Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Akan belajar Bela diri


__ADS_3

Setelah pertempuran yang hampir memakan waktu 2 jam, perempuan itu tumbang di ranjang king size yang sudah dalam keadaan berantakan. Ketika pagi tiba, Reiner baru saja keluar dari kamar mandi sudah menggunakan seragam untuknya pergi ke kantor.


Perempuan yang menyamar sebagai istri dari pria itu baru saja membuka mata. Dia tersenyum ketika melihat Reiner yang berada di dalam kamar bersamanya. Mungkin semalam yang dia kira adalah orang lain hanyalah ilusi. Nyatanya pria itu tetap berada di sana bersamanya.


"Kamu sudah bangun? Istirahatlah, biar Rachel di antar Mami ke sekolahnya. Kamu sepertinya kelelahan," ucap Reiner sekilas menatap perempuan yang tengah tersenyum itu.


"Kamu tidak ikut istirahat, Rei? Bukankah kamu juga kelelahan?" tanya perempuan itu berusaha menahan pria itu agar tidak pergi.


"Aku lelah, Mel, tapi kerjaanku tidak bisa di tinggal. Semalam aku tidak jadi lembur karena kamu," ujarnya seraya memasangkan dasi.


Perempuan itu langsung merasa terbang ketika mendengar ucapan Reiner barusan. Jadi yang semalam memang benar-benar Reiner yang menikmati malam bersamanya. Dia hanya berhalusinasi saat melihat orang lain.


"Maaf, yah! Aku tidak bisa memasak karena badanku terasa remuk sekali." Perempuan itu pura-pura membenarkan selimut yang melorot, hampir menampakkan gundukan yang masih polos tanpa sehelai benangpun itu.


"Tidak apa-apa, aku bisa sarapan di kantor. Kamu istirahat saja, anggap kamu berada di rumah sendiri." Setelah mengucapkan kata itu, Reiner melangkah keluar dari kamar.


"Apa maksudnya menyuruhku menganggap bahwa rumah ini milikku sendiri? Bukankah harta yang di miliki keluarga ini itu berarti juga milik Imel, eh, milikku! Karena Imel sebentar lagi pasti akan m*ti." Seringai licik muncul di bibir perempuan itu.


.


.


.


.


.


"Bagaimana, Fer?" tanya Reiner ketika sang tangan kanan menghubunginya.


"Nona Imel sudah mengakui bahwa Papa kandungnya adalah Tuan Rico!" jawab Ferry sesuai dengan informasi yang di dapatkan.


"Maksudmu Rico Maladeva?" tanyanya memastikan.


"Iya, Tuan. Ayah dari Tuan Alvino Maladeva, mereka satu ayah tetapi beda ibu," jelas Ferry.

__ADS_1


"Baiklah, kau jaga saja istriku! Semua masih dalam kendali, 'kan?"


"Tenang, Tuan. Semua sudah dalam kendali, semua bukti juga sudah mengarah pada pria itu, dan lagi pengakuan dari Nona menjadi penguat dari bukti-bukti tersebut."


Sambungan telfon terputus ketika mereka sudah selesai membicarakan masalah itu. Reiner segera masuk ke ruangan kantornya. Sudah cukup lama pria itu tidak menyambangi kantor yang dia rintis dengan kerja keras sendiri itu.


"Ah, kerjaanku banyak sekali." Reiner memeriksa beberapa berkas penting.


Membaca semua berkas yang tertumpuk di meja kerjanya lalu menandatangani satu-persatu. Pria itu sangat fokus walau sebenarnya masih banyak sekali masalah yang harus dia urus.


Ketika pria itu menemukan sebuah berkas yang berisi kerja sama antara perusahaannya dengan seorang model bernama Clarissa Indira Jaya, pria itu langsung teringat dengan nasib perempuan yang berani mencari masalah dengan keluarganya tersebut.


"Kira-kira Aldev sudah menjadikanmu daging cinc*Ng belum, Cla. Seharusnya tanganku sendiri yang memberimu pelajaran, tetapi Araku selalu menghalangiku ketika ingin melakukan hal itu."


Merasa berkas itu sudah tidak berguna lagi, Reiner langsung memasukkannya ke keranjang sampah bersih di samping meja kerjanya.


.


.


.


.


.


"Rasakan saja pembalasan dariku, Danish!" serunya dengan senyum kemenangan.


Pintu kamar terbuka, seorang pria menggunakan clemek masuk dengan rambut yang berantakan. Wajah yang biasanya tampan, kini terlihat sangat kelelahan.


"Ini, Moon, sudah jadi. Silahkan di cicipi," ujarnya seraya menyodorkan nampan berisi mangkok.


"Ini seblak, Sun? Kenapa penampilannya sangat tidak menggugah selera? Ah, aku jadi ingin makan seblak di tempat favoritku saja. Naik motor Harley di bonceng Dean, ah itu pasti menyenangkan," ucapnya dengan wajah bahagia.


Ali langsung mendelik tajam. Istrinya itu begitu berani membahas pria lain, apa lagi pria itu masih remaja. Meski begitu tetep saj membuatnya kebakaran jenggot, walaupun sebenarnya Ali tidak memiliki jenggot. UPS!

__ADS_1


"Kau mau pergi dengan berondong itu, Moon! Berani sekali berselingkuh dengan daun muda sepertinya."


"Kenapa tidak, dia memiliki bakat untuk menuruni jabatan Reiner sebagai ketua mafia. Aku sangat ingin nanti memiliki kelompok sendiri bersamanya. Ah, itu pasti sangat mengasikkan. Menantang adrenalin," ujarnya menanas-manasi.


Ali semakin kelimpungan saat mendengar sang istri semakin memuji pria lain yang usia dan kemampuannya lebih mengagumkan darinya.


"Apa hebatnya dia, aku juga bisa. Kau lihat saja, dalam waktu satu bulan aku akan bisa menggantikan Reiner menjadi pemimpin Deadly Scorpion." Ali yang merasa geram, melangkah keluar meninggalkan sang istri.


Selepas kepergian Ali, Ara tertawa lepas. Rencananya berhasil, dia memang sedang ingin melihat sang suami belajar beladiri. Sebagai suami dari Nona Ace, masa iya Ali tidak bisa membela dirinya saat ada orang yang berniat jahat.


Setelah puas tertawa, Ara memakan seblak yang di buat oleh suaminya itu. Perempuan itu hanya bercanda ketika mencela makanan yang di buat oleh Ali, dia juga tahu bahwa sang suami memiliki keahlian dalam bidang memasak.


"Terima kasih, Sun, seblakmu tidak ada duanya. Tapi sebagai suamiku, pintar masak saja tidak cukup. Kamu harus bisa juga melindungi diri kamu dari bahaya, aku takut jika suatu saat akan ada yang menjahati kamu karena kamu suamiku."


Ali yang sangat merasa kesal dengan ejekan sang istri terhadap dirinya dan justru memuji pria lain, langsung menghubungi kakak iparnya. Beberapa kali mencoba menghubungi meski tidak di angkat, pria itu tidak menyerah. Akhirnya setelah percobaan ke lima, telfon tersambung.


"Hallo, ada apa? Kau selalu saja menggangguku!"


Belum apa-apa, Ali sudah mendapat semprotan dari Reiner. Kakak iparnya itu selalu bersikap seperti itu, akan tetapi kalau tidak meminta bantuannya, dia harus meminta siapa lagi untuk mengajarinya menjadi pria kuat.


"Kak, bisa ajarkan aku menjadi sepertimu?" tanya Ali ambigu.


"Maksudmu sepertiku bagaimana?" tanya Reiner yang tidak bisa menangkap maksud dari adik iparnya itu.


"Jadikan aku Mafia, Kak!" seru Ali dengan keras.


Pria yang sedang kesal itu semakin kesal karena mengira sang kakak ipar mempermainkannya, padahal Reiner yang tengah sibuk dengan tumpukan berkas tanpa bantuan sang tangan kanan memang sedang tidak bisa mencerna ucapan darinya yang tidak jelas itu.


"Kau mau jadi mafia? Memangnya kau sudah di pecat oleh mertuamu? Apakah Daddy sudah sadar bahwa kau tidak berguna di perusahaannya?"


Reiner justru membuat Ali semakin jengkel, pria itu justru ikut menghina dirinya yang butuh bantuan. Karena kesal dengan banyaknya pertanyaan yang di berikan oleh Reiner, Ali langsung memutuskan sambungan telfon secara sepihak.


"Kurang ajar!" rutuknya kesal. Pria itu bahkan hampir membanting ponsel miliknya.


"Siapa yang kurang ajar? Aku?"

__ADS_1


Suara dari belakang seketika membuat bulu kudu Ali merinding. Pria itu membalikkan tubuhnya, sudah di pastikan perempuan yang menatap tajam ke arahnya itu tengah emosi.


Bersambung...


__ADS_2