang ke tempat penampungan barang bekas?"
Dean tidak bertanya, melainkan mengancam pria remaja itu. Sebenarnya Dean tahu bahwa Boy hanya bergurau, tetapi dia merasa kesal karena bukannya membantu dirinya, Boy justru sempat-sempatnya menebar candaan tidak bermutu.
Boy yang mendengar ancaman dari Dean hanya mengedikkan bahunya. Pria remaja itu tidak peduli dengan rasa kesal yang di rasakan oleh pria yang sudah dia anggap sebagai kakak itu.
"Cepatlah, Kak. Aku sudah tidak tahan berada di tempat ini,"
Pintu terbuka setelah perdebatan keduanya. Dean dan Boy masuk ke dalam ruangan itu. Di dalam sana, mereka melihat seorang wanita berambut panjang yang tengah duduk dengan menyembunyikan wajah di antara lututnya.
Dengan perlahan Dean menutupi tubuh wanita itu yang memang sangat tidak pantas untuk di lihat oleh siapapun.
Wanita itu terkejut saat ada yang menyelimuti tubuhnya. Dia bahkan meringsek mundur hingga ke tembok. Tatapannya menyiratkan ketakutan yang mendalam. Boy dan Dean sampai tidak tega melihat wanita itu.
Dean berjongkok, dengan perlahan mendekati wanita itu. Tangannya terulur dengan jari kelingking yang dia perlihatkan.
"Bu, tenanglah. Kami bukan orang jahat, apakah anda mengenal Nona Imel?" tanya Dean dengan nada selembut mungkin.
Ketika mendengar nama Imel di sebut oleh pria yang mendekatinya, wanita itu terdiam dan mengangguk.
"Saya boleh tahu, ada hubungan apa antara anda dan istri dari Tuan Muda kami?" tanya Dean sekali lagi.
Wanita itu menatap pintu dengan raut wajah ketakutan. Dean yang peka dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh wanita itu, memberikan perintah kepada Boy untuk menutup pintu dengan isyarat tangan.
__ADS_1
Boy segera menuruti perintah dari Dean. Remaja itu menutup pintu, bahkan memastika lebih dulu bahwa tempat itu dalam keadaan aman.
"Ada apa, Bu? Anda bisa mengatakannya pada kami. Saya bersedia menjamin keselamatan Ibu dari tempat ini," ujar Dean mencoba menyakinkan agar wanita itu mau menjelaskan sesuatu.
"I-imel, dimana?" tanya wanita itu.
"Nona ada di mansion, dia dan putrinya aman bersama suaminya."
"Kalian janji bahwa anakku aman di tempat itu? Tolong! Jangan biarkan ayahnya membunuh putri dan cucuku," pintanya dengan nada memelas.
Dean terkejut denga ucapan dari wanita itu. Jadi dugaannya benar bahwa wanita yang ada di depannya ini adalah orang tua kandung dari istri pemimpinnya.
"Saya janji, Nona dan Nona kecil dalam keadaan aman. Kami yang akan menjaga mereka dengan nyawa kami sendiri," ujar Dean begitu bisa menguasai dirinya dari rasa terkejutnya.
"Kalian janji!"
Wanita itu benar-benar terlihat ketakutan jika ada kejadian buruk yang akan menimpa Imel, seseorang yang dia akui sebagai anak.
Dean mengangguk, pria itu bahkan juga meminta Boy untuk berjanji di hadapan wanita itu agar wanita itu merasa nyaman untuk menceritakan masa lalunya.
"Kami janji, Bu, kami akan menjaga Keluarga anda dengan baik. Tetapi tolong, berikan kami sebuah petunjuk untuk mengungkap kejahatan pria yang tadi datang kesini."
Raut wajah wanita itu kembali ketakutan saat mendengar pria itu di sebutkan kembali. Dia kembali menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Punggungnya bergetar menandakan bahwa wanita itu kembali menangis.
"Bu, jika kami terlambat dalam mengetahui masalah ini, kami juga tidak yakin bahwa kami akan bisa menjamin keselamatan Nona."
Wanita itu kembali mendongak, cairan bening itu membasahi wajah yang terlihat keriput dan kusam. Bahkan banyak noda yang menempel di wajah wanita itu, kondisinya hampir seperti ODGJ yang berkeliaran di pinggir jalan.
"Tolong berikan kami petunjuk, siapa sebenarnya pria tadi? Apakah dia adalah ayah kandung Nona Imel?" tanya Boy masih dengan posisi berdiri di belakang Dean.
"Di---."
"Boy, kita harus segera pergi dari tempat ini! Ada orang yang menuju kesini," ucapan Dean menghentikan wanita itu yang hampir saja mengucapkan sesuatu.
"Ibu, kami akan kembali ke tempat ini. Tolong jangan sampai ada yang tahu bahwa suruhan menantu anda menyusup ke tempat ini," ujar Dean seraya beranjak dari posisinya.
__ADS_1
Dean menarik Boy yang masih tetap di posisinya, dia yakin bahwa perempuan itu akan membuka siapa dalang di balik semua kejahatan yang terjadi, dan siapa sebenarnya pria bertopeng itu.
Bersambung...