
Dalam sebuah tempat yang di dalamnya hanya ada dua pria berbeda generasi sedang saling pandang dengan tatapan yang berbeda-beda. Di antara keduanya belum ada satupun yang mengucapkan satu patah katapun.
Papi Adit duduk menyilang kaki membuat aura pria paruh baya itu terasa menakutkan. Reiner benar-benar belum berani memulai pembicaraan. Pria muda nan tampan itu masih setia berdiam diri walau sebenarnya dia sangat ingin keluar dari tempat itu untuk bertemu dan bermain dengan putri kecilnya.
"Rei, kau berhasil menyelamatkan mertuamu, pasti kau juga sudah mendapatkan bukti-bukti tentang kejahatan seseorang di balik ini semua, 'kan?" tanya pria paruh baya itu memastikan.
"Sudah, Pi, Rei juga sudah tahu siapa orang di balik ini semua."
Papi Adit reflek menoleh dengan tatapan tajam, setajam seekor serigala yang ingin menerkam mangsanya. "Kau tahu dalang di balik ini semua?"
"Tentang kematian Mommy Cia juga, Rei sudah tahu, Pih!" Jelas Reiner tanpa ragu.
"Kau serius, Rei?" tanyanya setengah tidak percaya.
Papi Adit selama ini sudah melakukan penyelidikan, hanya saja selalu nihil dan tidak mendapatkan bukti yang kuat atas praduganya. Kini, Reiner justru mengaku bahwa dia sudah menemukan siapa orang di balik kejahatan yang terjadi kepada keluarganya.
Sementara di lantai bawah, sepasang suami istri baru saja datang ke mansion tersebut. Mereka segera masuk dan mencari sang pemilik mansion yang merupakan orang tuanya sendiri.
__ADS_1
Ara melangkah dengan tangannya menggandeng mesra lengan sang suami. Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, karena saat di bawah tadi mereka sudah bertemu dengan Imel yang masih saja sibuk dengan masakannya.
Mereka tetap bergandengan tangan hingga sampai di lantai dua, persis seperti sepasang pengantin baru yang masih lengket bagai perangko.
"Mami," panggilnya ketika melihat orang tuanya tengah bermain dengan sang keponakan.
Namun, Ara sedikit merasa asing dengan seseorang yang juga berada di tempat itu bersama dengan sang ibu. Seorang wanita yang sudah terlihat sangat tua, tubuhnya kurus kering bagaikan orang yang tidak terusus. Ara masih memperhatikan wanita itu sampai dia berada di samping Mami Jane.
"Sayang, kamu datang?" tanya Mami Jane.
"Ara sudah janji kalau hari libur akan menginap disini." Perempuan muda itu mengecup pipi sang ibu sekilas.
Pandangan Ara kembali kepada wanita tua yang terlihat sedang asik bermain dengan Rachel. Ara berusha mengingat siapa tahu wanita itu adalah saudara jauh mereka. Namun, sekian detik mengobok-obok memory otaknya, Ara sama sekali tidak menemukan jawabannya.
"Mam, dia siapa?" tanya Ara berbisik ketika ingatannya benar-benar tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Dia ibu kandung Kak Imel, Sayang," jawab Mami Jane juga dengan berbisik.
__ADS_1
Ara langsung membulatkan matanya. Sejak awal perkenalannya dengan sang kakak, Imel selalu mengaku bahwa hidup sebatang kara. Namun, kini tiba-tiba Kakka iparnya itu membawa sang ibu kandung ke mansion utama keluarga Aditia.
"Oh, iya, Papi dan Kak Rei dimana?" tanya Ara mengalihkan topik pembicaraan.
Sebenarnya masih banyak yang perlu dia tanyakan tentang wanita tua itu, akan tetapi dia sendiri merasa tidak enak jika membahas di hadapan orangnya secara langsung.
"Papi dan Rei masih di ruangan kerja Papi, Sayang."
"Oke, Ara kesana sekarang." Perempuan itu bangkit dan langsung menuju sebuah ruangan yang di gunakan oleh sang ayah untuk bekerja.
Ketika dia akan mengetuk pintu, suara dari dalam membuat langkahnya terhenti. Ara mematung seketika saat mendengar obrolan dua orang di dalam sana.
"Jadi benar Rico yang sudah membun*h Acia, rei? Kamu tidak salah mendapatkan bukti ,'kan?"
"Benar, Pi, Rico yang merupakan ayah kandung istriku adalah pembun*h ibu kandung Ace."
Ara lemas seketika saat mendengar apa yang keluar dari bibir Reiner. Suara itu terdengar sangat jelas di telinganya. Tangan yang sejak tadi memegang handle pintu, kini terlepas. Ara luruh bersandarkan pintu ruang kerja sang ayah.
__ADS_1
Bersambung...