
Cukup lama Reiner menunggu sang istri untuk membuka mulutnya, akan tetapi wanita itu masih terus diam dengan pandangan menunduk ke bawah.
"Kamu mau menjelaskan, atau perlu aku berikan bukti-buktinya lebih dulu?"
Wanita itu seketika menoleh, masih dengan wajah gelisah dan mata berkaca-kaca. Akhirnya semua yang dia sembunyikan akan terbongkar sebentar lagi, atau justru suaminya itu sudah mengetahui semuanya? Hanya saja ingin memastikan sendiri padanya.
"Perlu, baiklah, akan aku ambilkan bukti-buktinya dulu." Pria itu bangkit dan akan melangkah.
Namun, tangan Imel langsung mencegah sang suami yang akan beranjak dari tempat itu. Wanita itu menatap sang suami dengan wajah sedihnya. Wanita itu terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Aku akan jelaskan semuanya, Rei, tapi tolong jangan emosi dulu!"
Reiner kembali mendudukkan dirinya di sofa, berdampingan dengan sang istri. Dia sebenarnya juga terpaksa melakukan hal itu. Sebagai seorang suami, dia tidak mau lagi ada rahasia di antara mereka.
"Kamu pasti sudah melihat Vidio itu, 'kan?" tanyanya dengan menatap sang suami.
Imel menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Apa yang kamu lihat di Vidio itu, semua memang benar."
Reiner langsung menoleh dengan mata mendelik tajam. "Jadi benar? Kamu ikut dalam kejahatan yang menimpa mantan kekasihku!"
Imel menggeleng keras. "Yang ada di dalam vidio itu, bukan aku!"
__ADS_1
"Lalu siapa? Wajah itu jelas adalah wajah kamu, Imel!" bentak Reiner dengan suara tinggi.
Wanita itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sosok yang berada di Vidio itu memang bukanlah dirinya. Akan tetapi, bagaimana caranya menjelaskan kepada suaminya. Sementara dirinya tidak memiliki bukti apapun.
"Kamu tidak bisa mengenali istrimu sendiri, Rei? Apa kamu sama sekali tidak bisa merasakan bahwa wanita itu bukanlah aku!"
"Kalau memang itu bukan kamu, lalu siapa, Imel? Siapa!"
Reiner yang semakin emosi dengan penjelasan sang istri semakin meninggikan suara, membuat istrinya sampai menutup kedua telinganya.
"Apakah orang sehebat dan berkuasa sepertimu, tidak mampu mencari tahu sendiri masalah ini? Haruskah aku sendiri yang mencari buktinya, untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah!"
"Kamu mengintrogasi istrimu sendiri, seolah-olah aku adalah tersangka. Demi siapa? Hanya demi seorang mantan kekasih! Apa kamu ingin kembali bersama dengan wanita itu? Jika iya, silahkan, Rei! Aku akan pergi membawa Rachel untuk hidup berdua,"
Kecewa dengan sang suami, Imel tanpa sadar mengucapkan ancaman kepada suaminya. Wanita itu kini bangkit, lalu berjalan menuju lemari baju miliknya. Dia meraih koper yang berada di dalam lemari itu. Dengan buru-buru memasukkan beberapa baju miliknya ke dalam koper.
Sementara Reiner, pria itu masih berada di posisinya semula. Dia hanya memijat pelipisnya yang berdenyut, melihat sang istri sudah selesai mengemasi baju-bajunya, Reiner bangkit dan segera mendekati istrinya.
"Kamu jangan gila, Mel! Kamu mau mengorbankan Rachel hanya untuk keegoisan kamu?" tanya pria itu seraya merebut koper milik sang istri.
Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya mendobrak keluar. Tuduhan suaminya itu benar-benar kejam. Egois? Suaminya mengatakan semua karena keegoisannya? Bukankah ini justru keegoisan Reiner yang justru lebih mementingkan mantan kekasihnya. Hal itu hanya berputar di kepala dan hati wanita itu. Imel tidak kuat lagi untuk mengucapkan satupun kata dari bibirnya.
__ADS_1
Reiner membuang jauh koper yang sudah berisi pakaian sang istri. Pria itu memaksa Imel masuk ke dalam dekapan hangatnya. Dia yang terpancing emosi karena Imel mengatakan akan membawa Rachel pergi membuatnya menjadi pria egois.
Namun, karena kecewa pada suaminya, Imel meronta dengan kuat hingga terlepas dari dekapan Reiner. Wanita itu mengambil koper miliknya yang di buang oleh sang suami. Dia berniat untuk tetap pergi dari sana.
Reiner dengan sigap menghalangi istrinya. Pria itu kembali memeluk sang istri dengan erat. Imel berusaha melawan dengan memukul dada bidang Reiner, tetapi tidak di pedulikan oleh pria itu.
Beberapa saat meronta dan memukuli tubuh suaminya bersama air mata yang mengalir deras dari sudut matanya, Imel akhirnya menyerah. Wanita itu ikut memeluk suami yang begitu dia cintai.
Merasakan bahwa sang istri sudah bisa di kendalikan, Reiner melepaskan pelukan. Tangan besarnya menangkap wajah ayu sang istri yang masih basah karena air mata. Menatap ke dalam mata indah yang membuatnya jatuh cinta pada wanita itu, berusaha mencari apa yang tersembunyi di dalam bola mata itu.
"Bisa kita bicarakan semuanya baik-baik? Aku janji tidak akan menaikan suaraku," ujar Reiner yang kini sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Pria itu membawa sang istri untuk duduk di ranjang, menggenggam tangan sang istri agar keduanya tetap dalam kendali dan tidak sampai emosi seperti tadi.
"Bisa kamu jelaskan sedikit, tentang wanita di dalam Vidio itu. Biarkan aku meyakinkan diriku bahwa wanita itu memang bukan kamu, Sayang,"
Imel masih sesegukan, tetapi air mata sudah tidak lagi membasahi pipinya. Wanita itu kembali menatap suaminya untuk memastikan bawa sang suami memang sudah bisa menurunkan sedikit amarahnya.
"Wanita itu adalah Amel, saudara kembarku."
Bersambung...
__ADS_1