
Tepat pukul 1 dini hari, seorang pria berjalan dengan langkah tegas. Tubuh kekar, tinggi dan beberapa otot yang menonjol di lengan kekarnya yang kini hanya menggunakan kaos pendek berwarna putih, membuat pria itu tampak mempesona.
Namun, pria itu bukan sedang berjalan di atas panggung catwalk, melainkan sedang berjalan di antara banyaknya ruangan yang mirip seperti penjara. Beberapa orang yang menjadi tawanan di tempat itu langsung terbangun ketika mendengar suara langkah kaki yang begitu keras. Menebar aura kepemimpinan yang sangat menakutkan.
"Siapa dia?" ucap salah satu tawananan yang ada di tempat itu.
"Entahlah, siapapun dia, kita tidak perlu ikut campur. Hidup kita saja dalam bahaya sekarang," ucap salah satu teman satu selnya.
Pria itu tetap berjalan, tidak menghiraukan bisikan-bisikan dari para tawanan klan mafianya. Tujuannya hanya satu untuk saat ini, dia begitu ingin segera sampai di penjara paling ujung di tempat itu.
Langkah kaki pria itu terhenti, ketika melihat seorang wanita tertidur dengan posisi duduk terikat di kursi. Sebuah tali kuat melingkar di tangan yang di tarik ke belakang. Sementara kakinya juga terikat dengan rantai besar. Mulut wanita itu bahkan tertutup lakban berwarna hitam.
Seringai licik keluar dari sudut bibir pria itu. Dia segera membuka kunci penjara yang menjadi tempat paling pantas untuk wanita itu. Langkah kaki membawanya masuk ke dalam sel yang hanya berisi wanita menyedihkan itu.
Tubuhnya sudah tidak lagi terlihat seksi, wajah yang dulu cantik selalu terlapis dengan make up mahal, kini menjadi kusam dan Kumal. Rambut yang dulu selalu tergerai indah, kini sudah menjadi gimbal karena tidak pernah mandi.
Aroma tubuhnya bahkan sangat tidak sedap.
Namun, pria itu mengabaikan kondisi wanita tersebut. Melihat wanita itu dalam kondisi seperti ini saja, dia rasa belum cukup untuk membalas kejahatan yang dia lakukan kepada wanita pujaannya.
Pria dengan kaos putih itu berdiri tepat di hadapan sang wanita yang tengah menunduk, karena sedang tertidur.
Tangan besar pria itu terulur, dengan cepat tangan itu menarik lakban hitam yang menutupi mulut sang wanita. Hal itu membuat wanita yang masih tertidur itu, terkejut. Kedua matanya seketika terbuka, mulutnya memekik saat merasakan sakit karena lakban itu di tarik secara paksa.
__ADS_1
Saat melihat pria yang berada di depannya, wanita itu ketakutan. Dia ingin segera pergi dari tempat itu, tidak ingin berhadapan dengan pria yang terkenal kejam dan sadis itu. Namun, kali ini dia tidak boleh menunjukkan rasa takutnya pada pria itu.
"Tolong, lepaskan aku!" seru wanita itu dengan berani.
Pria itu berdecih ketika melihat keangkuhan dari wanita yang sekarang dalam keadaan sangat menyedihkan itu. Tubuh yang dulu di bangga-banggakan itu sama sekali sudah seperti sampah yang tidak berguna. Lebih menyedihkan lagi, wanita itu sama sekali tidak sadar bahwa bahaya tengah mengancamnya.
"Kau sangat menyedihkan, Cla! Kemana tubuh seksi dan wajah cantik yang dulu selalu kau banggakan? Sekarang, kau tidak lebih dari wanita yang memiliki gizi buruk," ujar pria itu meremehkan.
Merasa di hina oleh pria tampan di hadapannya, wanita itu mendelik tajam. Menatap dengan berani pria yang berdiri dengan bersedekap dada itu.
"Alvino Maladeva, apa kau merasa dirimu tidak menyedihkan? Seorang CEO perusahaan ternama, tolak oleh gadis cupu."
Amarah memenuhi hati dan pikiran pria itu, ketika tawanannya berani menghina dirinya. Terlebih lagi, wanita itu berani mencemoh wanita pujaannya.
Ya, pria itu adalah Aldev. Pria yang mempunyai obsesi untuk memiliki Aracelia. Penolakan Ara bahkan sampai menyebabkan Aldev mengalami depresi. Pria itu akan berubah-ubah kepribadian ketika merasa ketakutan dan marah.
Clarissa berusaha menghindari apa yang di lakukan oleh Aldev. Akan tetapi, tenaganya tidak cukup untuk berontak dari pegangan pria itu yang begitu erat menekan dan menarik dagunya dengan sebelah tangan.
"Beraninya kau menghina wanitaku, apa kau sudah bosan hidup?"
Aldev bertanya seraya tangan kirinya merogoh sesuatu di saku celananya. Dari sana, dia mengeluarkan sebuah pisau lipat berukuran 15 cm. Pria itu dengan cepat mengeluarkan mata pisau yang tersembunyi di dalam gagangnya. Kini ketajaman benda itu terlihat. Mungkin ukurannya memang kecil, akan tetapi benda itu bisa di gunakan untuk melukai seseorang. Aldev dengan sengaja menempelkan dan menggosokkan pisau lipat itu di pipi Clarissa.
Kedua mata wanita yang sejak tadi begitu berani itu kini terpejam. Clarissa terlihat ketakutan, terbukti dengan dada wanita itu yang naik turun dengan cepat. Jantungnya pasti memompa lebih cepat dari biasanya. Seperti orang yang sedang melakukan lari marathon sejauh ribuan kilometer.
__ADS_1
Aldev tertawa puas ketika melihat lawannya kini tidak berkutik. Wanita yang tadi berani menghina pujaan hatinya, kini sedang terancam oleh sebilah pisau yang ada di tangan kirinya.
"Tenanglah, Cla. Kau jangan ketakutan seperti itu, bukankah kau tadi begitu berani menghina Araku?" tanya Aldev menjauhkan pisau itu dari pipi Clarissa.
Clarissa merasa sedikit lega saat merasakan besi dingin itu menjauh dari kulit wajahnya. Wanita itu membuka kedua matanya, akan tetapi rasa lega itu hanya bertahan sebentar saja.
Dalam sekejam pria itu menancapkan pisau lipat yang di genggamnya di paha kanan Clarissa, membuat wanita itu menjerit kesakitan. Besi tajam dan dingin itu melukai daging yang wanita itu yakin bahwa luka itu cukup dalam. Dar*h segar mengalir dari luka baru karya seorang mafia kejam di kaki seorang model papan atas seperti Clarissa.
"A-al, to-tol-long ampuni aku, aku janji tidak akan menghina gadis culun itu lagi." Mohon Clarissa, akan tetapi mulutnya justru kembali menghina wanita tercinta pria tersebut.
Aldev semakin menakan pisau yang belum terlepas dari genggamannya itu, membuat pisau itu semakin dalam menancap di paha wanita itu. Mendengar wanitanya kembali di hina oleh wanita rendahan seperti Clarissa, membuat pria itu semakin hilang kendali. Amarah menguasai dirinya, sejak bangun dari tidurnya, Aldev memang sangat ingin menyiksa wanita kurang ajar itu.
"Argh!" pekik Clarissa memejamkan matanya. Cairan bening mengalir dari sudut mata sayunya ketika rasa sakit itu semakin dalam menyiksanya.
"Kau masih mau lagi, Cla? Silahkan saja hina wanitaku sesukamu. Tapi, aku akan membuat satu luka baru untuk setiap hinaan yang keluar dari mulut kotormu ini untuk wanitaku." Aldev mencabut pisau yang menancap di paha wanita itu. Begitu pisau tercabut, Aldev bahkan mengelap darah yang masih menempel di pisau lipat miliknya dengan kaos berwarna putih yang dia gunakan, hingga noda cap darah wanita itu menempel sempurna di kaos bersih itu.
Selesai dengan urusannya, Aldev melempar dengan kasar dagu Clarissa hingga kursi yang di duduki oleh wanita itu hampir oleng dan terjungkal ke belakang.
"Aku rasa permainanku hari ini cukup sampai disini, besok, aku akan datang lagi."
Pria itu melenggang keluar dari penjara yang menjadi tempat tinggal Clarissa saat ini.
"Jangan obati lukanya, biarkan saja luka itu membusuk di tubuhnya!"
__ADS_1
Aldev memberi peringatan pada seorang penjaga yang menjaga tempat itu. Mendapat perintah dari pemimpinnya, penjaga itu hanya mengangguk dan segera menutup serta mengunci kembali penjara tersebut.
Bersambung...