
Ali kembali membuka selimut, lalu menatap wajah teduh istrinya. Ali mengukung Ara di bawahnya, lalu menciumi setiap jengkal wajah Ayu Aracelia Daneen Gunawan. Wanita yang resmi di nikahinya, dua hari yang lalu.
"Moon, kamu tidak merasa terpaksa, 'kan?" Ali kembali memastikan agar benar-benar tidak ada penyesalan.
Ara membuka matanya yang sedari terpejam, lalu melempar senyum pada suaminya. Bagaimana dia bisa merasa terpaksa, kalau sejak awal justru Ara yang memaksa Ali untuk menikahinya.
"Kenapa harus terpaksa, Sun?" jawab Ara dengan lembut, tangan mungilnya membelai wajah tampan sang suami. Menyusuri dari area kening, hinga turun ke bibir menawan pria pujaannya.
Ali menangkap respon positif yang di berikan Ara, bahwa gadis itu sudah mantap untuk memberikan Haknya sebagai seorang suami. Ali kembali menyatukan bibir mereka, kali ini dengan perasaan yang lebih dalam. Karena sejak menikahi gadis culun ini, perasaannya sudah terikat satu sama lain. Bukan hanya di hadapan para saksi, namun, juga di hadapan Tuhan yang di percayai oleh mereka.
Ali menuntun tangan mungil Ara yang melingkar di lehernya, dia tuntun menuju dada sispack miliknya. Hingga sampai pada sang jagoan yang juga menginginkan pijatan lembut sang istri.
Ara tersentak kala menyentuh jagoan milik suaminya, begitu tegak perkasa walaupun baru saja di sentuh olehnya. Mata Ara membulat dengan sempurna saat mencoba mengukur ukuran dan panjang sang jagoan, dan tangannya secara reflek melepaskan genggaman itu. Sedangkan Ali, melihat respon terkejut dari Ara, Ali melepas pagutan bibir mereka dan mengibarkan bendera kemenangan dengan senyum menggodanya.
"Sun, kamu tidak bercanda? Kenapa bisa sebesar dan sepanjang ini? Kamu Alergi kah?" tanya Ara dengan heran, apakah suaminya mengonsumsi sesuatu yang mengakibatkan pembengkakan pada organ tersebut.
"Serius Moon, memang seperti ini. Aku juga tidak punya alergi pada apapun," jawab Ali dengan yakin.
"Tapi, mana mungkin muat, Sun. Kamu jangan bercanda, bisa kamu kecilkan dulu tidak?" tanya Ara dengan polos.
Mendengar pertanyaan sang istri, Ali terkekeh. Istrinya ini polos sekali, hingga bertanya hal yang konyol seperti itu. Mana bisa di kecilkan jika sudah seperti itu dari pusatnya.
"Kalau di kecilkan, jadi loyo, Moon. Tidak akan bisa masuk," jawab Ali masih dengan tawanya.
"Terus harus bagaimana?" Ara masih saja memberikan pertanyaan kepada Ali.
__ADS_1
"Sudah, kamu nikmati saja. Biar aku yang bekerja," putus Ali berusaha meyakinkan istrinya.
"Baiklah," Ara mengakhiri pertanyaan yang sejak tadi membuat fokus suaminya terbagi. Pria yang sedang On fire itu, benar-benar sabar meladeni pertanyaan konyol darinya.
Ali mencoba memberikan rangsangan yang lebih pada Ara, dengan cara memanjakan dan memijit inti pusat sang istri dengan jarinya. "Tahan ya Moon, awalnya memang sakit tapi lama-lama akan nikmat. Biar si jagoan bisa masuk dengan lancar," Ali membisikkan kata itu di telinga sang istri.
Ara semakin merasa tidak karuan saat Ali bermain dengan beberapa jarinya. Pria itu benar-benar asik bermain hingga melupakan rintihan sang istri.
Ali berhenti ketika sudah merasakan pelumas yang keluar dari inti istrinya. Pria itu tersenyum senang saat melihat sang istri mulai tidak sabar untuk memasuki peperangan berikutnya.
"Bismillah, kamu sudah siap, Moon?" Ali bertanya dengan nada sensual dan mengecup bibir istrinya singkat.
"Emh," Ara hanya mengeluarkan kata itu dan menarik leher Ali, saat ini, Ara justru yang menyatukan kedua bibir itu. Gadis yang sudah resmi menjadi nyonya Ali Danish Mahendra itu mulai terbakar ga*rah yang membara.
Ali kini bersiap melakukan pertempuran selanjutnya, masih dengan kedua bibir yang bertaut, Ali berusaha memasukkan sang jagoan ke dalam inti istrinya. Cairan merah mengalir ke seprai putih di ranjang itu.
"Sabar, Moon, ini baru ujungnya. Tahan sebentar ya, aku hentakkan sekali lagi si jagoan. Setelah itu kita mulai perang kita," ujar Ali menenangkan.
Ali kembali menghentakkan jagoannya, hingga terbenam dengan sempurna, di dalam inti sang istri. Ali sengaja menhentikan dulu kegiatan itu, agar istrinya lebih rileks dan tidak merasakan sakit yang berlebihan.
'Sial, kenapa rasanya sakit sekali? Aku lebih baik terkena beberapa butir peluru, dari pada harus merasakan sakit ini lagi.'
Ara menggerutu dalam batinnya, jika tahu akan sesakit ini, dia akan lebih memilih kabur dari kungkungan suaminya.
"Moon, tatap mataku, nanti, kamu akan merasakan kenikmatan." Ali memaksa Ara untuk menatap matanya.
__ADS_1
Ara mengikuti perintah sang suami, di tatapnya dalam-dalam ke dalam bola mata Ali. Tidak ada sedikitpun kebohongan yang Ali berikan lewat sorot matanya.
Gadis itu mengangguk, Ali yang sudah merasa bisa menenangkan ketegangan sang istri. Segera melakukan pompaan yang begitu lembut.
Selembut apapun Ali memompa, Ara tetap merasakan perih di intinya. Ara hanya menggigit bibirnya sebagai pelampiasan rasa sakit. Karena ini yang pertama untuk keduanya, Ali masih belum terlalu mahir untuk bermain. Hanya mengandalkan insting laki-laki yang di milikinya.
Hingga semakin lama, kesakitan yang di rasakan oleh Ara berganti dengan kenikmatan tiada tara. Tanpa sadar, keduanya mengeluarkan suara-suara khas pasangan yang sedang di mabuk cinta.
Karena ini yang pertama, Ali berinisiatif untuk segera mengakhiri kegiatan keduanya. Lagipula, sudah hampir memasuki waktu subuh. Itu artinya, Ali harus segera menyelesaikan kegiatan itu untuk melakukan kewajiban mereka sebagai umat muslim.
terdengar erangan panjang sebagai tanpa pelepasan keduanya, Ali menanamkan bibit-bibit kehidupan pada rahim sang istri. Berharap akan ada kebahagiaan yang akan datang dalam ketiga keluarga besar Gunawan, Mahendra dan juga Aditia.
Ali ambruk di samping sang istri, masih dengan nafas tersengal, Ali menarik Ara ke dalam pelukannya. Lalu mengecup kening Ara lama, berharap bisa menenangkan perasaan gadis yang baru saja melepaskan kesucian untuk dirinya. Setelah bisa mengatur nafasnya, "Terima kasih, Moon." Ali membisikkan kata yang membuat Ara semakin berbahagia.
Ara mengangguk dan masuk ke dalam pelukan dada sispack sang suami. Menghirup dalam-dalam aroma parfum dan keringat bercampur menjadi satu. Malam ini, dia sudah resmi menjadi istri seutuhnya.
"Terima kasih, dan maafkan aku Asila," batin Ara mengucapkan rasa syukurnya karena bisa melaksanakan janjinya pada sang sahabat.
"Moon, ayo mandi bersama." Ali melepaskan pelukannya.
"Mandi bersama?" tanya Ara dengan pipi merah merona.
BERSAMBUNG...
Hai gays, aku nulis siang nih. Tapi sengaja aku update abis magrib. Biar puasa kalian tidak terganggu. Hehe, maafkan author yang belum bisa crazy up ya, Otak ini belum mampu di ajak traveling lama. Love you All..
__ADS_1
Thanks For Reading...
_Nurmahalicious_