
"Aku terpaksa menandatangani surat itu, setelah itu, aku justru di bawa oleh orang yang berbeda ke sebuah gedung tua. Tempat di mana terakhir kita bertemu, Rei, disana aku melihat kamu dengan keadaan terikat dengan bom yang mengelilingi tubuh kamu."
"Tapi kenapa kamu memutuskan meninggalkan aku? Kenapa kamu mengaku bahwa pria yang datang bersamamu adalah calon suamimu!" bentak Reiner saat wanita itu belum selesai menjelaskan.
Wanita itu menggelengkan kepala, mengingat tentang kejadian itu, memang dia bersalah. Bersalah karena dia sama sekali tidak jujur pada kekasihnya, justru mengikuti sandiwara yang di buat oleh beberapa orang yang memanfaatkannya.
"Aku hanya mengikuti skenario, Rei! Aku juga takut jika aku berkata jujur, kamu akan menjadi korban. Seperti yang di katakan orang-orang itu," ujarnya dengan berderai air mata.
Mendengar alasan tidak masuk akal dari wanita itu membuat Reiner meludah ke samping. Dia merasa di remehkan oleh wanita yang dulu menjadi kekasihnya sendiri.
"Kamu pikir aku selemah itu? Kau tahu, kenapa aku berada di tempat itu? Aku berusaha menyelamatkanmu, karena aku juga mendapatkan ancaman yang sama! Tetapi apa yang aku dapatkan saat sampai di tempat itu? Hanya sebuah penghianatan dari orang yang kucintai," ujar Reiner dengan emosi.
__ADS_1
"Fer! Apakah aku akan mati hanya dengan bom yang sudah kamu sabotase itu?" tanya Reiner pada tangan kanannya.
Ferry menggelengkan kepalanya,
8 tahun yang lalu, dia memang sudah menyabotase bom yang di siapkan oleh musuh untuk tuan mudanya waktu itu. Hanya saja, mereka memang harus bersikap seolah-olah mereka akan kalah.
Saat Kelompok Reiner sudah dapat memastikan wanita yang akan mereka selamatkan dalam keadaan aman, mereka sebenarnya sudah hampir menang. Namun pengakuan dari wanita itu justru membuat Reiner akhirnya mengubah rencana. Dia sendiri yang memutuskan untuk membiarkan wanita itu pergi bersama pria yang dia banggakan sebagai masa depannya.
Reiner hancur saat itu, saat melihat wanita itu tetap melangkah meninggalkannya walau wanita itu melihat di tubuhnya terdapat beberapa bom yang terpasang.
Kelompok Reiner yang jumlahnya lebih banyak, memenangkan peperangan itu. Setelah selesai dengan baku tembak, mereka segera keluar dari gedung tua itu dan mengaktifkan bom yang mereka pasang sendiri di beberapa sudut bangunan hingga gedung itu meledak, rata dengan tanah.
__ADS_1
Mikayla terkejut dengan apa yang di ceritakan oleh Reiner dan Ferry, jadi selama ini mereka hanya kurang komunikasi dan menyebabkan kesalahpahaman. Jika saja dulu wanita itu bisa lebih terbuka pada sang kekasih, mungkin dia juga tidak akan kehilangan keluarga dan fungsi kakinya.
"Apa yang terjadi pada kakimu, Kay? Bukankah seharusnya kau sudah aman, karena mengikuti perintah musuhku waktu itu?" tanya Reiner begitu sudah selesai menceritakan kejadian yang terjadi setelah kepergian Mikayla.
Mikayla menatap kakinya yang memang sudah tidak bisa berjalan lagi. Wanita itu meneteskan air mata dan segera menghapus jejak air mata yang mengalir tanpa permisi itu.
"Aku di jebak, setelah pergi dari gedung itu, aku justru di bawa ke suatu tempat. Dimana semua keluargaku disekap, bahkan mereka memb*ntai keluargaku di depan mataku sendiri." Mikayla menghentikan ucapannya.
Wanita itu tidak sanggup lagi untuk menjelaskan semua kejadian tragis itu, membuat wanita yang berada di sampingnya berusaha menguatkan dengan mengelus punggung bergetar Mikayla.
"Mereka tetap menghianati kamu? Apakah salah satu dari pembun*h keluargamu adalah istriku?"
__ADS_1
Wanita itu menganggukkan kepalanya, membuat Reiner langsung lemas di tempatnya. Istri yang dia nikahi selama hampir 6 tahun, nyatanya adalah seorang wanita jahat dan kejam.
Bersambung...