Rahasia Istri Culunku

Rahasia Istri Culunku
Dulu, Papi juga begitu


__ADS_3

"Sayang, kenapa diam?" Imel mengagetkan Reiner dari lamunannya. Reiner menatap Imel dengan pandangan memohon, jika Imel masih merajuk, sudah di pastikan jagoannya akan berpuasa selama satu minggu penuh.


"Maaf, Sayang. Aku ke rumah Mami karena mengantarkan Ara pulang, kamu tahu sendiri kan, adikmu itu suka sekali ikut operasi tangkap tikus. Kalau tidak ku antar pulang, aku yakin Mami akan mencincangku hidup-hidup." jelas Reiner, tangan Reiner terulur untuk memeluk Imel.


Melihat tangan Reiner mulai menampakkan gelagat aneh, Imel berniat untuk kabur. Dia membalikkan tubuhnya dan segera berlari menjauh dari suaminya.


"Sayang ... Kenapa lari?" tanya Reiner menggoda, dia mengejar istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


"Mau apa kesini, aku mau mandi, ...."


"Kita mandi bersama," potong Reiner sebelum Imel menyelesaikan ucapannya.


"Aih, rugilah aku!" gerutu Imel dengan suara keras.


Reiner tertawa lantang saat melihat ekspresi frustasi sang istri, Awalnya Imel yang merajuk, tapi akhirnya Reiner yang mendapatkan keuntungan. Jiwa bisnismennya tidak bisa di ragukan lagi.


*****


Ali menuruni tangga untuk keluar dari mantion besar Aditia, dia berniat untuk menyiapkan kejutan khusus untuk istri yang awalnya dia nikahi secara terpaksa. Namun, saat menjalani ijab qabul, Ali merasa sudah terikat dengan gadis culun yang sekarang justru terlihat sangat manis di matanya.

__ADS_1


Saat Ali sampai di lantai satu, terlihat sang mertua, Papi Adit dan Mami Jane sedang sarapan bersama. Ali hanya berniat untuk berpamitan pada keduanya sebagai bentuk rasa sopan.


"Eh, Ali, sini nak." Papi Adit melambaikan tangan pada Ali.


Ali mendekat dan segera menyapa kedua paruh baya yang sekarang menjadi mertua angkatnya. Ali mencium tangan Mami Jane dan Papi Adit.


"Sarapan dulu, Ali," tawar Mami Jane pada menantunya.


"Nanti saja ya, Mi, Ali masih ada urusan," tolak Ali dengan lembut.


"Di rumah ini, tidak ada yang boleh keluar sebelum sarapan, Ali. Sini duduk." Papi Adit menepuk kursi di samping kirinya.


"Ara mana, Li?" tanya Mami Jane saat menyedari putri bungsunya tidak hadir di ruang makan.


Ali menaruh kembali gelas air yang sudah ada di tangannya. Lalu memandang Mami dan Papi bergantian. Ali tidak mau jika salah bicara pada keduanya.


"Em, Ara sedang tidur Mi. Katanya tidak enak badan, sedang kedatangan tamu agung bulanannya," jawab Ali berusaha agar kedua orang itu tidak membahas tentang keturunan pagi ini.


Mendengar alasan yang di berikan oleh menantunya, Mami Jane mengangguk, Ara memang selalu beristirahat saat tamu bulanannya datang. Mami Jane berdiri dari duduknya, berniat akan mengambilkan makan untuk Ali. Tetapi langsung di cegah oleh Ali, dirinya tidak mau jika terlalu merepotkan mertuanya.

__ADS_1


"Biar Ali sendiri, Mi," ujar Ali menghentikan kegiatan Mami Jane yang hampir mengambil piring miliknya.


"Oh, ya sudah. Makan yang banyak Ali, biar nanti setelah Ara selesai datang bulan, kamu bisa lembur," ujar Mami Jane tersenyum lebar.


Ali membalas guyonan Mami Jane dengan senyum canggung, kenapa di manapun selalu itu yang di bahas. Ali masih belum nyaman dengan pembahasan itu, Ali memutuskan tetap melanjutkan mengambil makanan yang ada di dekatnya.


"Mi, kenapa membahas itu terus? nanti mereka jadi malu-malu. Biarkan saja mengalir dengan sendirinya, jangan di paksakan, Mi," ujar Papi Adit mengingatkan istrinya.


"Iya Pi, Mami enggak maksain, cuman ngingetin aja. Dulu, Papi kan juga begitu,"


Papi adit tersedak makanan yang baru saja di kunyah olehnya, Tidak menyangka istrinya akan membahas masa muda mereka di depan sang menantu.


Bersambung...


Maaf ya gays, aku minta maaf kalau ceritaku membosankan atau apalah. Aku masih belajar, boleh kalian kasih aku kritik dan saran yang membangun. Agar aku lebih semangat lagi.


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_

__ADS_1


__ADS_2