
Di dalam kotak kayu tersebut ada sebuah kalung liontin dengan lambang huruf AH. Kalung itu terlihat sederhana, tetapi elegant. Di sana juga terdapat sebuah kertas yang Reiner yakini itu adalah sebuah foto.
Daddy Haris mengeluarkan kalung itu terlebih dahulu, lalu memberikannya kepada Reiner. Laki-laki itu segera menerimanya walau sebenarnya ia juga belum terlalu paham. Untuk apa Daddy Haris menunjukkan benda-benda itu padanya?
"Boleh, Rei buka, Dad?" tanya Reiner memandang ayah angkatnya.
Pria paruh baya itu tersenyum tipis lalu menganggukkan kepala. Untuk apa dia menunjukkan benda itu padanya jika tidak mengijinkan anak laki-lakinya itu untuk membuka benda itu.
Pelan-pelan Reiner membuka liontin kalung yang di berikan oleh Daddy Haris. Di dalam liontin itu ternyata berisi foto pengantin dan di sisi lainnya adalah foto bayi perempuan. Reiner yakin foto itu adalah foto pernikahan Daddy Haris dengan Mommy Aracia juga bayi Aracelia. Reiner menatap Daddy Haris lalu tersenyum lembut.
"Ini foto adikku, 'kan? dan ini foto Daddy saat menikah dengan Mommy cia." Reiner berucap sambil tangannya bergantian menunjuk kedua foto di dalam liontin yang di pegang.
Daddy Haris tak menjawab pertanyaan Reiner, laki-laki paruh baya itu justru kembali memberikan foto lain pada Reiner. Walau ragu-ragu, pria tampan itu tetap menerima apa yang di berikan oleh Daddy Haris.
Di dalam foto itu, berisi gambar seorang wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Mommy Aracia. Reiner bahkan yakin bahwa wanita berpakaian serba hitam yang ada di foto itu adalah ibu dari Ara. Wanita cantik dengan wajah tidak jauh berbeda dari sang adik.
Namun di dalam foto itu Mommy Cia bukan hanya sendiri. Di depannya ada seseorang yang Reiner pun meyakini dia adalah laki-laki terbukti dari postur tubuhnya walau foto itu di ambil dari belakang.
__ADS_1
"Siapa orang yang bersama Mommy, Dad?" tanya Reiner penasaran.
Mendapat pertanyaan dari Reiner, Daddy Haris hanya menjawab dengan gelengan kepala. Pria paruh baya itu memejamkan mata dan terlihat mengatur nafasnya yang kini memburu.
Melihat kondisi Daddy Haris yang sepertinya drop, Reiner kelabakan. Laki-laki itu menaruh foto dan kalung yang sebelumnya dia pegang. Tangannya kini mengelus punggung Daddy Haris perlahan agar pria yang tak lagi muda itu bisa kembali pada kondisi semula.
"Kalau Daddy belum siap cerita, tidak usah ceritakan, Dad. Rei akan mencari tahu sendiri tentang foto ini," ujar Reiner mengambil keputusan.
"Daddy tidak tahu orang itu siapa, tapi sebelum kami mengalami kejadian nahas itu. Seseorang mengirim foto itu ke rumah dengan surat ancaman." Daddy Haris kembali mengambil secarik kertas yang tersemat di kotak kayu itu.
"Mommy pernah bilang sesuatu tentang ini atau tidak? atau bagaimana reaksi Mommy Cia ketika melihat surat ini? Rei yakin ini di tulis dengan darah, Dad." Reiner melipat kembali surat itu lalu memberikannya pada Daddy Haris.
"Mommy hanya bilang tidak perlu di khawatirkan, tapi beberapa hari setelah pengiriman surat ini. Kami di serang oleh beberapa orang, kami juga di sekap. Hanya saja saat itu ternyata Mommy Cia bisa melawan beberapa orang itu sampai kami hampir bebas dari tempat itu." Daddy Haris menarik nafas ketika hatinya kembali merasakan kesakitan.
"Tapi saat kami sudah berada di pinggir jalan untuk menyebrang, tiba-tiba ada sebuah mobil yang hampir menabrak Daddy. Tapi Mommy Cia terlalu bodoh, dia justru melindungi Daddy hingga dirinya yang tertabrak mobil." Daddy Haris menyeka air mata yang hampir menetes dari sudut matanya.
Reiner tahu, penjelasan ini sangat berat untuk Daddy Haris. Dia kembali harus mengingat tragedi yang terjadi padanya. Ini persis dengan kejadian yang di alami oleh Asila, salah satu anggota Deadly Scorpion yang merupakan sahabat adiknya.
__ADS_1
"Sudah, Dad. Rei sudah lebih dari paham, aku janji akan cari orang yang sudah mencelakai Daddy dan Mommy Cia. Rei akan mencari keadilan untuk orang tuaku berbekal petunjuk ini. Boleh barang-barang ini Rei bawa?" tanya Reiner dengan tekadnya.
Pria paruh baya itu menggeleng. Sungguh bukan ini maksud dia menunjukkan barang-barang itu, dia hanya ingin bercerita tentang masa lalunya. Akan tetapi dia sangat paham bagaimana karakter Reiner. Laki-laki muda itu tidak mungkin mau mengalah. Dia pasti akan melakukan apapun yang menurutnya harus di lakukan.
Ayah satu anak itu menggenggam jemari ayah angkatnya. Berusaha menyalurkan keyakinan untuk pria paruh baya itu bahwa semua akan baik-baik saja. Dia pasti bisa mengatasi masalah ini dan mencari keadilan yang seadil-adilnya.
"Ijinkan Rei, Dad. Aku janji tidak akan melibatkan Ara dalam kasus ini," pinta Reiner memelas.
Terpaksa Daddy Haris mengangguk. Mau sekeras apapun dia melarang anak angkatnya itu, dia tidak akan bisa menghentikan niat Reiner yang sudah bertekad. Lagipula dia percaya bahwa Reiner akan bisa mengatasi masalah yang dia ceritakan.
"Kalian ngomongin apa, sampai bawa-bawa nama Ara?"
Bersambung...
Hai kakak-kakak cantik, mampir kuy ke karya my BESTie.
__ADS_1