Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Mereka ingin Cucu


__ADS_3

Ali mendekat pada sang istri, lalu menarik Ara dalam dekapannya.


"Kamu kenapa?" Ali bertanya dengan lembut seraya menatap Ara dengan pandangan menuntut.


"Tidak apa-apa, Sun. Hanya ada masalah kecil di kantor, biar Dina yang mengurus." Ara memalingkan pandangan dari tatapan menuntut sang suami.


"Baiklah, bisa kita pulang sekarang?" Ali memastikan bahwa mereka benar akan pulang dari mantion papi Adit dan mami Jane.


"Ara, Mami mohon. Mami mohon, menginaplah disini. Malam ini saja,"


Pasutri baru yang sedang berpelukan itu, menoleh ke arah berasalnya suara. Di sana, mami Jane berdiri dengan tatapan memohon.


Melihat mami Jane Ara segera melepaskan dekapan Ali di tubuhnya, kemudian berjalan mendekat pada wanita paruh baya yang sejak kecil memberinya kasih sayang.


"Mami, Ara kan sudah menikah. Bagaimanapun, Ara harus ikut Danish kan?" ucap Ara seraya menggenggam tangan mami Jane, Ara mencoba memberikan pengertian pada sang mami, agar mengijinkan mereka pulang.


Mami Jane masih terdiam dan menatap Ara, wanita itu ingin sekali Ara menghabiskan waktu bersama walau hanya semalam saja. Ali yang bisa membaca situasi dan keadaan mertuanya, tiba-tiba mendekat. Lalu menyentuh bahu sang istri pelan.


"Moon, untuk malam ini, kita menginap di sini. Temani Mami, sepertinya beliau merindukan kamu," Ali berkata setelah Ara membalikkan tubuh menghadapnya. Mendengar ucapan menantunya, mami Jane menerbitkan senyum lebar.


"Kamu serius, Sun?" tanya Ara memastikan.


"Tentu saja, Mami rindu pada kamu. Aku juga tidak tega kalau memisahkan kalian,"


"Kamu memang suami idaman, Ali. Pantas jika As-eh, pantas jika Ara sangat mencintai kamu," wanita paruh baya itu hampir saja keceplosan mengungkit nama Asila.


"Mami bisa aja, Ali tidak sebaik itu, Mih," jawab Ali dengan senyum canggung.


"Ya sudah, Ara pokoknya malam ini menginap di sini ya?" pinta mami Jane sedikit memaksa.


Ara mengangguk sebagai jawaban, mami Jane segere membawa Ara ke dalam pelukannya. Sejak dulu, Ara adalah putri kesayangannya. Meskipun Ara tidak lahir dari rahimnya. Mami Jane menganggap Ara adalah pengganti Chatrine Aditia Sanjaya, putrinya yang sudah meninggal dunia.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang." Mami Jane mencium kepala gadis yang berada dalam dekapannya.


"Tapi, Mam, Danish kan tidak membawa baju ganti," Ara mendongak menatap wajah sang Mami. Tinggi Ara memang tidak lebih tinggi dari Mami Jane.


"Ali tidak apa-apa kan, kalau memakai baju Reiner?" mami Jane beralih pada sang menantu.


"Tidak apa-apa, Mi," jawab Ali dengan lembut.


*****


Setelah makan malam, Ara dan Ali kini berada di satu kamar berdua. Mereka tidak mungkin berpisah kamar di mantion keluarga Aditia. Ali sedang membaringkan dirinya di ranjang king size milik Ara, sedangkan Ara, gadis itu sedang berdiam diri di kamar mandi.


Ara merasa gugup harus berduaan di kamar itu, walaupun sudah pernah tidur bersama, tapi itu terjadi dengan tidak sengaja. Berbeda dengan saat ini, mereka berdua sama-sama sadar.


"Gimana ya, Aku harus mencari cara untuk pergi dari sini. Rei pasti sudah menungguku," gumam Ara dengan lirih, gadis itu terlalu takut jika semuanya terbongkar oleh suaminya.


"Moon, kenapa lama sekali?" Ali bertanya dan menggedor pintu kamar mandi. Istrinya sudah terlalu lama berada dalam kamar mandi, apalagi tidak terdengar suara gemericik Air. Ali mengira Ara pingsan di dalam sana.


Tidak ada sahutan dari Ali, Ara mengira suaminya itu sudah benar-benar tidur. Ara keluar dari kamar mandi dengan pelan, bermaksud agar suaminya tidak mengetahui kegiatannya.


Saat Ara melangkah dua jengkal dari pintu, sepasang tangan kekar tiba-tiba melingkar di pinggang rampingnya. Ara terkejut, hampir saja gadis itu mengeluarkan jurus smack down andalannya. Beruntung, gadis itu segera sadar dan hanya memegang lengan sang suami yang melingkar di pinggangnya.


"Sun, kenapa?" Ara bertanya ketika sudah bisa menguasai dirinya dari rasa gugup.


"Aku rasa, kita sudah harus mengabulkan permintaan orang tua kita, Moon. Kamu mau kan?" Ali berbisik dengan lembut di telinga sang istri.


Mendengar hal itu, Ara langsung meremang. Mau bagaimanapun, Ara belum pernah sedekat ini dengan pria asing. Apalagi Ali dengan sengaja meniup telinga Ara.


"P-per-m-mintaan yang mana, Sun?" Ara berpura-pura tidak paham dengan maksud ucapan Ali.


"Mereka kan, ingin cucu, Moon," Ali sengaja memancing h*srat Ara dengan berbisik dan mengelus leher Ara.

__ADS_1


Ali menggiring Ara ke arah ranjang, masih dengan tangan melingkar dengan erat di pinggang milik sang istri. Setelah sampai di ranjang king size berseprai putih. Ali mendudukkan Ara di sana, Lalu berlutut di depan istrinya.


Ali menangkup pipi Ara dengan jemarinya, lalu menyusuri pipi mulus itu dengan mesra. Hingga jemari itu berhenti di bibir tipis berwarna merah muda milik istrinya.


Ara masih terdiam dengan perlakuan Ali padanya, gadis itu berusaha untuk menguasai dirinya dari jerat sang suami. Malam ini, dia memiliki misi yang harus dia utamakan.


Ali mendekatkan wajahnya pada wajah teduh sang istri, dengan perlahan. Ali menyatukan kedua daging kenyal itu. Awalnya, hanya kecupan yang Ali berikan, namun, saat Ara tidak menolak. Ali kembali menyatukan milik keduanya dengan menuntut. Ara hanya pasrah saat sang suami memainkan lidahnya, walau sebenarnya, Ara sedang berada dalam zona kepanikan. Kalau Ali bisa memancing dia lebih dalam lagi, sudah di pastikan rencana yang Deadly Scorpion buat akan berantakan.


Saat Ali masih sibuk berperang dengan lidahnya, Ara tiba-tiba mendorong bahu Ali dengan pelan, Ali yang sadar dengan penolakan sang istri, menghentikan kegiatannya.


"Kenapa, Moon?" Ali bertanya dengan pandangan heran, kenapa wanita yang dulu mengaku mencintai dirinya. Hari ini justru menolak untuk melayani dirinya.


"Maaf, Sun, a-aku sedang datang bulan." Ara merasa bersalah, namun, jika dia tidak datang. Dia tidak bisa memastikan bahwa semua dalam kendali.


Mendengar Alasan sang istri, Ali kembali menerbitkan senyuman di bibirnya. Tadi, Ali mengira, Ara menolaknya karena tidak mau menyatukan cinta mereka berdua.


Ali menangkup wajah Ara yang menunduk, Ali paham, istrinya merasa bersalah karena tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai istri.


"Tidak apa-apa, Moon. Kita bisa lakukan lain kali, kalau sudah selesai. Jangan lupa, beritahu aku ya," Ali mengedipkan sebelah matanya.


Ara menganggukkan kepalanya, lalu menatap Ali dengan rasa syukur yang dalam. Suaminya benar-benar pria baik.


"Terima kasih, Sun. Sudah mau mengerti." Ara menjatuhkan dirinya di lantai dan memeluk suaminya yang masih setia berjongkok di depannya.


"Sekarang, kita tidur." Ali melepaskan pelukan istrinya dan naik ke ranjang.


BERSAMBUNG...


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_

__ADS_1


__ADS_2