Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Tiga Ronde


__ADS_3

Dalam sebuah rumah mewah yang hanya di tempati oleh sepasang suami istri, kedua orang itu sedang saling mendiamkan. Sang istri yang tidak mau memulai pembicaraan, sementara si suami masih kesal dengan ejekan istrinya kemarin.


Pria yang merupakan si suami sedang melaksanakan tugas baru, yang dia ambil alih secara paksa dari sang istri. Sedangkan si istri tengah duduk santai sembari memainkan ponselnya.


Perempuan itu menyunggingkan senyum nakal setelah membaca pesan yang berasal dari kakaknya. Rencananya memanas-manasi sang suami ternyata berhasil.


'Ternyata dia kesal karena Reiner justru menyuruhnya belajar kepada Dean,' batin Ara tersenyum licik.


Kemarin sepulang dari pergi yang entah kemana, pria itu selalu saja cemberut. Beberapa kali Ara bertanya hanya di jawab dengan seadanya dan jawaban singkat oleh pria tersebut.


'Kamu lucu sekali, Sun. Cemburu pada Dean, remaja yang baru berusia 18 tahun. Kau kira aku akan jatuh cinta pada berondong,' batin perempuan itu seraya menggelengkan kepalanya pelan.


Ketika Ali meletakkan dua menu masakannya di meja, pria itu melirik ke arah isterinya, sang istri masih sibuk dengan ponselnya. Perempuan itu bahkan terlihat senyum-senyum tidak jelas. Entah sedang bertukar pesan dengan siapa, si suami pun tidak tahu.


'Jangan-jangan dia sedang bertukar pesan dengan berondong kesayangannya itu,' batin Ali menerka.


Ali kembali ke dapur yang berasa tepat di samping meja makan. Pria itu mengambil segelas susu ibu hamil dan secangkir kopi buatannya lalu meletakkannya di meja makan.


Sampai dia selesai masakpun, si istri masih saja sibuk dengan ponsel di tangan, bahkan seperti tidak menganggapnya berada di tempat itu.


"Ehm, kalau hanya bermain ponsel, aku kira dua janin itu tidak akan kenyang." Ali menyindir sang istri.


Pria itu mengambil piring lalu menyendok nasi beserta kedua menu masakannya, sang istri tersenyum sumpringah ketika mengira makanan itu akan di berikan untuknya. Namun, ternyata si suami justru memakannya sendiri. Arapun semakin kesal di buatnya.


"Menyebalkan!" gerutu perempuan itu dengan suara lirih, bahkan hampir tidak terdengar.


Ara meletakkan ponsel yang sejak tadi dia mainkan itu di meja lalu mengambil piring miliknya dan menyendok nasi beserta lauk, dengan tatapan yang tidak lepas dari suaminya yang kini semakin menyebalkan.


Perempuan itu menyantap sarapan paginya, sepiring nasi dengan capcay dan ayam goreng yang lezat. Suaminya itu memang ahli dalam bidang memasak, Ara bahkan merasa beruntung karena dapat mencintai dan di cintai oleh pria tersebut.


Hanya satu yang belum bisa di lakukan oleh Ali, yaitu melindungi dirinya sendiri dari orang-orang jahat di sekitarnya. Untuk itu Ara terpaksa melakukan hal yang dapat membangkitkan rasa ingin belajar beladiri sang suami, walaupun dia harus memuji pria lain di depan suami yang begitu di cintainya.


'Maaf, karena aku harus melakukan ini, Sun. Sekarang kau adalah suamiku, mungkin suatu saat nanti akan ada seseorang yang mengincarmu, untuk membalas dendam padaku. Jika kau bisa melindungi diri, aku akan bisa lebih tenang menjalani kehamilanku sekarang,'


Sepasang suami istri itu menyantap makanannya masing-masing, tanpa satupun dari mereka mengeluarkan suara selain dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Begitu selesai menyantap sarapan paginya, Ali langsung bangkit. Suami Ara itu langsung naik ke lantai 2 untuk menuju kamarnya. Sementara tugas mencuci piring memang adalah tugas sang istri, hal itu sudah menjadi keputusan bersama.


Ara kembali mengambil ponsel yang tergeletak di samping piring kosong di depannya. Perempuan itu mencari nomor seseorang yang akan membantu dirinya untuk mengajari sang suami beladiri.


"Hallo," sapanya begitu panggilan tersambung.


"Kenapa, Ace?" tanya seseorang yang di hubungi oleh Ara.


"Kau tugaskan saja orang lain untuk mengajarinya!" pinta Ara kepada seseorang di seberang sana.

__ADS_1


Sambungan telfon berakhir karena kedua orang itu sudah dapat menemukan jalan keluar yang lebih baik untuk masalahnya kali ini. Ara kembali menaruh ponselnya di atas meja. Perempuan itu menata piring dan gelas kotor untuk segera di cuci di wastafel.


Sementara seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian kantornya. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara ponsel yang berdering. Tatapannya kini tertuju ke atas nakas yang berada di samping ranjang. Kini pria itu kembali melangkah menuju tempat sumber suara.


Tangannya mengulur untuk mengambil ponsel miliknya. Saat melihat nama dari nomor yang menghubunginya, Ali sedikit malas untuk menerima panggilan tersebut. Namun, dia juga tidak bisa mengabaikan panggilan yang berasal dari iparnya tersebut.


"Ada apa?" tanya Ali jutek.


"Kau ini adik ipar macam apa? Di telpon kakak ipar tidak ada sopan santunnya," ujar Reiner yang juga merasa kesal.


"Iya, iya, maaf. Ada apa, Kak?" tanyanya dengan suara selembut mungkin.


Reiner memasang wajah geli ketika mendengar suara sang adik ipar yang di buat-buat. Membayangkan Ali dengan ekspresi centil membuat Reiner bergidik.


"Kau jadi mau belajar beladiri?" tanya Reiner tanpa basa-basi.


"Kalau kau menyuruhku belajar dengan anak bau tengik itu, aku lebih baik tidak jadi belajar!" seru Ali menolak tawaran dari kakak iparnya.


"Bukan Dean yang akan mengajarimu, tetapi Boy. Kalau kau mau, setelah kembali dari kantor Daddy langsung mampir ke markas!"


Setelah mengucapkan itu, Reiner mengakhiri sambungan telfonnya. Dia tidak mau terlalu lama berdebat dengan seseorang yang terlalu over protektif pada istrinya, sampai cemburu pada orang yang lebih kecil darinya. Sungguh memalukan menurut Reiner.


Raut wajah kesal yang sejak tadi menghiasi wajah pria tampan itu kini berganti dengan binar bahagia. Siapapun Boy, yang terpenting bukan Dean yang mengajarinya. Ali kembali menaruh ponsel lalu segera memakai baju kantornya.


Kini Ali sudah rapi dengan setelan celana kain berwarna hitam, kemeja biru muda, dasi dengan corak garis-garis melingkar di kerah lehernya, dan jas berwarna senada dengan celana. Sepatu pantofel melekat sempurna di kakinya membuat Ali semakin berkharisma.


Perempuan yang sedang sibuk mencuci piring hanya melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Perempuan itu pura-pura asik dengan apa yang sedang di lakukan agar sang suami tidak merasa kecewa.


Sepasang tangan melingkar di perut Ara, perempuan itu sudah menduga bahwa sang suami akan melakukan hal itu. Instingnya masih sangat tajam ketika mendengar langkah kaki walaupun itu sepelan mungkin. Dagu pria yang kini berada di belakang tubuh Ara itu bersandar di ceruk leher sang istri. Menghirup dalam-dalam aroma menenangkan yang berasal dari tubuh istrinya.


"Aku rindu sekali, Moon." Ali mengeratkan pelukannya.


Ara yang sudah selesai mencuci piring dan gelas kotor sampai bersih, wangi dan mengkilat. Kini mencuci tangannya sampai bersih dan berjalan dengan pelan untuk menata bekakas yang sudah bersih itu ke rak piring. Ali masih setia mengikuti langkah sang istri tanpa melepaskan pelukannya.


Setelah selesai menaruh semua piring, gelas, sendok hingga garpu ke wadahnya, Ara mengeringkan tangannya dengan tissue lalu membuang tissue bekas itu ke keranjang sampah kering.


Kedua tangan Ara kini menyentuh tangan yang masih melingkar di perutnya. Senyum bahagia menghiasi wajah cantik perempuan itu. Ara membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah sang suami. Kedua tangannya beralih melingkar di leher sang suami. Tatapan sepasang netra dari kedua insan itu mengunci satu sama lain.


Ara berjinjit dan sedikit menarik leher suaminya agar menunduk. Dengan perlahan Ara mencium bibir sang suami singkat, hanya kecupan yang dia berikan kepada suaminya itu.


"Itu untuk bekal kamu bekerja, Sun," ujarnya setelah memberikan kecupan singkat di bibir pria itu.


Sementara pria itu melipat bibirnya karena kesal, istrinya itu hanya memberikan kecupan. Padahal yang dia harapkan adalah lebih dari itu. Setidaknya ci*man dalam yang begitu memabukkan.


"Moon, kalau hanya itu, aku tidak akan kenyang sampai nanti siang." Ali kembali berniat mencium bibir ranum sang istri.

__ADS_1


Namun, Ara memundurkan wajahnya. Perempuan itu menggeleng pelan sebagai sikap penolakan. Melihat jam dinding di belakang tubuh sang suami membuatnya menolak keinginan suaminya tersebut.


"Kalau kamu minta yang lain juga, yang ada kamu akan terlambat bekerja. Aku juga yakin bahwa Arham sudah menunggumu di luar sana," ujar Ara mengingatkan sang suami.


Mendapat alasan yang cukup masuk asal dari sang istri, Ali hanya mendengus kesal. Ternyata menjadi seorang pemimpin perusahaan itu tidak enak juga. Memiliki tanggung jawab yang lebih berat dari sekedar karyawan biasa. Yang utamanya adalah apapun yang di lakukan, akan menjadi contoh untuk semua bawahannya.


"Okelah, aku tidak akan minta sekarang! Tapi, nanti malam jatahku 3 ronde,yah!" tawar Ali di sertai kedipan sebelah mata.


Ara tertawa lantang ketika mendengar tawaran yang di berikan oleh suaminya itu. "Kita lihat saja nanti, kamu apa masih kuat untuk bertarung denganku nanti malam." Ara mendorong tubuh sang suami untuk segera keluar.


Sang istri terus saja mendorong tubuh sang suami untuk segera keluar dari rumah agar segera berangkat ke kantor. Akan tetapi, kembali menghentikan langkahnya.


"Kenapa lagi, Sun? Mau membuat penawaran lagi?" tebak Ara.


"Ck, kamu tidak lihat kalau aku tidak membawa tas kerjaku? Tadi aku taruh di meja makan, ambilkan dulu sana!" perintah Ali kepada istrinya itu.


"Kau ini suka sekali membuang waktu, Sun! Di pecat dari perusahaan tahu rasa kamu," celetuk Ara sembari menuruti perintah suaminya.


Ara kembali ke meja makan untuk mengambil tas kantor sang suami yang tergeletak di sana. Perempuan itu mengambil benda itu dan memberikannya kepada Ali.


"Terima kasih, Sayang." Ali menerima tas yang di berikan Ara.


Pria itu mendaratkan kecupan Sayang di kening sang istri, lalu beralih ke perut istrinya yang masih rata. Ali berjongkok dan mengelus perut itu dengan lembut.


"Twins, anak Abi harus jadi anak baik. Jaga umi di rumah, jangan rewel, yah!" bisik Ali di perut rata istrinya.


Terakhir pria itu mencium perut Ara begitu lama, Ali berusaha mengalirkan kasih sayangnya pada kedua janin yang tumbuh dan berkembang di perut sang istri. Selesai berpamitan dengan si kembar yang masih sangat kecil di perut istrinya, Ali bangkit dari posisinya.


"Aku pamit kerja dulu, Moon." Ali mengusap puncak kepala sang istri dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Ara mengantar sang suami hingga keluar dari rumah, benar saja di depan sana Arham sudah siap menunggu sang bos keluar. Begitu melihat Ara dan Ali yang mendekatinya, Arham membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat.


"Selamat pagi, Tuan, Nona," sapa Arham dengan sopan.


"Selamat pagi," jawab sepasang suami istri itu dengan kompak.


"Arham, bisa kau jaga suamiku dari perempuan-perempuan genit yang mendekatinya? Aku tidak suka jika dia di dekati oleh cabe-cabean yang sekarang semakin murah saja," ujar Ara dengan bahasa yang Arham sendiri tidak paham.


Nona mudanya itu membahas harga cabe yang semakin murah katanya, padahal di pasar harga cabe sedang naik. Bahkan banyak pedagang dan konsumen yang keberatan dengan harga bumbu dapur satu itu.


Namun tidak ingin membuang waktu, Arham hanya mengangguk agar lebih cepat berangkat ke perusahaan. Waktu sudah cukup siang, dan sekretaris Ali itu tidak mau jika lagi-lagi harus menjadi korban kemarahan sang ayah.


Arham membuka pintu mobil untuk sang bos. Sebenarnya Ali sudah beberapa kali meminta agar sekretarisnya itu tidak perlu menjadi supir pribadinya. Akan tetapi, itu sudah keputusan dari sang mertua yang merupakan pemilik perusahaan. Saat sang bos sudah masuk, Arhampun masuk ke dalam kemudi. Pria itu mengendarai mobilnya ke kantor.


"Ar, jadwalku hari ini apakah sampai sore?" tanya Ali saat mengingat bahwa nanti jadwalnya untuk belajar beladiri di markas yang belum pernah ia kunjungi.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Hari ini anda memiliki agenda penting," jawab Arham tanpa melihat sang bos yang berada di belakang.


Bersambung...


__ADS_2