
"Sudahlah, Daddy, kenapa membahas itu terus? Danish sedang makan," lerai Ara, gadis itu tau, suaminya tidak nyaman membahas soal keturunan. Mencintai dirinya saja belum, apalagi harus melakukan hal semacam itu.
"Baiklah, Daddy tidak akan memaksa. Tapi jangan menundanya ya?" Daddy Haris memohon pada pengantin baru itu. Agar tidak menunda memiliki momongan, Daddy Haris sangat menginginkan segera menimang cucu.
"Moon, turuti saja kemauan, Daddy. Apa salahnya sih kita berusaha?" ujar Ali seraya menggenggam tangan Ara. Ucapan Ali membuat Ara melongo, dia tidak percaya dengan ucapan Ali barusan. Bagaimana mereka akan memiliki momongan jika tidur saja di kamar terpisah.
"Nah, Ali saja setuju. Kenapa kau banyak Alasan, Ara?" tanya Daddy Haris. "apa kau belum siap? Bukankah yang menginginkan pernikahan ini adalah kamu?" Daddy Haris curiga, kenapa putrinya seakan menutupi sesuatu.
"B-bukan seperti itu, Daddy, Ara hanya terkejut. Baru kemarin kami menikah, dan sekarang, Daddy menuntut Ara segera memiliki momongan," Elak Ara berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Sudahlah, Moon, menyenangkan hati orang tua itu, banyak pahalanya loh. Kamu tidak mau dapat pahala?" Ali memainkan tangannya di atas tangan Ara yang dia genggam.
"Eem, baiklah, tapi Ara tidak janji. Akan secepatnya memiliki momongan, Dad," Ara masih saja ragu untuk meyetujui permintaan sang ayah.
"Ya sudah, Daddy tidak memaksa. Tapi benar ya, jangan menunda," Pinta Daddy Haris memohon.
"Iya, Dad," jawab Ara singkat.
Ali menatap Ara yang justru menunjukan wajah masam, Seperti orang yang memiliki beban.
"Apa Ara tidak mau, memiliki anak denganku, ya?" batin Ali bertanya.
Setelah selesai dengan acara sarapan dan permintaan luar biasa Daddy Haris, mereka akhirnya berpindah ke ruang santai.
Ara membuatkan teh dan juga membawa beberapa camilan untuk dua pria tercintanya.
Daddy Haris dan juga Ali, sedang menonton siaran berita di Televisi. Ketika Ara datang dan meletakkan beberapa camilan, juga teh hangat.
__ADS_1
"Hadeh, kenapa beritanya pernikahan Ara terus sih, Dad,?" Ara kesal karena para awak media membahas tentang status Ali yang awalnya adalah karyawan di P.T Gunawan Sentosa.
"Sini, Moon, duduk. Kenapa malah berdiri?" Ali mengulurkan tangannya, Ara menyambut uluran tangan Ali dengan canggung. Kenapa Ali begitu mesra saat ada Daddy Haris, dan cuek saat mereka hanya berdua.
"Kalian, sudah mesra sekali ya, baguslah. Daddy senang melihatnya," Ucapan Daddy Haris justru membuat Ara semakin tidak nyaman. Andaikan Ali selalu bersikap seperti ini. Ara pasti menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
Dari arah depan, Bi Ani muncul bersama dengan dua pasangan paruh baya dan seorang gadis remaja.
"Permisi, Non, ada tamu. Katanya keluarga Tuan Ali," Bi Ani berucap saat Ara masih melamun.
Ara menoleh, melihat kedua mertua juga adik iparnya berjalan ke arahnya. Ara segera beranjak dan mendekati ketiga keluarga barunya.
"Ali, Ara, Tuan Haris," Ayah Hendra menyapa ketiga orang yang terlihat sedang berada di zona rasa canggung.
"Ayah, Ibu, Syifa. Maaf, Ara tidak tahu kalian akan datang. Jadi Ara tidak menyambut kalian di luar," Ara mencium tangan kedua mertuanya dan memeluk adik iparnya.
"Non, bibi buatkan minum dulu ya?" tawar Bi Ani,
"Tidak perlu Bi, Bibik ke pasar saja. Katanya persediaan hampir habis kan?" Cegah Ara pada asistennya. Ara tidak mau membuat Bi Ani bertambah pekerjaannya. "biar Ara yang membuatkan Teh untuk orang tua Ara," lanjutnya dengan lembut.
"Baik, Non, saya permisi dulu," pamit Bu Ani pada majikannya. Setelah mendapat anggukan kepala dari Ara, Bi Ani segera beranjak, untuk berangkat berbelanja bahan-bahan pokok.
"Tidak apa-apa, Ara. Kami yang datang tanpa kabar, Jangan merasa terganggu ya," ucap Ibu Salma seraya mengelus bahu Ara.
"Tidak, Bu, kami sama sekali tidak tergangggu. Ara justru senang kalian datang, Ayo duduk. Bu, Ayah, Syifa," Ara menggandeng tangan Syifa berjalan beriringan. Mereka duduk di sofa dengan perasaan bahagia, Apalagi Tuan Haris, Beliau sangat bangga karena bisa mempunyai besan sebaik Ayah Hendra.
"Hendra, akhirnya kita besanan ya. Aku bangga sekali bisa memiliki besan bijaksana sepertimu," Puji Daddy Haris dengan jujur, walaupun awalnya beliau kecewa, karena Ara mencintai pria yang tidak sederajat. Tapi saat di pikirkan, keluarga Mahendra adalah keluarga yang baik. Mereka terlihat saling menyayangi.
__ADS_1
"Bu, Ayah, Syifa, Ara buatkan minum dulu ya?" tawar Ara, gadis itu berdiri dari duduknya. Berniat untuk ke dapur guna membuatkan teh untuk mertua, juga iparnya.
"Kak Ara, Syifa ikut," Gadis remaja itu berteriak dan segera mengejar langkah kakak iparnya.
"Ali, kenapa di rumah memakai pakaian seperti itu?" tanya Ayah Hendra.
"Ali, mau bekerja, Ndra. Pengantin baru, tapi malah mau kebut kerja. Bukannya kerja di kamar saja," Seloroh Daddy Haris dan membuat Ayah Hendra dan Ibu Salma tersenyum canggung.
"Betul Ali, kenapa malah semangat sekali untuk ke kantor?" Ibu Salma mengucapkan pertanyaan yang mengganjal hatinya.
Karena mendengar pertanyaan sang ibu, rasanya tenggorokan Ali menjadi kering. Ali mengambil teh hangat di depannya dan meminumnya.
"Seharusny, kau nikmati dulu hari demi hari awal pernikahan kalian, Ali. Ayah berharap kalian segera memberikan kami Cucu," Ayah hendra melontarkan pertanyaan yang membuat Ali terkejut, hingga menyemprotkan teh yand dia minum, untung saja meja yang di gunakan lebih luas,
Sedangkan di dapur, Ara yang tengah sibuk meletakkan teh, juga gula. Gadis itu bersiap untuk menuang air hangat dari tremos air. Tapi kegiatannya terhenti ketika sang Adik ipar melontarkan pertanyaan mengejutkan.
"Kak Ara, Sudah gol belum?" tanya Syifana setengah berbisik seraya menyenggol lengan Ara, Gadis remaja itu penasaran dengan kerjaan baru sang kakak.
"Gol? Gol apa? Syifa, kakak tidak paham arah bicara kamu?" Ara mengerutkan dahinya. Dia benar-benar bingung dengan ucapan gadis remaja di sampingnya. Setahu Ara, Gol itu jika dalam olahraga sepak bola. Sedangkan Ara tidak pernah ikut olahraga jenis itu.
"Itu, loh, kak, Abang Ali. Apa sudah membuat Ali junior di sini?" tanya Syifa dengan berbisik dan menyentuh perut Ara.
Ara membulatkan mata dan mulutnya, tidak menyangka, Gadis remaja seperti Syifana bisa bertanya pertanyaan konyol seperti itu. Tahu dari mana dia tentang hal seperti itu.
BERSAMBUNG...
Maaf ya gays, aku benar-benar sedang tidak baik-baik saja, jadi baru bisa Update sekarang. Butuh dukungan dari kalian agar aku tidak merasa down. Terima kasih yang sudah menghargai karyaku dengan like, komen, rate , fav dan juga kirim bunga dan votenya. Kalian luar biasa,
__ADS_1
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_